Bermain dengan Anak Layaknya Seorang Play Therapist

Oleh Febi Purnamasari pada Selasa, 16 April 2019
Seputar Our Stories
Bermain dengan Anak Layaknya Seorang Play Therapist

Saya sempat mengira kegiatan bermain sekadar hiburan bagi anak-anak. Bahkan, dulu saya mendorong kedua buah hati (2 tahun dan 3,5 tahun) untuk lebih sering mengikuti permainan terstruktur ketimbang bermain bebas. Permainan terstruktur bersifat terencana dan dilakukan di waktu dan tempat yang ditentukan. Biasanya, permainan terstruktur dipimpin oleh orang dewasa.

Maksud saya menyuguhkan lebih banyak permainan terstruktur sih agar kegiatan bermain lebih terarah sesuai perkembangan mereka. Ada kalanya mereka menikmati permainan terstruktur yang saya suguhkan. Tapi di waktu lain, keduanya menjadi tidak tertarik. Sampai akhirnya, saya menyadari bahwa manfaat bermain justru lebih optimal ketika anak menentukan sendiri permainan yang ia kehendaki, entah itu permainan terstruktur maupun free play. Saya mempelajari hal ini ketika mengikuti salah satu kursus online metode pendidikan Montessori di Sunshine Teachers’ Training.

Dalam salah satu presentasi, sang mentor, Fransiska Dewi, menjelaskan bahwa kegiatan bermain merupakan sesuatu yang menyenangkan karena anak menyukainya, merasa rileks, dan memiliki kendali. Saat bermain, anak tidak ada tekanan untuk mengikuti aturan tertentu. Dengan begitu, kegiatan bermain semestinya sesuatu yang dipilih oleh individu dan sesuatu yang sangat menyenangkan. Wajah anak yang rileks dan tenang saat bermain menunjukkan ia sangat nyaman melakukannya.

 

Anak menuai banyak manfaat lewat bermain

Lantas, kenapa anak senang bermain? Lewat bermain, anak memperoleh rasa penguasaan juga kompetensi yang membantunya menghadapi dunia. Selain itu, ketika melakukan free play, anak memiliki kebebasan sehingga tidak harus berkompetisi dengan orang lain dengan cara tertentu dan dalam waktu tertentu. Kegiatan bermain yang dimaksud mencakup bermain pura-pura (pretend play), menyusun balok, blok, atau Lego, kejar-kejaran, bercanda sembari bergulat di tempat tidur, melompat-lompat, bermain air, dan masih banyak lagi.

Ketika bermain secara berkualitas, anak-anak:

  • mungkin bermain sendiri, bersama-sama, atau berdampingan saja dengan orang lain;
  • terlibat aktif untuk melakukan dan menikmati proses daripada menciptakan produk akhirnya;
  • melakukan sesuatu yang telah ia pilih sehingga tidak merasa ada keharusan untuk mengikuti aturan permainan yang ada;
  • mengatur ulang kehidupan mereka. Artinya, anak-anak menjadi damai lewat bermain karena menalar perubahan yang terjadi dalam hidup mereka;
  • melatih keterampilan yang sudah mereka kuasai;
  • melatih masa depan juga merenungkan masa lalu mereka;
  • menjadi kreatif dan imajinatif;
  • dapat mengorganisasi pembelajaran untuk diri mereka sendiri;
  • mengeksplorasi dan memiliki kendali atas pikiran, perasaan, dan tubuh mereka dalam lingkungan bermain yang aman.

Kegiatan bermain ternyata sangat penting dan memberikan manfaat besar bagi kecerdasan intelektual dan emosi buah hati ya, Ma. Terlebih, banyak pakar yang menegaskan bahwa kegiatan bermain adalah hal utama dalam kehidupan seorang anak. Melalui bermain, anak belajar keterampilan untuk bertahan hidup dan menemukan beberapa pola membingungkan di dunia tempat ia dilahirkan.

Untuk jangka panjang, kegiatan bermain dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan unik manusia. Seperti hal yang kita tahu, teknologi semakin berkembang pesat saja dan banyak pekerjaan yang kini tergantikan oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kai Fu Lee, pemodal ventura asal Taiwan yang sudah lebih dari tiga dekade berkecimpung di dunia AI, mengatakan, “Ada empat hal yang tidak dapat dilakukan oleh AI sebaik manusia: kreativitas, ketangkasan, kasih sayang, dan kompleksitas.”

Selain itu, menurut Lee, empati adalah hal terpenting dan kita memiliki tanggung jawab untuk menanamkannya pada anak-anak. Nilai-nilai yang disebutkan tentu saja bisa anak dapatkan lewat bermain. Jadi, kita bisa simpulkan, kesempatan bermain yang seluas-luasnya dapat menjadi bekal anak untuk sukses bertahan hidup di masa depan.

Bermainlah dengan anak jika ingin mengenalnya lebih jauh

Bahkan, sekarang kegiatan bermain menjadi salah satu terapi perkembangan anak, lho. Namanya, play therapy. Menurut play therapist Sarah Falconer dalam tayangan yang disusun Association for Play Therapy, terapi bermain adalah model terapi yang digunakan pada anak untuk mengembangkan kemampuan komunikasi pada situasi terapi. Dengan begitu, anak bisa mengekspresikan kebutuhan, keinginan, harapan, dan perasaannya dengan cara yang sesuai dengan perkembangannya. Dengan anak terlibat dalam kegiatan bermain yang ia pilih, play therapist dapat memahami lebih baik, mengindetifikasi, dan menyelesaikan berbagai macam perilaku emosional juga isu perkembangan lainnya.

