Inisiasi Menyusu Dini

Oleh Fatimah Berliana Monika pada Senin, 14 Januari 2013
Seputar Expert Explains

Apakah ada Mama yang belum pernah mendengar apa itu IMD?

Saya yakin sebagian besar Mama paling tidak sudah pernah mendengar dan mengetahui kepanjangan IMD. Tulisan saya kali ini akan mengulas serba-serbi IMD yang saya susun dari berbagai sumber yaitu WHO, UNICEF, AAP, Fakta Ilmiah dari World Breastfeeding Week 2007, Buku Panduan Tata Laksana Bayi Baru Lahir di RS yang dikeluarkan oleh Kemenkes tahun 2010, dan sumber-sumber lainnya.

IMD merupakan singkatan dari Inisiasi Menyusu Dini. IMD adalah proses memberikan kesempatan kepada bayi untuk mencari sendiri (tidak dipaksa/disodorkan) sumber makanannya dan menyusu pada ibunya segera setelah melahirkan selama minimum 1 jam.

IMD mulai diperkenalkan secara luas kepada masyarakat sekitar tahun 2007. Data hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003 menyebutkan bahwa hanya 3,7% bayi yang disusui dalam 1 jam pertama setelah lahir dan angka kematian bayi masih relatif tinggi yaitu 35 per 1.000 kelahiran hidup.
Data lainnya dari hasil SDKI tahun 2007 bahwa hanya 32% bayi di bawah usia 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif.

Mungkin banyak Mama yang bertanya, "Kenapa IMD begitu penting?"

Seperti yang kita ketahui, menyusui/breastfeeding memberikan banyak manfaat tidak hanya bagi bayi tapi juga bagi Mama. IMD mencegah kematian bayi terutama di negara berkembang. Sebuah penelitian menemukan bahwa IMD dapat mencegah 22% kematian bayi baru lahir. Untuk mengurangi kematian bayi baru lahir dan mempertahankan kesehatan bayi maka WHO merekomendasikan para Mama untuk memberikan ASI pertama dalam satu jam pertama kehidupan bayi. Hal ini untuk memastikan bahwa bayi baru lahir menerima kolostrum/ASI pertama yang kaya nutrisi dan zat-zat anti infeksi. Bayi yang menyusu dalam satu jam kehidupan pertamanya akan menstimulasi produksi ASI Mama. Skin to skin contact antara Mama dan bayi mampu menstabilkan suhu badan bayi sehingga bayi akan tetap mendapatkan kehangatan yang juga meningkatkan kemampuan bayi baru lahir untuk bertahan hidup (mencegah bayi mengalami kedinginan/hypothermia). Skin to skin contact/sentuhan kulit Mama dan bayi juga memberikan efek psikologis yang kuat antara Mama dan bayi, Mama dan bayi akan merasa lebih tenang, pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Saat bayi merangkak mencari payudara Mama maka bayi akan menjilat-jilat kulit Mama dan menelan bakteri baik dari kulit Mama. Bakteri baik ini akan berkembangbiak di kulit dan usus bayi dan bertugas melindungi bayi dari bakteri jahat.

Bayi yang diberi kesempatan IMD akan lebih berhasil menyusui ekslusif dan akan lebih lama disusui. Sementara keuntungan lain untuk Mama adalah hisapan bayi saat IMD merangsang pengeluaran hormon oksitosin yang membantu mengurangi pendarahan, mempercepat pengecilan/pemulihan rahim pasca melahirkan.

Hal penting yang perlu saya sampaikan juga bahwa IMD dapat dilaksanakan bila kondisi Mama dan bayi dalam keadaan baik/sehat. Jadi jangan memaksakan ingin melaksanakan IMD bila salah satu atau keduanya (Mama dan bayi) tidak dalam kondisi sehat. Penilaian bayi baru lahir dilakukan oleh tenaga kesehatan yang membantu persalinan seperti dokter anak atau bidan.

Penilaian bayi baru lahir secara umum dapat menggunakan APGAR Score, yang menentukan apakah bayi baru lahir siap untuk menghadapi dunia barunya tanpa bantuan/intervensi medis. Penilaian APGAR Score dilakukan di menit pertama dan di menit ke lima setelah bayi lahir.

Secara singkat ada 5 hal yang dinilai dalam APGAR Score yaitu:


  • Aktivitas (Muscle Tone).

  • Pulse (detak jantung).

  • Grimace (reflex response).

  • Penampilan (warna tubuh bayi).

  • Respiration/breathing (dinilai lewat tangisan bayi).

Apabila nilai/score yang didapat diantara 7 sampai 10 maka secara umum bayi baru lahir dalam kondisi baik. Hal tambahan yang penting juga adalah apakah bayi lahir cukup bulan? Karena beberapa kondisi bayi yang lahir kurang bulan (biasa disebut premature/preterm) tidak memungkinkan melaksanakan IMD dan segera mendapatkan bantuan medis.

