Membuat Perpustakaan Keluarga

Oleh Yulia yulijo pada Sabtu, 24 Agustus 2013
Seputar Tips

Kalau mama dan keluarga hobi membaca (serta juga hobi membeli buku), tak heran jika kemudian jumlah koleksi buku yang dimiliki di rumah pun meningkat dan terus bertambah. Apalagi kalau susah menahan diri untuk tidak membeli buku seperti saya.

Jika sudah seperti ini, tak ada salahnya membuat sebuah perpustakaan keluarga di rumah. Tapi buat para mama yang koleksi bukunya masih sedikit jangan khawatir lho. Membuat perpustakaan keluarga tetap bisa terwujud asalkan ada niat kuat. Nantinya proses penambahan koleksi perpustakaan bisa terus bertambah sedikit demi sedikit.

Dengan kegiatan kreatif dan perpustakaan sederhana, mama pun bisa turut serta menambah wawasan dan ilmu pengetahuan untuk anggota keluarga dan juga kerabat atau saudara yang kerap bertamu ke rumah.

Saya baru saja menikah, dan belum punya rumah sendiri yang memiliki perpustakaan yang lengkap. Tapi berikut adalah tips beberapa langkah untuk membuat perpustakaan keluarga. Pernah saya terapkan di rumah orangtua saya yang terkadang diserbu pasukan sepupu.


Berikut ini beberapa hal dasar untuk membuat perpustakaan keluarga:

1. Merancang ide. Mulai memikirkan di ruang mana nantinya perpustakaan tersebut berada. Jika tidak tersedia ruangan khusus pun, mama tetap bisa memanfaatkan sudut-sudut lain untuk menyimpan koleksi buku.

2. Merinci sarana dan perlengkapan apa saja yang dibutuhkan. Hal ini meliputi rak, lemari buku, meja, kursi, reading nook, dan sarana lain yang memang dibutuhkan. Jika ternyata di rumah memiliki area yang memadai untuk meletakkan rak baru, maka mulailah merancang rak seperti apa yang dibutuhkan, apakah membeli jadi atau memesan dengan desain khusus.

3. Siapa sasaran dari perpustakaan keluarga ini? Tentu saja semua anggota keluarga dengan minat dan hobi masing-masing yang bisa saja jauh berbeda. Untuk itu koleksi buku-bukunya pasti juga berbeda jauh dari segi subjek atau isinya. Nah hal ini berkaitan dengan penempatan buku-buku bacaan di rak.

Kalau mama pernah berkunjung dan memperhatikan label buku di perpustakaan, label buku dan lokasinya itu tergantung pada isi buku tersebut. Istilahnya "diklasifikasikan" ke dalam subjeknya masing-masing. Klasifikasi ini biasanya menggunakan sistem penomoran tertentu berdasarkan standar internasional atau kebijakan perpustakaan itu sendiri.

Tapi kalau untuk perpustakaan keluarga yang sederhana dan koleksi di bawah 100 eksemplar sih tidak wajib pakai label. Kalau mau bisa pakai stempel pribadi saja. Intinya sih tidak menyulitkan dan tentu semua bergantung pada kebutuhan keluarga.

Penyusunan buku di rumah yang paling sederhana bisa berdasarkan tingkatan rak saja. Misalnya dari 4 tingkat rak buku, koleksi buku memasak ada di tingkat 2, koleksi otomotif di tingkat 3, sementara untuk koleksi anak ada di paling bawah rak supaya lebih mudah dijangkau.

Nah, jika sudah mulai memikirkan dan membuat rancangan hal mendasar di atas, mari masuk ke tahap yang lebih dalam lagi, yaitu sarana fisik:

1. Ruang perpustakaan

Meskipun ruangannya kecil atau hanya berupa rak di sudut, kita tetap sebut saja sebagai perpustakaan. Pilihlah tempat untuk meletakkan koleksi di tempat yang tidak lembap, tidak terkena air dan juga sinar matahari langsung. Hal ini penting bagi kelangsungan buku-buku nantinya agar tidak mudah rusak atau terkena jamur. Dan jangan lupa pilihlah tempat yang mudah dijangkau oleh seluruh anggota keluarga.

2. Rak buku

Jika ingin mendesain rak sendiri, pastikan untuk mengetahui jenis dan bahan dasar yang akan digunakan untuk membuat rak tersebut sehingga bisa mengetahui rincian harganya. Tentukan juga apakah akan membuat rak sendiri atau menyerahkan desain tersebut ke tukang kayu.

Model rak seperti apa yang dibutuhkan? Minimalis sesuai gaya rumah? Atau kontemporer? Rajin-rajinlah untuk browsing desain rak di majalah-majalah dan buku interior serta internet. Ini akan sangat membantu untuk mencari tahu kebutuhan dan keinginan mama yang tentunya juga disesuaikan dengan budget yang dimiliki.


