Bagi ibu bekerja seperti saya, masa-masa menjelang Lebaran menjadi masa yang paling mendebarkan sepanjang tahun. Pemicunya apalagi kalau bukan masalah ART yang mudik, harap-harap cemas ART akan balik lagi atau tidak, dan bagaimana pontang-panting mengurus rumah tanpa ART.
Ini hal yang luar biasa! Sebagai ibu perah, yang pertama kali 'diributkan' kalau mendapat surat tugas keluar kantor adalah mencari kulkas untuk menyimpan ASI hasil perah.
Biasanya kami sering foto sendiri, tapi sekarang foto studio mungkin bisa jadi pengalaman yang menarik. Untuk kostum saya hanya memakai yang ada di rumah dan ada satu properti "pesawat ala jaman dulu" khusus saya buat untuk Irsyad dengan bentuk yang sederhana.
Buku ini wajib dimiliki oleh urban Mama Papa yang tertarik dengan food photography. Tidak usah bingung jika ingin memulainya sekarang juga. Baca buku ini lalu ambil kamera. Seperti kata mereka di buku ini, just shoot and have fun. Style happens!
Malam pertama, saya nyaris tidak bisa tidur gara-gara beberapa kali terbangun mendengar suara angin yang menderu-deru. Saya takut tenda kami roboh, atau hujan deras yang akan membuat kami basah kuyup!
Papap (ayah) saya bilang ingin menyumbangkan sebuah nama. Mendengar Pap mau sumbang nama, ibu mertua saya juga menyatakan ingin menyumbang nama untuk cucu pertamanya. Satu nama dari saya, suami, papap, mertua, dan family name. Lima nama! Wah kebanyakan kalau begitu caranya.