Theurbanmama

Perlukah KB?

Suatu ketika di ruang praktik, "Halo Bu, gimana kabarnya masih lancarkah menyusuinya?" Sapa saya pada seorang ibu yang 5 bulan lalu baru saja melahirkan anak pertama.
"Hmmm... begini Dok, saya ternyata hamil lagi, saya pikir kalau menyusui tidak akan hamil. Tapi gimana ya dok, anak saya masih menyusui, bahaya gak ya untuk bayi saya?"

Ilustrasi di atas sekelumit keseharian yang sering saya temui di ruang praktik, beberapa diantaranya baru melahirkan dengan sesar, atau juga anak kedua atau bahkan keempat. Jika ditanya mengapa mereka tidak KB atau menunda kehamilan berikutnya, sebagian diantara mereka menjawab takut memakai kontrasepsi, takut gemuk takut ASI tidak keluar, takut sakit, KB bisa gagal, tidak diizinkan suami, dan alasan lainnya.

Dahulu pemerintah sangat giat menggalakkan program keluarga berencana, sehingga hal ini seolah menjadi sesuatu yang dipaksakan. Namun sejujurnya keluarga berencana adalah hak dan kepentingan ibu sendiri.

Konsep keluarga berencana adalah menjarangkan kelahiran, merencanakan kehamilan, menyiapkan persalinan dan menyusui, dan asuhan yang berkualitas. Suatu episode kehamilan, melahirkan dan menyusui melibatkan rangkaian kerja berbagai sistem tubuh yang luar biasa dan seringkali menguras energi yang tinggi dan tak jarang menguras cadangan gizi dalam tubuh ibu. Hal ini tentunya akan berdampak pada kondisi kesehatan di masa yang akan datang baik bagi ibu maupun janin yang dikandungnya.

Sadarilah bahwa tubuh kita memerlukan waktu beristirahat untuk meregenerasi sel-sel dan memperbaiki kerusakan yang terjadi, sebagaimana tanaman pun setiap setelah habis panen, maka diperlukan waktu untuk menggemburkan kembali tanah agar siap ditanam kembali. Di sinilah perlunya membuat jarak, mengistirahatkan tubuh, yaitu dengan mengatur kelahiran atau berKB.

Setiap anak yang berkualitas akan tumbuh dari rahim ibu yang sehat, dan mendapat asuhan dari ibu yang menjalani kehidupannya dengan sehat baik psikis maupun fisik. Anda harus sehat, siap dan bahagia setiap menjalani kehamilan, melahirkan dan menyusui. Hmm berat bukan? Jika pada ilustrasi di atas, anda masih punya bayi yang menyusu siang dan malam, lalu Anda hamil kembali, saya jamin pastilah akan sangat berat. Maka keputusan untuk menunda atau mengatur kapan sebaiknya hamil sepenuhnya ada di tangan Anda.

Berbagai Macam Metode Kontrasepsi
Jika Masih Menyusui, jangan khawatir. ASI Anda tidak berkurang!

1. Preparat hormonal progestogen
Sediaan bisa dalam bentuk suntik tiap 3 bulan atau minipil yang diminum tiap hari. Cara kerja hormon progestogen adalah menghambat keluarnya sel telur sementara waktu sehingga tidak akan terjadi kehamilan. Efek yang sering adalah tidak haid atau haid sedikit, hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena memang dinding rahim menjadi tipis sehingga tidak ada endometrium yang luruh. Kadang ada yang membayangkan darah kotornya tidak keluar, hal ini tentunya tidak tepat. Progestogen sedikit menarik cairan, tapi hal ini bukan menyebabkan ibu menjadi gemuk. Seringkali setelah menyusui kita makan sangat banyak dan tidak berolahraga, tentulah kondisi ini yang menjadi sebab kita bertambah gemuk.

2. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau Intra Uterine Device (IUD)
Dikenal juga dengan spiral, walaupun hal ini kurang tepat mengingat bentuknya bukanlah spiral tetapi T. Ada beberapa jenis seperti CuT, Nov* T yang membedakan adalah masa kadaluarsa, dan ada yang menggunakan hormon yaitu Miren*. Prinsip kerjanya lokal di rahim. AKDR ini bekerja sebagai benda asing yang menyebabkan rahim mengeluarkan zat peradangan sehingga menyebabkan rahim tidak bisa menerima kehamilan, mengentalkan lender serviks sehingga menghambat sperma masuk. Kita tetap mengalami haid sesuai siklus hormon. Efek yang sering adalah haid biasanya lebih lama dan banyak, sesekali mengalami flek. Namun hal ini tidak berbahaya, cek lah ke dokter jika mengalami hal ini atau merasa nyeri. Perhatikan masa kadaluarsa agar Anda mengganti AKDR sebelum kadaluarsa. Rajin kontrol AKDR akan mengurangi efek yang tidak diinginkan.

3. Bagaimana dengan kondom? Sistem kalender atau pantang berkala?
Semua hal diatas memerlukan komitmen sangat tinggi dari suami dan seringkali tidak berhasil untuk jangka panjang. Kondom cukup baik, namun yang menyebabkan gagal adalah telat mengeluarkan alat kelamin setelah ejakulasi, hal ini membuat mani sebagian tumpah dari tepi kondom sehingga tidak efektif. Sistem kalender sangat sulit dijalankan jika belum haid dan siklus yang tidak teratur. Pantang berkala... hmmm jangan deh, para suami sering telat. Ingat 1 cc ejakulat saja ada 20-40 juta sperma yang siap membuahi.

4. Bagaimana dengan ASI Ekslusif untuk KB?
Syaratnya bayi menyusui langsung pada ibu, bukan ekslusif pompa! Anda tidak haid dan maksimal proteksi hanya 6 bulan saja.

Tips memilih Metode KB

Demikian sedikit renungan bagi kita kaum ibu, jika bukan kita yang mengatur diri kita untuk sehat baik fisik maupun psikis melalui berbagai siklus reproduksi dan mengasuh anak kita dengan baik, siapa lagi? Jadi jangan ragu berKB!

Related Tags : ,,
Apa Reaksi Anda ?
34 Comments
Post a Comment
You must be in to post a comment.