Bahasa Ibu Sebagai Kunci Pengembangan Mental Tools

Oleh Rinaldi pada Kamis, 24 September 2020
Seputar Expert Explains
Bahasa Ibu Sebagai Kunci Pengembangan Mental Tools


dr. Rinaldi Lenggana

Pendidikan: Fak Kedokteran Umum UKM Bandung. '96 dan S2 Unika Soegijapranata Semarang '07 Konsentrasi Magister Hukum Kesehatan.

General Practitioner dan PNS Dinkes Sumedang, PKM DTP Jatinangor, Sumedang (2004-sekarang).

"That you may be strong be a craftman in speech for the strength of one is the tounge and the speech of one is mightier than all fightings”
~Ptahhotep (written 5.000 years ago)

Orangtua memahami pentingnya pendidikan sebagai fondasi sukses. Namun sayangnya kebanyakan orangtua kurang kritis dan hanya mengikuti trend yang sedang “in”. Salah satunya adalah mengenai bahasa.

Orangtua dan pendidik mempunyai tujuan yang baik dan mulia. Namun sayangnya mereka tidak menyadari bahwa persepsi mereka mengenai sukses didasari oleh asumsi yang salah. Asumsi adalah sesuatu yang diyakini sebagai hal yang benar tanpa didukung oleh data-data yang valid. Asumsi yang salah selanjutnya mempengaruhi persespsi. Persepsi ini kemudian menjadi koridor berpikir yang menentukan arah dan hasil proses pikir mereka.

Nah, kembali ke masalah bahasa. Sebagai orangtua, pendidik, pembicara publik, penulis buku, dosen psikologi, dan juga seorang terapis saya banyak menemukan kasus anak yang ”hang” karena harus memenuhi ambisi dan tuntutan orangtua. Banyak orangtua yang bangga bila anak mereka sejak usia belia telah bisa cas cis cus (baca:berbicara) minimal bahasa Inggris atau kalau bisa sekalian Mandarin.

 

  • Ada kawan yang anaknya baru berusia 4 tahun 3 bulan telah dicap sebagai anak yang bodoh karena, setelah dikursuskan, masih mengalami kesulitan menulis dalam bahasa Mandarin.

 

  • Ada klien yang saat di PG/TK disekolahkan di sekolah yang bahasa pengantarnya Inggris dan Mandarin. Namun saat masuk SD si anak, karena orangtuanya tidak mampu menyekolahkan di sekolah internasional atau yang bi-lingual karena mahal, masuk ke sekolah biasa dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Anak ini mengalami kesulitan belajar yang luar biasa dan akhirnya mengalami trauma yang cukup berat. Selidik punya selidik ternyata anak ini cukup cerdas. Masalahnya adalah di bahasa. Jelas tidak mungkin kita bisa mempelajari sesuatu dengan bahasa yang kita tidak kuasai. Dalam hal ini anak mengalami double-trauma. Pertama, anak trauma dengan bahasa dan yang kedua adalah dengan materi pelajaran.

 

 

  • Ada lagi anak yang  ”down” setelah di kelas tiga SD. Alasannya sama. Anak mengalami kesulitan menguasai bahasa Inggris atau Mandarin yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran.



Semua ini terjadi karena orangtua, karena ambisi yang didasari oleh asumsi yang salah, tidak bisa membantu anaknya di rumah. Di sekolah anak harus belajar dengan bahasa Inggris atau Mandarin. Sedangkan di rumah anak berkomunikasi dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Ditambah lagi orangtua juga nggak bisa bahasa Inggris atau Mandarin. Akibatnya sangat fatal bagi perkembangan anak. Dalam hal ini perkembangan kecerdasan linguistik anak menjadi terhambat dan ini mempengaruhi aspek kehidupan lainnya.

 

Pernah ada orangtua, yang anaknya saat itu di SD kelas 3 bermasalah akibat dipindahkan dari sekolah biasa ke sekolah dengan pengantar bahasa Inggris, saat konsultasi dengan kami, berkata pada anaknya, saat itu si anak bersin, ”Clean your nose. Jhu jhi. Ambil tissue, cepat”.

Hebat kan orangtua ini. Dalam satu kalimat ia menggunakan tiga bahasa sekaligus. ”Clean your nose” artinya bersihkan hidungmu (ini bahasa Inggris). ”Jhu jhi” artinya keluar (ini Mandarin), dan “Ambil tissue, cepat” (bahasa Indonesia).

