Keona dan Water Birth

Oleh Yanti Widyariny pada Kamis, 25 Februari 2010
Seputar Our Stories

Kali pertama saya ke dokter kandungan untuk memastikan kehamilan adalah di Bandung. Berhubung saya bekerja dan tinggal di Jakarta, mulailah mencari dokter di Jakarta. Hasil browsing dokter yang banyak direkomendasikan dan tempat praktik ga jauh dari rumah, dipilihlah dr. T. Otamar Samsudin di RS Sam Marie. Sebenernya beliau praktik di beberapa tempat, tapi yang praktiknya Sabtu hanya di Sam Marie. Dari hasil browsing juga, saya mendapatkan info kalau beliau menangani water birth. Awalnya saya tidak merencanakan untuk water birth, baru di minggu-minggu terakhir kehamilan  terpikir untuk mencoba water birth. No specific reason though, ingin aja coba. Alhamdulillah selama kehamilan juga ga ada masalah dan posisi bayinya bagus, jadi kesempatan untuk water birth selalu ada. Selain itu biayanya pun tidak jauh berbeda dengan melahirkan normal biasa, lebih mahal 1-2 juta saja dan ini masih dibawah biaya c-section.


Due date  21-Agustus-2009, saya sudah mulai cuti dari tanggal 10. Hanya 3 hari santai-santai ga masuk kantor. Kamis 13-Agustus-2009 jam 7.30 pagi terasa ada yang rembes dan saya pikir itu ketuban.



Saya langsung membangunkan dan bilang pada suami, "Sayang, kayanya ada yang rembes nih, ketuban kali ya?"



Suami langsung bangun dengan sigap (padahal sebelumnya dibangunin suruh pergi ke kantor susah banget, udah feeling kali ya). Diputuskan pagi itu ke rumah sakit, tentunya setelah mandi dan masih nyempetin sarapan dan ngopi-ngopi pagi. 


Pukul 9 pagi kami sampai di Rumah Sakit. Saya langsung dibawa ke kamar, dipasang CTG. Ternyata sudah ada kontraksi sampai 80% yang seharusnya sudah sakit tapi sama sekali ga terasa. Denyut jantung bayi bagus, kepala bayi sudah di bawah, cek dalam ternyata baru bukaan 2, cek cairan yang rembes tadi dan bidan membenarkan bahwa yang rembes itu adalah air ketuban.  Saya diminta bed rest sambil terus diobservasi dan menunggu untuk diperiksa dokter. 


Seharian dalam status ‘diobservasi’ dan tetap di bukaan 2, akhirnya dokter baru periksa  pukul 10 malam setelah beliau selesai praktik.



"Ketubannya masih banyak kok Bu, yang rembes tadi bukan ketuban." Kata dokter.

"Kata suster tadi ketuban, Dok?"

"Jadi gimana nih, Bu? Mau pulang aja? Tapi udah ada bukaan sih kira-kira 2 atau  3, atau mau dirangsang aja supaya besok pagi bisa lahir?"

"Iya deh Dok," jawab saya tanpa pake pikir panjang lagi.


Pukul 11 malam, saya lalu dikasih obat melalui vagina.


Jumat 14 Agustus 2009 pukul 9 pagi keluar flek, kontraksi mulai terasa kuat dan intervalnya semakin pendek. Yang tadinya masih bisa senyum-senyum sekarang sudah nangis-nangis nahan sakit. Cek dalam masih bukaan 2. Setengah jam kemudian ketuban pecah, semakin megap-megap mengatur napas untuk menahan sakit. Pukul 10 bukaan 4, saya lalu dibawa ke ruang bersalin.


Di ruang bersalin udah siap kolam tiup seperti kolam anak-anak yang cukup besar berisi air hangat. Sampai di sana saya tidak langsung masuk kolam karena belum bukaan 6. Masuk kolam baru diperbolehkan setelah bukaan 6 supaya tidak terlalu lama di dalam air.


Cek dalam lagi, bukaan 5. Dokter masih belum datang, jadi bidan hanya mengabari setiap perkembangan pada dokter lewat telepon. Pukul 11 cek dalam lagi, sudah bukaan 6. Bidan lalu menelepon dokter.



"Sudah boleh masuk kolam, Bu. Dokternya juga sudah di jalan’.



