Memulai Perencanaan Rumah

Oleh Erlina Anastasia pada Senin, 21 Januari 2013
Seputar Expert Explains

Saat ini mungkin banyak urban Mama Papa yang sedang berencana membeli, membuat, atau merenovasi hunian. Maklumlah inilah kali pertama kita mempunyai hunian secara mandiri. Rasanya pasti semangat sekali punya rumah sendiri. Mau diapakan juga rumah itu kelak terserah kita! Wah senangnyaa!

Namun jangan salah justru banyak teman saya yang malah pusing karena bingung mau mulai dari mana. No worries Mama Papa, artikel pertama saya di The Urban Mama akan mengupas langkah-langkah apa yang sebaiknya dilakukan ketika Anda berencana membuat atau merenovasi rumah (tips membeli rumah mungkin akan dibahas di lain kesempatan ya).

1. Siapkan Budget Pembangunan
Jangan salah! Biaya membuat rumah dari nol dengan merenovasi biasanya tidak jauh beda. Malah kadang kala untuk beberapa kasus biaya renovasi rumah malah lebih besar dari membangunnya. Untuk saat ini harga per meter persegi untuk pembangunan rumah di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya minimal sebesar Rp 3.000.000,- Nah, jika urban Mama Papa berencana membuat rumah seluas 150 m² misalnya, biaya yang dibutuhkan adalah sekitar Rp
450.000.000,-

2. Hubungi Arsitek untuk Membantu Anda Mewujudkan Desain Rumah Idaman
Sama halnya ketika Mama Papa membutuhkan payung hukum atau membutuhkan bantuan pengobatan medis, seorang profesional seperti Pengacara atau Dokter adalah orang yang tepat untuk diminta jasanya.

Profesi Arsitek di Indonesia mungkin belum sepopuler profesi lain, namun kini hal ini berkembang ke arah yang lebih baik. Semakin banyak yang secara sadar sudah memanfaatkan jasa Arsitek saat membutuhkan bantuan dalam proses desain (khususnya ketika membangun atau merenovasi rumah). Urban Mama Papa dapat mengakses website IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) yang cabangnya tersebar di hampir seluruh propinsi di Indonesia. IAI Jakarta dapat diakses di www.iai-jakarta.org, sedangkan IAI Nasional dapat diakses di www.iai.or.id.

Siapapun Arsitek yang Anda minta jasanya sebaiknya ‘nyambung’ dengan Anda. Proses desain adalah proses yang cukup panjang dan sepanjang proses itulah Arsitek bekerja menuangkan ide dan mencoba menerjemahkannya dalam gambar perancangan juga melakukan pengawasan di lapangan. So, hargailah profesi ini, jangan terbujuk iklan atau fee murah meriah saja atau pasrah menyerahkan desain pembangunan rumah pada tukang bangunan langganan Anda tanpa didampingi Arsitek. Urban Mama Papa dapat memperoleh gambaran mengenai fee arsitek di website resmi IAI.

3. Siapkan Dokumen Perizinan Pembangunan Rumah
Membangun rumah atau melaksanakan renovasi besar tentu saja memerlukan surat izin yang harus diurus. Kalau Anda tinggal di apartemen, konsultasikan dengan pengelola setempat mengenai hal ini.

4. Berdiskusilah Panjang Lebar dengan Arsitek
Jangan ragu untuk berdiskusi dengan arsitek Anda mengenai segala hal yang Anda inginkan demi terwujudnya hunian idaman.

Apa saja ruang yang dibutuhkan, susun rencana anggaran biaya (RAB) yang disesuakan dengan budget di poin 1 tadi, kapan waktu yang tepat untuk memulai proyek dan kapan pula tenggat waktu proyek harus selesai, apa pembangunan dapat dilaksanakan secara bertahap, sampai style atau garis desain yang ingin Anda terapkan pada hunian baik dari segi arsitektur maupun sentuhan interiornya kelak. Kendali anggaran ada di tangan Anda. Patuhi angka-angka yang tertulis di RAB (Rencana Anggaran Biaya) tadi. Sebagai informasi, RAB berisi perhitungan detail mengenai harga seluruh elemen pekerjaan dari mulai pembersihan lahan saat akan memulai pembangunan sampai penentuan jenis penutup atap rumah, juga mengenai biaya pekerja di lapangan dan lain-lain. Sekali dilanggar, anggaran bisa bengkak.

5. Kumpulkan Berbagai Referensi
Yuk mulai kumpulkan berbagai referensi yang menunjang ide Anda, entah itu dari website, majalah, katalog, anything! Hal ini bisa membantu banyak loh. Buku-buku mengenai Arsitektur maupun Interior lokal maupun import kini mudah didapatkan di toko-toko buku. Di internet juga bertebaran website maupun blog yang membahas hal ini. Jangan lupa kita hidup dan tinggal di negara tropis yang notabene berbeda penerapan desainnya dengan negara di iklim lain. Dengan membuat desain yang kontekstual, maintenance rumah bisa diminimalkan.

