Theurbanmama

Belajar dari Kekalahan

Kamis, 05 April 2018

Setiap anak yang mengikuti suatu pertandingan atau kejuaraan pasti ingin jadi pemenang, menjadi juara satu. Saya jadi ingat, saat pertama kali Lana mengikuti kejuaraan taekwondo, ia ingin sekali menjadi pemenang, menjadi juara satu dan mendapatkan medali emas. Alhamdulillah, saat itu ia mendapat medali emas pertamanya. Namun, pada kejuaraan kedua, ia kalah. Keluar lapangan, ia menangis sesegukan, kesal kenapa bisa kalah. Sampai saat ini pun, ia masih suka sedih jika kalah.

Cerita lainnya, saya pernah menyaksikan sendiri, seorang ibu memarahi anaknya habis-habisan sampai anak itu menangis, karena kalah saat bertanding. Menurut si ibu, anaknya tidak bermain dengan baik, tidak fokus sehingga dia kalah. Kelihatan sekali kalau ibunya sangat kesal. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi juara. Namun, kadang kita lupa mengajari anak untuk menerima kekalahan.

Beberapa bulan lalu, Lana kembali mengikuti kejuaraan di Bali Open International Taekwondo Tournamen. Ia kalah di babak final, menjadi juara kedua, dan mendapatkan medali perak. Saat keluar lapangan, saya memeluk erat, ia menangis dan minta maaf karena kalah. Saya bilang, “Nggak masalah, Kakak sudah bermain dengan sangat baik.

Tak lama kemudian, sahabatnya yang saat itu juga kalah dan menangis. Lana memeluknya cukup lama. Saya tanya, "Kak, tadi lama banget meluk Taqe?” Iya Bunda, Taqe sedih karena kalah, ia gak dapat apa-apa (medali), aku bilang, ‘Taqe, tetap semangat ya. Aku juga sering kalah, tapi aku tetap semangat latihan.’”

Kejadian yang sama di kejuaraan tersebut, saat di babak semifinal, Lana menang, lawannya menangis saat masih di tengah lapangan. Lana menghampiri, memeluk dan terlihat mengatakan sesuatu. Saat saya tanya kenapa kakak tadi lama banget meluk lawannya, Lana menjawab, “Aku minta maaf karena sudah membuatnya menangis, tadi aku tendang kepalanya berkali-kali. Aku kasihan, Bun, jadi aku minta maaf. Ternyata, dia belajar berempati.

Menjadi pemenang memang suatu hal yang membanggakan, tetapi menerima kekalahan adalah proses pembelajaran untuk anak. Saya teringat ketika masih SMA, tim basket sekolah menang melawan tim basket sekolah lain. Dan saat pertandingan selesai, teman-teman di tim basket dipukuli saat perjalanan pulang. Ternyata tim lawan tidak terima karena mereka kalah. Tentunya kita sebagai orang tua tak ingin anak-anak kita kelak melakukan hal yang sama saat kalah dan melukai orang lain, bahkan terjadi tindak kekerasan. Oleh karena itu, penting sekali anak diajarkan untuk menerima kekalahan dan sebagai orang tua perlu untuk mendampingi mereka dalam menjalani proses tersebut.

 

Beberapa hal yang saya terapkan saat Lana mengalami kekalahan, baik saat kejuaraan taekwondo ataupun kegiatan lainnya:

  1. Memahami arti kekalahan. Urban mama, dapat memberikan pengertian kepada anak bahwa kita tak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Kalah bukan berarti tidak juara. Saya sering mengatakan ke Lana sebelum ia turun bertanding, “Kak, bismillah ya. Main dengan baik. Bukan memintanya menang. Bagi saya, yang terpenting ia sudah berusaha dan bermain dengan baik. Kejuaraan itu bukan masalah menang atau kalah, tapi proses dan kerja keras anak. Meski kalah, saya tetap ucapkan selamat ke Lana agar tetap semangat dan percaya diri.
  2. Meluapkan perasaan. Saat Lana kalah, ia pasti menangis. Itu wajar, ia mengekspresikan kekesalannya dengan menangis. Kadang saya membiarkan ia menangis kemudian memeluknya. Saya berusaha mendampingi. Saya kadang mengatakan, "Bunda tahu, Kakak sedih karena tadi kalah. Tapi Bunda lihat Kakak tadi mainnya bagus. Tidak apa-apa menangis, tapi tidak perlu lama-lama ya."
  3. Belajar dari kekalahan. Saat mood Lana sudah membaik, kadang kami duduk bersama membahas mengenai permainannya tadi. Kadang kami menonton berdua melihat video saat bermain, poinnya berapa, teknik bermainnya bagaimana. Saya kadang mengatakan, "Kak, tendangan Ap Chagi kamu sudah bagus, tapi lawan kamu speed-nya lebih cepat, padahal dia tendangannya dolio terus. Coba nanti tanya ke Sabeum (pelatih) ya kalau lawan aku mainnya dolio terus, aku harus bagaimana". Dari sini, ia bisa mengevaluasi kemampuannya, apa yang menjadi penyebab kekalahannya, dan membangkitkan motivasinya untuk berlatih lagi.

 

Bagaimana urban mama, ada sharing atau tips lain bagaimana mengajari anak cara menerima kekalahan saat mengikuti suatu kejuaraan atau pertandingan?

Related Tags : ,,,,
Apa Reaksi Anda ?
4 Comments
Post a Comment
You must be in to post a comment.