Sementara kondisi Mama pasca melahirkan juga perlu dinilai dan dipantau. Seperti penilaian kesadaran Mama dan sejauh mana mobilitas yang dapat dilakukan Mama, juga apakah Mama mengalami pendarahan/kehilangan banyak darah selama persalinan. Penilaian umum lainnya seperti suhu badan, detak jantung, pernapasan, tekanan darah, output urin, juga apakah Mama memerlukan obat-obatan seperti pengurang nyeri (pain reliever), memerlukan infus, dll.

Bila kondisi bayi dan Mama dinyatakan baik dan sehat untuk melaksanakan IMD maka berikut ini adalah langkah-langkah IMD:


  • 1. Bila memungkinkan, Papa/anggota keluarga lainnya mendampingi Mama saat IMD.

  • 2. Disarankan tidak menggunakan bahan kimia saat persalinan, karena akan mengganggu dan mengurangi kepekaan bayi untuk mencari puting susu Mama. Sila didiskusikan dengan DSOG/bidan yang menangani persalinan dan sebaiknya hal ini sudah didiskusikan sebelum Mama melahirkan.

  • 3. Badan bayi dikeringkan mulai dari kepala, muka dan bagian badan lainnya kecuali kedua tangan bayi. Alasannya karena bau cairan ketuban pada tangan bayi akan membantu bayi dalam mencari puting susu Mama yang berbau sama.

  • 4. Dada Ibu tidak perlu dibersihkan dahulu. Badan bayi dikeringkan tanpa mengilangkan vernix (zat lemak putih pada kulit bayi) yang membuat nyaman kulit bayi.

  • 5. Tali pusat dipotong lalu diikat.

  • 6. Tanpa dibedong, bayi langsung ditengkurapkan di dada/perut Mama di mana posisi kepala bayi menghadap ke kepala Mama sehingga terjadi kontak kulit (skin to skin contact) antara kulit Mama dan bayi.

  • 7. Mama dan bayi diselimuti bersama-sama. Jika perlu, bayi dipakaikan topi untuk mengurangi pengeluaran panas dari kepalanya.

Sering timbul pertanyaan: Apakah melahirkan via Sectio Cesaria (SC) dapat melaksanakan IMD? Secara umum dalam tipe persalinan via SC ada 2 pilihan bius/anestesi yaitu spinal/epidural anesthesia (bahasa awamnya “bius setengah badan”) dan general anesthesia (bahasa awamnya “bius total”). Seperti yang telah saya kemukakan sebelumnya, diskusikan hal ini sebelum Mama melahirkan.
Apabila Mama menjalani persalinan via SC dengan tipe bius “setengah badan”, maka kondisi Mama dan bayi dinilai seperti yang saya kemukakan di atas. Bila kondisi Mama & bayi dinilai baik untuk melaksanakan IMD, maka IMD dilaksanakan bersamaan saat perut Mama “dijahit” oleh DSOG. Posisi bayi sedikit dimiringkan supaya tidak mengganggu proses penjahitan dan perawat/suster dapat membantu menjaga posisi bayi supaya tidak jatuh/terguling.

Sementara apabila Mama harus menerima “bius total” makaIMD harus ditunda sampai Mama sadar dan kondisinya dinilai baik oleh DSOG.

Pasca IMD dilaksanakan, lanjutkan rooming-in Mama dan bayi selama 24 jam setiap hari yang memperbesar kesempatan Mama dan bayi belajar menyusu dan bayi dapat menerima frequent nursing. Mama dapat belajar mengenali bahasa tubuh bayi, terutama apa saja tanda-tanda bayinya lapar seperti menggerak-gerakkan badan (stirring), menggerakkan/menggelengkan kepala seperti mencari-cari sumber makanannya (rooting), serta memasukkan jari/tangan ke mulut (hands in mouth) .

Sejumlah penelitian menyatakan bahwa rooming-in berperan meningkatkan produksi hormon Oksitosin yang berperan dalam proses keluarnya ASI. Hormon ini juga memberikan perasaan tenang & nyaman, yang tentu saja bermanfaat memperkecil kemungkinan Mama mengalami baby blues/post partum syndrome pasca melahirkan.

Fatimah Berliana Monika
Fatimah Berliana Monika

Konselor Laktasi & La Leche League (LLL) Leader of Rochester South NY, US. Lulusan S1 Fakultas Teknik Sipil&Perencanaan ITB & S2 Magister Manajemen Universitas Indonesia.