Tolong jangan salah mengerti. Saya tidak anti pendidikan dengan bahasa pengantar bahasa Inggris atau Mandarin. Yang saya ingin sampaikan adalah sebagai orangtua dan pendidik, kita harus hati-hati dan tidak hanya ikut trend. Kita harus mendasari tindakan kita dengan alasan dan pengetahuan yang benar.
Ada banyak kawan saya yang anaknya sekolah di sekolah bi-lingual dan anak mereka berkembang sangat baik. Kawan saya ini ternyata menguasai bahasa asing dengan sangat baik. Dengan demikian mereka mampu membantu anak berkembang dengan optimal.

Pertanyaannya sekarang, ”Kapan waktunya mengajari anak bahasa asing? Bukankah waktu anak kecil otak mereka mampu belajar banyak hal termasuk bahasa? Kalau tidak diajarkan banyak bahasa nanti apa nggak terlambat?”

Saya ingin meluruskan satu hal. Kita boleh menstimulasi anak dengan bahasa apa saja. Namun jangan memaksa mengajar anak banyak bahasa. Lha, apa bedanya? Mengajar mengandung konsekuensi harus bisa. Sedangkan menstimulasi adalah memberikan pengalaman belajar sebanyak-banyaknya, anak tidak harus bisa.

Kesulitan belajar bahasa timbul sebagai akibat proses belajar bahasa yang salah. Cara belajar yang benar adalah kita belajar bicara dulu. Baru setelah itu kita belajar tulis dan baca. Jadi, dari lisan ke tulisan. Jangan dibalik. Coba perhatikan anak kita saat belajar bahasa ibunya. Anak, saat masuk PG/TK, telah mampu berkomunikasi dengan baik. Saat di sekolah barulah anak belajar membaca dan menulis. Proses ini bisa berjalan mulus karena anak telah menguasai bahasa lisan.

Terlepas dari apa bahasa yang akan kita ajarkan kepada anak, satu yang harus benar-benar orangtua perhatikan adalah anak membutuhkan fondasi untuk menguasai bahasa lainnya. Fondasi ini adalah bahasa ibu yaitu bahasa Indonesia. Mengapa bahasa Indonesia? Ya, karena kita tinggal di Indonesia. Ini bukan masalah nasionalisme namun ini kita bicara proses tumbuh kembang anak.

Pater Drost, di salah satu tulisannya, pernah bercerita bahwa anak sekolah di Belanda, selama 6 tahun di sekolah dasar hanya diajarkan satu bahasa yaitu bahasa Belanda. Tidak diajarkan bahasa lain. Namun begitu anak-anak itu naik ke SMP dan SMA langsung diajarkan banyak bahasa asing. Hasilnya? Mereka mampu menguasai dengan baik bahasa Inggris, Jerman, dan Perancis. Kok bisa? Ya karena fondasinya kuat. Anak-anak itu menguasai bahasa ibu mereka, bahasa Belanda, dengan sangat baik.

Lalu, apa hubungan antara apa yang telah saya uraikan panjang lebar dengan judul artikel ini? Sangat erat. Sekarang saya akan membahasnya secara lebih teknis.

(Gambar: www.pixabay.com

Tool atau piranti adalah sesuatu yang membantu kita dalam memecahkan suatu masalah, sebuah instrumen yang membantu kita melakukan suatu tindakan. Selain mengembangkan piranti untuk membantu dan memudahkan kerja, kita juga mencipta dan mengembangkan mental tools/piranti mental, atau piranti pikir, untuk mengembangkan kemampuan mental kita. Mental tools ini membantu kita untuk bisa memperhatikan, mengingat, dan berpikir lebih baik.

Ide mengenai piranti pikir atau mental tools dikembangkan oleh Lev Vygotsky, psikolog Rusia (1896-1934), yang menjelaskan bagaimana anak mengembangkan kemampuan mental yang semakin kompleks.
Para penerus Vygotsky percaya bahwa mental tools memainkan peran yang sangat penting dalam pengembangkan kemampuan berpikir. Seiring dengan proses tumbuh kembangnya, anak secara aktif menggunakan piranti yang telah mereka ciptakan dan kembangkan serta mengembangkan piranti baru sesuai kebutuhan mereka.

Kekurangan atau ketiadaan mental tools membawa akibat jangka panjang negatif terhadap pembelajaran karena mental tools mempengaruhi tingkat berpikir abstrak yang dapat dicapai seorang anak.

Mental tools bermanfaat untuk mempelajari dan memahami konsep abstrak di bidang sains dan matemaika. Tanpa mental tools anak dapat menghafal dan mengeluarkan fakta-fakta saintifik dari memori mereka namun tidak bisa menerapkan pengetahuan ini untuk mencari solusi dari pertanyaan/masalah yang mereka hadapi, yang sedikit berbeda dengan contoh yang telah mereka pelajari sebelumnya.

