Berani Hamil Lagi

Oleh feni :) pada Senin, 22 Mei 2017
Seputar Our Stories
Berani Hamil Lagi

Masih teringat jelas saat Kami, anak pertama baru berusia beberapa hari, saya setengah berteriak melalui telepon pada suami saya yang sedang bekerja, “Pokoknya tidak ada acara menambah anak. Satu saja cukup. Pusing aku!” Seems familiar?

Hari-hari bergadang, belajar menyusui, baby-blues syndrome, perdebatan tentang mengasuh anak dengan suami dan masih banyak lagi hal yang tidak saya perkirakan setelah pulang dari rumah sakit.

Namun saya seperti menelan ludah sendiri saat Kami sudah beranjak 2 tahun, dan mulai minta adik! Mungkin karena banyak teman saya yang sedang hamil, jadi Kami bertanya, “Kok Buni (panggilan Kami ke saya), perutnya nggak gendut-gendut (hamil)?” Lalu, saya berdiskusi dengan suami, untuk merencanakan anak kedua.

Sebenarnya bukan hanya karena Kami minta adik, lantas langsung saya dan suami sepakat untuk menambah anak. Banyak yang harus dipertimbangkan dan rencana jarak umur adik dan kakak. Jarak itu menjadi salah satu faktor yang menurut saya penting, karena terkait dengan psikologis si Kakak nantinya. Selain psikologi sang Kakak, psikologis dan fisik Ibu juga menjadi pertimbangan. Apakah usia saya adalah usia “aman” untuk hamil? Bagaimana dengan kesehatan saya? Lalu, apa saja riwayat kehamilan pertama? Saya punya riwayat hiperemesis atau mual dan muntah hebat saat kehamilan pertama saya. Ini juga menjadi momok kalau saya hamil lagi karena saya harus siap jika harus menghadapi kehadiran hiperemesis lagi. Dan kenyataannya saya memang mengalami hiperemesis saat mengandung Yaya, anak kedua kami.

Beberapa faktor pertimbangan lainnya adalah tentang finansial keluarga kami dan perencanaan pendidikan anak-anak. Untuk urusan finansial, saya dan suami harus realistis dan tidak ada kompromi dengan “bagaimana nanti”, tapi “nanti bagaimana?”. Dengan bertambahnya satu anggota keluarga, otomatis cashflow keluarga langsung berubah, terutama dana darurat dan dana pendidikan.

Melahirkan anak sepaket dengan memberikan pendidikan yang mumpuni, baik formal dan nonformal, serta soft-skill. Kita sepakat ya, bahwa generasi anak-anak kita harus lebih baik dari generasi kita. Suami saya pernah menulis di blog pribadi saya, mengapa akhirnya kami memutuskan untuk menambah momongan, salah satunya adalah, that is the least I can do for better future of human kind, tulisnya.

Terakhir, merencanakan kehamilan adalah pilihan bagi setiap keluarga. Tidak ada patokan tentang kapan dan bagaimana rencana itu. Namun, bagi saya, rencana adalah bagian dari berkeluarga, tidak terlepas hanya untuk rencana menambah momongan saja, tapi setiap detail perlu rencana, rencana, rencana (kutipan dari Pak Gunawan, di novel Sabtu Bersama Bapak).

11 Komentar
Rina Mutia Dewi
Rina Mutia Dewi May 27, 2017 3:41 pm

Waaah beda banget sama saya buniiii. Saya mah pengeeennya anaknya banyaaaak. tp itu tadi, harusnya jangan mikir "Bagaimana nanti" mesti persiapan matang. Makanya wkt hamil anak ketiga sedikit syok dan akhirnya mesti kuret. Sedih, tapi ambil hikmahnya. Dan memang harus bener bener matang dan mesti punya pikiran "Okay saya siap hamil lagi". Good sharing buniii. Thanks

De
De May 22, 2017 6:10 pm

Bener sama ucapan "lebih sakit sunat daripada melahirkan. Buktinya sunat sekali aja bikin cowok kapok. Sementara cewek lahran lebih dari sekali, belum tentu kapok juga"

hahahaha

dieta hadi
dieta hadi May 22, 2017 2:58 pm

fen, ga mau punya anak lagi ini pas buat gw sekarang, haha, udin lah ya 2 aja cukup cyinnn walaupun belum dapet cewek haha. Selain umur yg makin tuir, segala sesuatu juga harus dipertimbangkan ya, gw dukung program pemerintah untuk 2 anak cukup haha

Retno Aini
Retno Aini May 22, 2017 2:08 pm

Feni, itu curhatan gue banget tentang "pokoknya gapake nambah anak lagi!" hahahahaa... kayaknya udah jadi wacana sehari2. ini Alma udah umur 7 tahun, gue masih aja bimbang bin bambang mau nambah anak 1 lagi apa nggak karena masih nomaden (nomadennya terlalu kebangetan malah xD). Tapi Alma udah kebelet banget pengen punya adek. Ah semoga tahun ini dimantapkan hatiku buat berani nambah anak lagi :D Terima kasih ya bunii buat sharingnya

feni :)
feni :) May 22, 2017 2:49 pm

hahahaha, asik ngga sendirian! dulu aku pikir pusingnya ngurus newborn sampai ogah punya anak lagiu, cuma dirasa ku sendiri :D

semangat Mbak Ainiii. salam buat Alma yang casciscus banget kalau ngomong, suka liatnya :*

musdalifa anas
musdalifa anas May 22, 2017 10:38 am

Feni, setuju banget. Sejak melahirkan Lana, suami malah memutuskan untuk tidak menambah anak lagi, dan akhirnya kami menunda kehamilan. Setelah 3 tahun akhirnya saya dan suami ngobrol lagi berencana untuk hamil lagi, dan akhirnya lahirlah Yoona dengans elisih 4,6 tahun dari kakaknya. Sepakat dengan feni, masalah anak bukan bagaimana nanti, meski Tuhan sudah memastikan rejeki setiap makhluknya, tetapi kami sudah sepakat 2 anak saja cukup.

siap meluncur ke web tunda kehamilan :)

feni :)
feni :) May 22, 2017 11:18 am

waaah, beda dikit. Kami & Yaya beda 4 tahun :)

mirip ya kita, setelah anak usia 3 tahun baru "berani" lagi hehehehe :D