Theurbanmama

Kehamilan pada Ibu yang Skoliosis

Sabtu, 07 April 2018

Saat melihat si kecil yang sedang tertidur lelap, saya langsung ingat pada masa-masa kehamilan. Di tengah perasaan bahagia saat mengandungnya, ada perasaan was-was yang selalu menyelimuti. Ya, saya didiagnosis mengalami skoliosis (tulang punggung miring) sejak berusia 15 tahun. Saat itu kemiringan saya sudah mencapai 45 derajat, yang sulit diperbaiki jika hanya terapi saja, sehingga harus melalui proses operasi.

Namun, karena satu dan lain hal, orang tua tidak mengizinkan saya dioperasi. Akhirnya saya menggunakan penyangga dari dokter spesialis ortopedi. Ketidaknyamanan mengenakan penyangga itu membuat saya beralih berobat di klinik Chiropraktik.

Saat hamil Shaidan pada tahun 2015, saya tidak mengalami masalah berarti pada trimester pertama. Rasanya normal saja, sama seperti para ibu hamil lainnya. Saya tetap ke klinik chiropraktik sampai hamil empat bulan. Bagi saya pribadi, pengobatan ini cukup membantu merilekskan otot-otot yang tegang.

Ketika masuk trimester kedua, saya baru mulai merasakan nyeri punggung sampai ke area belakang leher. Saya sampai sempoyongan saat berjalan karena sakit di belakang leher. Selain mengonsumsi vitamin kalsium dari dokter kandungan dan minum susu, saya berusaha meredakan nyeri dengan menggunakan koyo. Akhirnya dokter pun merujuk agar saya berkonsultasi pada dokter spesialis ortopedi.

Saat bertemu dengan dokter ortopedi, saya dimarahi karena tidak dari dulu melakukan tindakan operasi tulang belakang, sekarang sudah telanjur hamil sehingga sulit untuk berobat. Terus terang saya merasa kesal dan marah karena dihakimi seperti itu. Saya lalu bertanya apa solusi terbaiknya. Beliau menyarankan agar saya menggunakan sabuk penyangga perut, dengan material yang berbeda dari sabuk biasa, yaitu yang ada besinya. Ternyata benar, rasanya nyaman sekali menggunakan penyangga ini dan pegal-pegal pun cukup berkurang.

Pada trimester ketiga, perut saya pun makin membesar, dan tulang punggung yang menopang tubuh saya bekerja makin keras. Tubuh pun seperti mengajak saya untuk beraktivitas fisik atau berolahraga. Saya memutuskan untuk melakukan prenatal yoga secara privat di rumah. Rasanya tubuh terasa lebih ringan setelah rutin berolahraga. Sampai sehari sebelum melahirkan pun saya masih bisa sujud sholat dengan nyaman.

Guru yoga saya, Mbak Diah Pratitasari memahami benar kondisi saya dengan skoliosis. Beliau mengajarkan gerakan-gerakan yang boleh dilakukan dan bermanfaat bagi pengidap skoliosis. Kebetulan Mbak Diah juga seorang doula, jadi setiap selesai sesi yoga, saya diberika afirmasi-afirmasi positif agar tubuh saya dan bayi bisa bekerja sama, saling melengkapi, dan saling membuat nyaman. Bagi saya, prenatal yoga ini sangan membantu dalam menjalani kehamilan dan meregangkan tulang-tulang.

Dokter kandungan menginformasikan bahwa saya harus menjalani operasi sesar saat melahirkan. Seminggu sebelum operasi, saya pun diminta berkonsultasi dengan dokter anastesi agar beliau bisa memutuskan apakah saya perlu dibius total atau cukup dengan bius lokal. Hal ini tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, saya baru tahu beratnya dampak skoliosis saat akan menjalani operasi seperti ini.

Ternyata saat hari H, dokter anastesi yang bertugas memutuskan saya tidak perlu dibius total. Walaupun skoliosis saya cukup tajam, suntikan di punggung tidak terasa sakit berkat afirmasi positif yang diberikan saat prenatal yoga. Akhirnya lahirlah Shaidan, putra pertama kami.

Jika ada yang bertanya, apakah saya kapok hamil lagi? Jawabannya pasti tidak. Hanya saja saya akan mempersiapkan kondisi tulang punggung sebelum kehamilan berikutnya dengan lebih matang, sehingga saya bisa lebih fokus saat menjalani kehamilan.

Related Tags : ,,,,
Apa Reaksi Anda ?
3 Comments
Post a Comment
You must be in to post a comment.