Perkembangan Kognitif Anak (3)

Oleh Anna SurtiNina pada Senin, 21 September 2020
Seputar Expert Explains
Perkembangan Kognitif Anak (3)

Banyak orangtua mungkin bingung ketika anak marah saat minumnya dipindah dari botol ke gelas atau sebaliknya. Di usia 2-7 tahun, anak juga tampak mudah sekali ditipu dengan perbedaan bentuk. Anak seusia ini juga sulit sekali mengubah kebiasaannya. Kenapa ya? Coba dicermati yuk.

Pada tulisan sebelumnya, kita sudah memahami perkembangan kognitif pada anak 0-2 tahun (tahap Sensorimotor) dan 2-7 tahun (tahap Preoperational). Tahap Preoperational telah dijelaskan sedikit keunikannya. Tulisan ini menjelaskan keunikan lain dari tahap Preoperational, yaitu lack of conservation.

Lack of conservation, tepatnya lack the ability to understand conservation atau kurang memahami konservasi. Konservasi adalah kemampuan untuk memahami bahwa jumlah suatu material tetap sama walaupun penampilannya berubah. Anak 2-7 tahun masih kesulitan memahami bahwa suatu benda tetap sama, ketika penampilannya diubah. Perhatikan gambar berikut:

Contoh 1 – Number
Ketika koin dijajarkan dengan jarak yang sama di baris atas dan bawah, anak paham bahwa jumlah koin di kedua baris tersebut sama. Namun ketika koin di baris bawah dirapatkan, anak mengira jumlah koin di baris atas lebih banyak dibandingkan di baris bawah. Atau sebaliknya pada gambar di bawah ini, ketika koin di baris bawah direnggangkan, anak secara intuitif mengira koin di baris bawah lebih banyak dibanding di atasnya.

Contoh 2 – Mass
Saat 2 lilin malam sama besar dibentuk bulatan, anak tahu bahwa kedua lilin malam tersebut sama besar. Namun ketika lilin malam sebelah kanan dibentuk silinder seperti sosis, anak mengira bentuk sosis lebih besar.

Contoh 3 – Liquid
Dua gelas berisi air sama banyak dijajarkan, dan anak tahu volumenya sama. Namun ketika gelas di sebelah kanan dipindah isinya ke mangkok, walaupun dipindah di depan anak, anak mengira bahwa air di gelas lebih banyak karena lebih tinggi. Inilah yang membuat anak protes ketika air yang ada di botolnya tiba-tiba dipindah ke gelas, karena anak mengira isinya berkurang.

Sebaliknya, jika air di gelasnya dipindah ke botol sempit yang tinggi seperti gambar ini, anak mungkin akan memilih minum dari botol karena menganggap botol berisi lebih banyak.

Contoh 4 – Weight
Sama seperti contoh 2, ada 2 gumpalan lilin ditimbang dan diperlihatkan beratnya sama persis. Ketika salah satu gumpalan tersebut diubah bentuknya menjadi sosis, anak akan bingung ketika ditimbang ternyata beratnya sama, karena bagi anak sosis harusnya lebih berat.

Karena lack of conservation, anak mengira bahwa perubahan sesuatu artinya betul-betul berubah total. Contohnya, kalau anak laki-laki memakai baju perempuan, dia mengira dirinya berubah menjadi anak perempuan, dia belum dapat memahami bahwa dirinya adalah tetap anak laki-laki, hanya bajunya saja yang berubah. Di sisi lain, anak sepertinya sangat tidak mau berubah dari kebiasaannya. Contohnya anak tak mau susunan baloknya diubah karena menurutnya akan mengubah semuanya. Atau kalau ia mempunyai kebiasaan mandi di ember, membingungkan sekali baginya jika harus mandi dengan guyuran shower. Dengan begitu, mungkin saja ia bersikeras menolak mandi ketika menginap di hotel karena cara mandinya berbeda.

Lalu bagaimana? Haruskah semuanya dibuat tetap seperti sebelumnya? Bukan begitu caranya. Justru kalau anak diperkenalkan pada berbagai perubahan, dia bisa belajar lebih banyak. Tak perlu khawatir. Tunjukkan saja proses perubahannya secara berulangkali sehingga anak lebih mengerti. Kalau sudah ditunjukkan berulangkali dan anak belum juga mengerti, inilah tugas bagi Anda sebagai orangtuanya untuk memahaminya.

Akibat masih kurang memahami perubahan, anak juga kurang paham ketika ditanya, “Bagaimana kalau...,” karena ia belum bisa memprediksi apa yang terjadi jika sesuatu berubah. Oleh karena itu ketika akan menasehati anak, akan sulit meminta dia memperkirakan apa yang terjadi. Misalnya, “Kalau temanmu dipukul, dia akan merasa apa?” Kalaupun dia menjawab dengan benar, Piaget memperkirakan bahwa itu bisa saja karena dia sudah hapal dengan kalimat Anda, belum betul-betul memahami perubahan apa saja yang terjadi pada diri temannya.

Ada beberapa keunikan lain pada anak 2-7 tahun, yaitu egocentrism, animism, dan lack the capacity of classification. Kita bahas lebih lanjut di tulisan berikut ya.

Anna SurtiNina
Anna SurtiNina

Family & child psychologist di Klinik Terpadu, Fakultas Psikologi UI, Depok (021-78881150) dan Medicare Clinic, Menara Kadin, Kuningan, Jaksel (021-5274556)

9 Komentar
Intan Rastini
Intan Rastini March 19, 2018 9:15 am

karena belum bisa membayangkan "bagaimana kalau..." berarti juga belum bisa berempati ya?

yofan-asher January 13, 2015 3:37 pm

wah..info yang menarik..jadi tau knp si yofan keukeuh kalo minum air putih harus pake "gelas mas yofan"..ganti gelas aja akan merengek-rengek ga karuan..thanks infonya mbak Nina

Cindy Vania
Cindy Vania January 7, 2015 4:46 pm

Artikel mbak Nina salah satu yang paling ditunggu2 :)
Bener deh,kadang anak2 itu suka marah kalau barang2nya dipindah tempat atau ya masalah mandi pake gayung/shower :D

Ditunggu artikel selanjutnya ya mbak Nina.

Siska Knoch
Siska Knoch January 7, 2015 3:05 pm

Selalu suka tulisannya mba nina, jelas tanpa menggurui.
jadi ga sabar baca artikel selanjutnya.

shinta lestari
shinta lestari January 5, 2015 2:44 pm

wah info yang sangat mencerahkan!! jadi ngerti sekarang ya kenapa kalo apapun itu mesti sesuai dengan yang dia tau. untungnya gue selalu ngajarin untuk berubah2, biar mereka tau.. ternyata emang mesti diajarin ya?? good to know i'm in the right track!