Kemampuan berpikir abstrak dibutuhkan tidak hanya di sekolah namun juga dalam mengambil berbagai keputusan dalam banyak aspek kehidupan saat dewasa kelak, misalnya bagaimana membeli mobil, memilih investasi keuangan, berpikir level tinggi (analisa, sintesa,dan evaluasi), termasuk juga membesarkan dan mendidik anak yang sudah tentu membutuhkan kematangan dalam kecakapan berpikir.

Bahasa adalah mekanisme untuk berpikir, suatu mental tool. Bahasa membuat berpikir menjadi lebih abstrak, fleksibel, dan independen. Bahasa memungkinkan anak untuk membayangkan, memanipulasi, mencipta ide-ide baru, dan berbagi ide dengan orang lain. Dengan demikian bahasa mempunyai dua fungsi utama; bahasa penting untuk mengembangkan kemampuan pikir dan bahasa juga merupakan bagian dari proses pikir.

Bahasa dapat digunakan untuk mencipta berbagai strategi untuk menguasai banyak fungsi mental seperti atensi, memori, perasaan, dan pemecahan masalah.

Salah satu kekuatan pendekatan Vygotsky adalah ia tidak hanya berbicara pada tataran teori namun juga praktik. Apa yang ia formulasikan telah dicobakan dalam mengajar mental tools pada anak-anak. Sebagai pembanding terhadap pendekatan Vygotsky pembaca bisa mempelajari pemikiran Piaget (constructivism), Watson dan Skinner (behaviorism), Freud (psychoanalysis), Koffka (Gestalt psychology), dan Montessori.

Terdapat empat prinsip yang mendasari pendekatan Vygotsky yaitu:

    • Anak mengkonstruk pengetahuan.

 

    • Pengembangan diri anak tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial.

 

    • Pembelajaran dapat membantu pengembangan diri.

 

  • Bahasa memainkan peran vital dalam pengembangan mental.

Bila kita cermati maka keempat prinsip di atas semua menggunakan bahasa sebagai medianya. Tidak mungkin tanpa bahasa. Oleh sebab itu penguasaan bahasa, khususnya bahasa ibu, dengan baik mutlak dibutuhkan agar anak mampu berkembang secara optimal.

Bila kita tarik benang merahnya ke kehidupan dewasa, khususnya dalam aspek finansial, maka satu pertanyaan menarik dari Kevin Hogan layak kita simak, ”What is the difference between the top 20% of people who earn 80% of the money and the 80% of the people who earn 20% of the money?”

Jawabannya adalah:

    • Dua puluh persen orang itu adalah pakar di bidang komunikasi. Mereka tahu bagaimana mengajukan pertanyaan dan menemukan kebutuhan dan keinginan orang lain.

 

    • Orang sukses adalah pakar di dua bidang. Pertama, di bidang pekerjaan mereka yang mereka komunikasikan dengan sangat baik dengan orang lain. Kedua, komunikasi pada level pikiran bawah sadar.
      Sekali lagi, ini semua melibatkan kemampuan bahasa yang tinggi.

 


Sebagai penutup artikel ini saya ingin memberikan pertanyaan bagi urban Mama Papa, untuk menguji kemampuan bahasa Indonesia. Bisakah urban Mama dan Papa rasakan apa bedanya pernyataan ini, ”Saya bertanggung jawab kepada anda namun saya tidak bertanggung jawab untuk anda”.

Kategori Terkait


Tag Terkait

37 Komentar
Rere Azizah
Rere Azizah December 17, 2010 5:57 pm

Artikel yang luar biasa bermanfaat!
Padahal tadi maunya saya dan suami saya menggunakan bhs indonesia dan bhs inggris dirumah supaya anak saya, Khansa (2 bln), nantinya bisa berbahasa inggris lebih lancar. Tapi setelah baca artikel ini, saya jadi tahu kalau bahasa ibu harus diperkuat dulu supaya nanti anak bisa pick up new languages easily.
Makasih banyak dok:)