Selamat mewujudkan rumah idaman, urban Mama Papa!

16 Komentar
Ferli
Ferli November 14, 2014 12:08 pm

kami lagi ada rencana buat bangun rumah nih mom, kumpulan design rumah atau mau seperti apa rumahnya kurang lebih sudah banyak terkumpul, yang belum terkumpul itu duitnya hehehe

btw maaf jika melenceng, jadi tanah kami itu di jadikan tempat sampah oleh warga sekitar yg tdk bertanggungjawab, sudah menggunung, sudah lapor RT/RW yo masih tetap begitu, di pagar kayu *sementara* tetap masih nekat, sekali waktu ditungguin sama bapak mertua sampe malem dia nongkrong disitu, ga ada yang berani buang sampah disana.

Pertanyaannya, apakan nanti akan berimbas dengan kualitas air yang akan kami pakai nanti jika sudah kami bangun rumah?
sekali lagi maaf jika OOT

Seymour Magabe
Seymour Magabe September 30, 2013 1:45 pm

mbak, sekalian dong bikin artikel tentang pedoman praktis bikin budgetnya :)

d14N May 13, 2013 3:11 pm

nice sharing mba.. kasus aku lain lagi mba , saat ini kami berencana untuk membeli rumah baru, krn rumah yg kami tempati skrg dr segi lingkungan mulai berasa ga nyaman dari segi lingkungannya, kepengen perubahan yg lebih baik berencana ingin membeli rumah baru , lokasinya di lihat dr brosur developer dan survey suami saya sepertinya lahan/ tanah nya timbunan hutan bakau, jarak perumahan nantinya 1 km dr laut. saya tinggal dibatam yg memang dikelilingi laut. saat ini disekitar perumahan baru yang kami ingini itu banyak dibangun perumahan,pasar, ruko,kios, dll krn katanya 3-4 thn kedepan akan dibangun jalan raya untuk akses ke pusat kota batam , kami mempertimbangkan program jangka panjang itu,krn klw dihitung msh termasuk lowprice dibanding lokasi lainnya. Nah mbaaa kami masih ragu memutuskan mengingat lahan nya adalah timbunan rawa bakau, sebenernya lahan yg bagus u/ membangun rumah itu lahan yang sperti apa ? terimakasih mba atas jawabannya

Erlina Anastasia
Erlina Anastasia February 2, 2013 12:24 pm

Hallo @eka_sari. Harga per meter persegi ketika akan membangun rumah sebenarnya dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya jenis struktur yang digunakan (misalnya jenis pondasi, penggunaan besi, metoda konstruksi plat lantai), jenis dan pilihan material (dari mulai penutup atap sampai penutup dinding serta lantai rumah, lokasi rumah (jauh atau dekat dari penyuplai material, di dalam atau di luar cluster perumahan, sampai keamanan lingkungan setempat), dan masih banyak lagi. Semua hal tersebut pada akhirnya akan berkontribusi mempengaruhi harga pembangunan per meter persegi. Jadi harga Rp 5.000.000,-/m2 akan sangat relatif...di satu pihak bisa mewah, namun mungkin di pihak lain harga tersebut tergolong biasa saja. Sebaiknya tidak selalu terpaku pada angka akhir, namun tentukan saja perimeternya dan sesuaikan dengan kebutuhan, keinginan, dan juga selera masing-masing (siapkan RAB yang detil). Jadi harga minimal membangun rumah di area Jakarta dan sekitarnya sebesar Rp 3.000.000,- yang saya sampaikan di artikel juga bukan merupakan angka mati ya, tapi bisa dijadikan acuan. Semoga penjelasan saya cukup membantu....

eka sari
eka sari January 31, 2013 8:18 am

pas banget mba artikelnya.. makasih yaa.. kebetulan mau bangun ni cuma masih bingung, belum ada arsitek yg klop yaa, nanti coba liat lewat webnya IAI.. btw mba kl permeter kena 5jt, specnya menengah atau udah bagus ya? thanks ya ;)

 

Artikel Terbaru
Senin, 09 November 2020 (By Expert)

Mengenal Lebih Dekat Rahasia Manfaat BPJS Sebagai Asuransi Proteksi Kita

Jumat, 25 Desember 2020

6 Keuntungan Tidak Punya Pohon Natal di Rumah

Kamis, 24 Desember 2020

Rahasia kecantikan Alami dari THE FACE SHOP YEHWADAM REVITALIZING

Rabu, 23 Desember 2020

Lentera Lyshus

Selasa, 22 Desember 2020

Different Story in Every Parenting Style

Senin, 21 Desember 2020

Menurut Kamu, Bagaimana?

Jumat, 18 Desember 2020

Santa's Belt Macarons

Selasa, 15 Desember 2020

Christmas Tree Brownies