15 Komentar
Dessy Natalia
Dessy Natalia February 13, 2014 10:40 pm

Makasih mbak artikelnya.
Insya Allah beberapa minggu lagi akan kopdar sama si kaka di perut, mudah2an bisa IMD.
Rencananya mau melahirkan di klinik bersalin dan dibantu bidan, mudah2an bidan2 di sana proIMD.
Kemarin sih sudah tanya kalau sampai ASInya tidak keluar bagaimana? Dan kata bidannya bayi nanti dikasih sufor.. :(
Mudah2an ASInya langsung keluar ya..
Sekali lagi makasih untuk artikel2nya yg sangat bermanfaat ya mbak :)

Fatimah Berliana Monika
Fatimah Berliana Monika March 31, 2013 3:41 pm

Hi Mba Devi Tan,
Maaf nih baru balas, baru sempet buka2 lagi semua artikel saya dan merespon comment2nya.
Mengenai bisakah IMD dilaksanakan seperti yg saya tulis di artikel saya ini sangat tergantung akan kondisi bayi & Mama, nah Mba mengatakan kalau Mba kedingingan dan sesak nafas, jadi tidak memungkinkan untuk melaksanakan IMD. Gak usah sedih & menyesal ya.
Pertanyaan kedua soal bayi segera diberi sufor, jawabannya di artikel saya tentang Apakah ASI saya cukup : http://theurbanmama.com/articles/apakah-asi-saya-cukup.html .
ASI Mba baru keluar keesokan harinya dan hanya sedikit sekali ya memang kolostrum jumlahnya sedikit dan ilustrasi kapasitas bayi baru lahir/newborn ada di artikel saya tsb.
Secara tertulis permintaan untuk IMD,ASI eksklusif ya ditujukan ke dokter/nakes yg membantu persalinan, dokter anak dan tentu saja pihak manajemen tempat bersalin.
Mengenai obat2an khususnya obat bius sebenarnya secara umum sudah dibahas di artikel IMD ini kan ya, kalau Cesarnya Bius Total/Umum ya efek sadar Mama lebih lama akibatnya ya bayi menunggu diberikan ke Mama setelah Mama sadar & stabil kondisinya. Silahkan baca juga artikel ini : http://www.healthychildren.org/English/ages-stages/prenatal/delivery-beyond/pages/Delivery-by-Cesarean-Section.aspx?nfstatus=401&nftoken=00000000-0000-0000-0000-000000000000&nfstatusdescription=ERROR%3a+No+local+token dan http://kidshealth.org/parent/pregnancy_center/childbirth/c_sections.html# .
Semoga bermanfaat ya dan dilancarkan semuanya,
-Monik

devi tan March 20, 2013 1:07 pm

dear Mba Monik,

Terus terang saya kecewa dengan RS tempat anak pertama saya melahirkan, krn dari jauh2 hari sebelumnya saya sudah meminta dokter yang menangani proses kelahiran saya untuk dilakukan proses IMD, tp kenyataannya pada hari H anak saya sama sekali tidak dibawa kepada saya hanya diperlihatkan sesaat (tidak ada 1 menit) :-(
berhubung saya melahirkan caesar, saya jadi tidak fokus untuk memperjuangkan proses IMD tersebut (karena kedinginan dan sesak nafas). sekitar 3-4 jam setelah di kamar perawatan bayi saya baru diantar ke ruangan…setelah saya tanya ke susternya apakah bayi saya sudah sempat minum sufor, dia menjawab “ya sudahlah bu, nanti kalau gak dikasih bisa kehausan bayinya…”. yg jadi pertanyaan saya, apakah benar bayi yang baru lahir harus segera diberi susu atau cairan supaya tdk dehidrasi, berapa lama sebenarnya daya tahan tubuh bayi yg baru lahir utk tidak menerima cairan? karena Asi sy baru keluar ke esokan harinya itupun jumlahnya hanya sedkiti sekali hanya sekitar 20-50cc. lalu selain kepada Dokter kandungan yang membantu proses kelahiran, kepada siapa lagi saya harus menyampaikan permintaan saya untuk proses IMD, kalau secara tertulis suratnya ditujukan kepada siapa? dan apakah proses melahirkan secara normal atau caesar ikut mempengaruhi proses IMD, maksudnya apakah obat2an (obat bius dan obat painkiller) yang diberikan pada saat caesar bisa ikut terminum oleh bayi saya jika IMD? Maaf jika pertanyaan saya terlalu banyak, maklum saya tidak ingin mengulangi kesalahan saya yg sebelumnya. Many thanks buat mba Monik sebelumnya…
sekarang saya sedang hamil 27 weeks, dan rencana akan caesar lagi dan mudah2an kali ini niat saya utk IMD bisa kesampaian.

Honey Josep
Honey Josep February 28, 2013 11:55 am

tfs mba Monik, artikelnya mencerahkan khususnya buat ibu baru :)

Bunda Bitha
Bunda Bitha January 15, 2013 10:49 am

Pengen juga anak ke 2 di IMD kirain dulu IMD adalah keputusan dokter sedih juga anak pertama tdk bisa IMD, beruntung bisa dapet kolostrum. Artikelnya sangat membantu tx ya