Finally, masuk kolam. Rasa sakit karena kontraksi sejak dua jam terakhir langsung berkurang begitu perut berada dalam air dan terasa lebih rileks. Selang beberapa menit kemudian akhirnya dokter datang. Suami langsung minta ijin untuk ikut masuk ke dalam kolam. Setelah dapat ijin, suami masuk ke dalam kolam dan duduk di belakang jadi tempat saya bersandar (yang tadinya udah rileks jadi tambah rileks deh). By the way, menurut dokter, suami saya ini adalah suami pertama yang ikut masuk kolam dari sekian ratus kasus water birth yang udah dia tangani.


Kurang lebih, saya menghabiskan waktu 2 jam di dalam kolam. Waktu bukaan sudah lengkap dan kepala bayi sudah di jalan lahir (which means we were good to go) dokter hanya mengawasi dari luar kolam dengan instruksi, "Kalau ada kontraksi tarik napas dalam-dalam dan tahan sekuatnya. Kalau udah gak kuat hembus napasnya pelan-pelan sambil ngeden sedikit-sedikit". Di water birth ga ada acara gunting-menggunting jadi ga boleh ngeden kuat-kuat untuk menghindari robekan. Dengan ngeden yang hanya sedikit-sedikit itu, proses persalinan jadi lebih lama dan harus sabar. Kepala bayi keluar sedikit demi sedikit. Bahkan kadang keluar sedikit, masuk lagi karena saya kurang kuat menahan napasnya. Selama itu dokter selalu memberi tahu seberapa besar bagian kepala bayi yang sudah keluar. Saya juga bisa meraba rambut bayinya waktu kepalanya sudah mulai keluar.


Akhirnya tepat pukul 13.07, Keona lahir dengan berat 3.3 kg, Dia menangis dengan kuatnya begitu diangkat keluar dari air dan diletakkan di dada saya. That moment was unforgettable, Keona di dada saya dan saya menyandar pada suami, just the three of us di dalam kolam persalinan, sebelum akhirnya Keona diambil untuk dibersihkan. Setelah plasenta keluar, saya juga keluar dari kolam untuk diperiksa lebih lanjut oleh dokter kalau-kalau jahit-menjahit diperlukan. Pada waktu ini juga IMD dilaksanakan.


Kalau ditanya apakah water birth itu sakit atau ngga, jawabannya ya sakit, namanya juga melahirkan. Tapi kalau disuruh membandingkan dengan persalinan bukan di air, saya tidak bisa menjawab karena baru mengalami sekali melahirkan. Insya Allah kalau masih dikasih sama Allah dan kondisinya memungkinkan, saya ingin melahirkan dengan proses water birth juga.

Kategori Terkait


Tag Terkait

28 Komentar
Yesie Aprillia S.Si.T, M.Kes April 11, 2013 3:02 pm

semua cerita proses persalinan waterbirth memang luar biasa indah...
namun sayang masih banyak dan banyak sekali pertentangan di kalangan tenaga kesehatan.
mohon doanya supaya metode ini segera mendapat rekomendasi

Santi
Santi February 16, 2012 3:21 pm

pas baca "Keona di dada saya dan saya menyandar pada suami, just the three of us di dalam kolam persalinan" .. bener2 priceless ... unforgetable moment bgt ...jadi terharu dech ...
semoga kalo dikasih rejeki untuk hamil and melahirkan, pgn bgt coba waterbirth ...

deadeot
deadeot December 6, 2010 9:57 am

waah.. pengalamannya mba yanti seru iih..
jadi pengen deh nyobain water birth.. ^o^
kayaknya seru ya..

Windy
Windy February 25, 2010 2:54 pm

Huaa, penasaran jadinya...tapi jujur masih takut2, tp dgn ada suami dibelakang kayaknya mungkin jd berani. PEngalaman induksi + kyknya ada robek merobek..jd pengen nyobain nih water birth..

tfs yaa...

Yanti Widyariny
Yanti Widyariny February 25, 2010 9:58 am

@nidya
posisi melahirkan sama2 aja kok...
ga kedinginan kok...kan suhu airnya dijaga terus kira2 sama dengan suhu badan ibunya...selain biar ibunya ga kedinginan juga biar bayinya ga kaget begitu sampe di air...
tapiii...setelah selesai proses melahirkan dan keluar dari kolam baru deh menggigil kedinginan... ;P