Jika sudah, pastikan dan ukur kembali desain rak dengan ruang yang tersedia agar tidak terjadi salah penempatan atau malah membuat ruangan menjadi sempit dan tidak nyaman.


Berdasarkan pengalaman pahit saya, karena kurang memperhatikan rincian bersama tukang kayu, ukuran rak yang saya pesan melesat jauh dari apa yang dirancang. Hasilnya malah jadi tidak muat di dalam ruangan! Jadi pastikan sedetail mungkin jika ingin melakukan pemesanan rak.


Bagaimana jika tidak ada ruangan khusus atau tidak ada budget untuk rak buku? Tenang, meskipun menggunakan sarana seadanya, sebuah perpustakaan keluarga tetap bisa bermanfaat asalkan si pemiliknya kreatif dan mau berusaha.


Untuk pengganti rak, kita bisa memanfaatkan sarana lain untuk meletakkan koleksi buku bacaan dengan aman. Misalnya menggunakan keranjang bekas parsel maupun kotak bekas. Letakkan di tempat yang jauh dari jangkauan hewan pengerat. Hindari juga meletakkan buku secara langsung di lantai karena selain lembap, menumpuk buku (dan bukannya menjajarkan di rak) bisa lebih cepat membuat jilid buku lepas dan rusak.

 



Nah, jika sudah mulai pada tahap ini bisa dikatakan perpustakaan keluarga sudah berjalan dan sudah bisa dimanfaatkan.


^^^^^^^^^^^


Sebuah perpustakaan tidak hanya terdiri dari koleksi buku saja, tetapi juga kegiatan kreatif di dalamnya yang bisa merangsang minat baca.

Lengkapi perpustakaan keluarga  dengan mainan-mainan atau kegiatan seperti membaca buku bersama dan mendongeng. Tidak perlu mainan mahal, tetapi mainan sederhana seperti misalnya puzzle, kartu bergambar, atau mainan tradisional seperti congklak dan bekel. Jika ingin lebih hemat, mainan tersebut juga bisa didapat di bazar buku dengan harga yang lebih murah.




Ajak anggota keluarga atau sanak saudara lain untuk ikut ambil bagian dari menyebarkan virus membaca. Tidak perlu dipaksa, tapi cukup biarkan mereka melihat dan merasakan sendiri manfaatnya.


Bagaimana? Mudah atau sulit?

Kalau punya tips lain, mari dibagi bersama dan selamat bersantai di perpustakaan bersama keluarga.

Kategori Terkait


Tag Terkait

15 Komentar
Yulia yulijo
Yulia yulijo February 10, 2016 9:25 pm

@ Ummu Hanifa: kalau menurut saya untuk di rumah dan sasarannya anak2, lebih baik pakai label warna saja. Supaya anak2 mencarinya juga mudah dan nantinya bisa membantu membereskan sendiri dengan hanya melihat kategori warnanya. Jadi di awal dibuat aturan dengan menempelkan warna pada punggung buku. Misalnya warna kuning untuk buku2 tentang lingkungan, warna hijau untuk buku2 tentang agama, dst bun.

ummuhanifa October 13, 2015 12:52 am

mbak, salam kenal ya..
saya lagi pengen menata buku2 di rumah yang jumlahnya kisaran 500-700 buku (ato lebih)..
pengen kasih label ato penomoran yang simpel untuk anak2 di rumah. boleh minta sarannya gak baiknya penomoran n penataannya seperti apa?
makasih yaa..:)

Ummu Alfathoni January 12, 2015 5:16 pm

Terimakasih mom sharingnya, alhamdulillah mom sebelum menikah saya juga sudah mempunyai perpustakaan sendiri.. Mama saya membelikan rak khusus untuk buku buku saya... dan sekarang pada saat menikah, saya pun mempunyai rak khusus untuk koleksi buku buku kami sekeluarga :)

arum puri suryandari October 29, 2013 5:30 pm

alhamdulillah, kami sdh menerapkan di rumah, dan memang sangat membantu, karena jika dibuat perpustakaan mini, buku-buku koleksi kita tdk akan tercecer kemana-mana, apalagi saat diperlukan :)

Yulia yulijo
Yulia yulijo August 28, 2013 8:44 am

@eno_bunda daffa Ayoo bikin tulisan juga ttg Daffa :p
@Aida Untuk penomoran buku atau klasifikasi perpustakaan memang ada beberapa sistem, bisa DDC seperti yg bunda Aida bilang, bisa UDC (Universal Decimal Classification), ada lagi LCC (Library of Congress Classification System). Yang paling umum (kalo menurut saya sih) memang DDC. Tapi saran saya lagi kalo koleksi bukunya masih 100-200an eksemplar ga usah pake sistem penomoran juga ga masalah hehe balik lagi ke kebutuhan keluarga masing-masing. Yang penting enjoy saja lah dulu sama perpustakaan mininya ;)