Rinaldi
Rinaldi December 17, 2010 12:11 pm

@bunda melz : benar sekali....anak usia 2 tahun sangat membutuhkan sekali layihan sosialisasi serta juga melatih motorik halusnya yang mana program di playgroup tentu lebih tersistematis dibanding dirumah. Selama kita mampu memberikan yang terbaik buat anak kita mengapa tidak (diluar konteks finansial). Ada beberapa kekurangan atau efek negatif juga memasukan anak sekolah usia dini :
1.anak bosan dan jenuh untuk melanjutkan sekolah
2.sosialisasi dengan teman sebaya dengan kultur, didikan, dan disiplin yang berbeda (dari rumahnya) sehingga berdampak kepada perubahan pola perilaku dari biasanya
3.ekonomi
Apa yang bunda lakukan sudah benar bun..kadang kita mesti sabar dan butuh ekstra tenaga untuk menanggapi semua keingintahuan buah hati kita diusia segitu (rasa ingin tahu anak yang semakin tinggi.
Sekedar Tips, berkatalah dengan ucapan yang jelas dimana seringkali kita mengajak ngobrol anak kita dengan bahasa baby (susu jadi cucu, mobil jadi mbum, sayang jadi cayang, asem jadi acem etc).

@all mamas : thanks banget, mudaha"an kita bisa lebih baik lagi dalam mendidik anak", dan mereka jadi anak sukses tentunya. Yang penting, kita selalu ingat masa kanak_kanak adalah masa bermain, sosialisasi, dan aktualisasi diri anak. Berikan mereka yang terbaik menurut kita dan anak kita (harus 2 pihak), ajak mereka berdiskusi dan tanamkan pola demokratis dirumah. Sayang bukan berarti memberikan semua yang mereka mau, tetapi memberikan apa yang mereka butuhkan untuk tumbuh kembangnya.

”Saya bertanggung jawab kepada anda namun saya tidak bertanggung jawab untuk anda”. antara empati dan simpati, dalam mendidik anak gunakanlah empati kita, namun untuk sayang dan cinta kepada anak maka bersimpatilah.

Indah
Indah December 17, 2010 6:10 am

Trims ya dok atas responnya. Emang ya anak sekarang pressure-nya tuh besar banged. Kalo gag dari ortunya, ya dari lingkungan. Untungnya saya gag pernah prefer untuk menyekolahkan anak (basic education) yang multilingual pengajarannya. Sampai-sampai kakak ipar saya tanya "indah gag takut nanti anaknya kalah sama anak-anak lain?" Tentu gag dong, kita jangan cuman terpatok berorientasi sama hasil tapi juga pada proses. Pendidikan anak itu kan bertahap dan berjenjang. Kapasitas penerimaan anak tentu juga terbatas sesuai umurnya. NTAR KALAU TERLALU DIKARBIT (DIPAKSA MATANG) YANG ADA RASANYA MALAH PAHIT...

Lady Fitriana
Lady Fitriana December 17, 2010 12:24 am

Waw artikel yang bermanfaat banget! Kebetulan saya dan suami juga sedang mempertimbangkan bagaimana metode yang paling cocok untuk urusan multilingual ini untuk anak kami. Tidak ingin membuat anak overwhelmed tapi tidak ingin melewatkan momen emas dalam mengenalkan bahasa lain kepada anak.

tisa 'tisyonk'
tisa 'tisyonk' December 16, 2010 9:52 pm

TFS dok, manstab sekali artikelnya :)

Jadi pengen tanya dok.

Saya berencana memasukkan anak pertama saya nanti ke playgroup ketika dia berusia 2 tahun (sekarang dia berusia 13 bulan), dengan pertimbangan dia butuh sosialisasi dengan anak2 seusianya. Kenapa 2 tahun? berdasarkan sharing dengan teman2 yg tinggal di sekitar saya, at least umur 2 tahun sudah lumayan mengerti bahasa indonesia (saya tinggal di norway) & saya bisa lebih konsen ngurus adiknya yg sebentar lagi akan dilaunching :)

Pengalaman teman2 saya yg memasukkan anaknya ke playgroup sebelum umur 2 tahun: anak2 mereka mengalami speech delay karena bingung dengan bahasa, walaupun pada kenyataannya nantinya ada waktunya di mana mereka fasih beberapa bahasa.

Pertanyaan saya :
Apa yg harus saya lakukan untuk nge-boosting kemampuan berbicara anak saya sebelum dia masuk playgroup?
selama ini siy saya mencoba selalu cerewet ngobrol dengan anak saya menggunakan bahasa indonesia walau dia masih merespon dengan bahasa planet :P Saya tidak pernah mengajarkan bahasa norway ke anak saya, karena banyak saran mengatakan akan lebih baik kalau '1 person for 1 language'.selain juga karena bahasa norway saya masih acak adut :P

Mba Slesta,
kasus kita mirip kali yah? any suggestion?