Play therapists lainnya dalam video Association for Play Therapy mengungkapkan, bahasa anak usia dini tidak mengimbangi perkembangan kognitifnya. Bermain pun menjadi bahasa dan cara anak berkomunikasi layaknya orang dewasa menggunakan kata-kata.

“Bermain adalah cara anak-anak berkomunikasi dengan orang dewasa. Khususnya bagi mereka yang belum bisa menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan atau pengalaman mereka. Tapi melalui bermain, anak-anak bisa memberimu pandangan mengenai apa yang terjadi pada mereka,” ungkap Mariette Hanlon, LCSW, seorang play therapist.

Selain itu, dari sudut pandang play therapy, kegiatan bermain memberikan manfaat sebagai berikut pada anak.

  • Mendorong komunikasi yang terbuka dan sukarela.
  • Membangun rasa percaya dan penguasaan.
  • Memelihara pembelajaran dan perilaku yang dapat diterima.
  • Meregulasi emosi.
  • Mengurangi stres.
  • Mendorong pemecahan masalah secara kreatif.
  • Meningkatkan harga diri dan jiwa anak.

Lantas, bagaimana cara kerja play therapy ini?

Terapis menyetok ruangan kerjanya dengan mainan terapi atau menatanya di ruangan bermain. Ruangan tersebut adalah dunia anak selama konseling dan menjadi tempat yang aman baginya. Di sana, anak memiliki kebebasan untuk mengekspresikan emosi dan dipahami oleh sang terapis.

Mainan yang memungkinkan anak mengekspresikan dirinya mulai dari boneka, rumah boneka, kastil, pedang-pedangan, figur binatang, boneka tangan, pasir, dan perlengkapan kerajinan tangan.

Saat anak masuk dan berjalan di ruangan bermain, hubungan belum terjadi sehingga play therapist sering kali menyebutnya bermain aman. Gangguan emosional dan tujuan anak berada di sana pun belum terlihat.

“Anak akan pergi ke mana yang ia mau dan sebagian besar berhubungan dengan hal-hal yang terjadi pada hidupnya, hal yang sedang diperjuangkan. Proses bisa cepat atau lambat karena anak harus percaya pada terapis mengingat kita bukan guru maupun orang tuanya, melainkan orang baru,” ujar Jared Narston, LCPC, play therapist lainnya.

Saat terapis mulai terhubung, anak akan merasakan kehadirannya dan merasa aman. Sekalinya anak merasa aman dengan hubungan yang terjalin, terapis memfasilitasi atau memanfaatkan bermain untuk membantu anak memahami pengalaman atau isu hidup yang mengganggunya dan membutuhkan intervensi terapis. Sang terapis pun terlibat berdampingan menggunakan mainan sebagai kegiatan yang ekspresif.

Penjelasan dari play therapists di atas pun menggugah saya untuk rajin terlibat dalam permainan yang dipilih oleh anak-anak ketika mereka menghendakinya. Saya pun memperoleh banyak manfaat dengan terlibat aktif dan sungguh-sungguh dalam permainan mereka.

  • Saya merasa lebih dekat dengan para buah hati secara emosional.
  • Menjadi tahu hal-hal yang disukai maupun tidak disukai masing-masing anak.
  • Memahami pengetahuan dan perasaan anak akan sesuatu, misal lewat bermain peran sebagai dokter-dokteran, berbelanja, menjadi pengendara mobil, dan sebagainya.
  • Mengetahui pencapaian perkembangan kognitif anak seperti kemampuan mengidentifikasi warna, huruf, angka, juga berhitung dan perkembangan sosial-emosionalnya seperti kemampuan menunggu giliran dan inisiatif berbagi.
  • Lebih mudah menanamkan nilai-nilai kehidupan.

Jadi, yuk, berikan kesempatan sebesar-besarnya pada anak-anak kita untuk menghabiskan masa kecil mereka dengan bermain sekehendak hati. Tentunya dalam batas yang aman ya, Ma. Last but not least, mari bermain dengan anak layaknya seorang play therapist!

Referensi:

  • Video “Play is Children’s Work” oleh org
  • Artikel “If you want your kid to get a good job, let them play more” pada Quartz
  • “Bermain Itu Belajar” pada Rumah Dandelion

Catatan:

Untuk keterangan video Association for Play Therapy, bisa langsung ditautkan ke: https://www.youtube.com/watch?v=_4ovwAdxCs0&t=134s

 

Febi Purnamasari

A new mother of two who loves sharing whatever she has learned from seminars and books especially related to parenting issues. She’s now developing her career path as journalist for a national television. Belly-dancing is her hidden obsession.

2 Komentar
Hannah Magnolia
Hannah Magnolia April 18, 2019 10:20 am

wah menarik sekali ini play therapist. terima kasih mba febi! akan kuterapkan ke anakku.

Febi
Febi April 20, 2019 3:42 pm

Yeayy terima kasih sudah membaca Mama Hannah :)

 

Anda harus Log In untuk memberikan komentar terhadap artikel ini.

Silakan Login di Sini