Better Safe Than Sorry

Oleh Febi Purnamasari pada Jumat, 19 Juli 2019
Seputar Our Stories
Better Safe Than Sorry

Sering kali saya menyesal ketika tubuh mulai jatuh sakit. Soalnya ketika saya sakit, rutinitas mengurus keluarga khususnya anak-anak menjadi terganggu. Tirah baring alias bed rest pun tak tenang lantaran memikirkan kondisi mereka melalui hari.

Hal-hal yang sering kali disesali mulai dari kurangnya waktu tidur, frekuensi olahraga yang jarang, pola makan tidak teratur, stres, dan sebagainya. Padahal, kita dapat melakukan pencegahan dengan memperbaiki kondisi-kondisi tadi. Bagaimanapun, gaya hidup sehat adalah pencegahan terbaik. Berikut ada beberapa tips gaya hidup sehat dari dr. Sarah Audia Hasna, yang menjadi pembicara #TUMLuncheonXBiogesic dengan tema Better Safe than Sorry di Pand’or Jakarta Selatan, 13 Juli lalu.

  • Menerapkan pola makan yang sehat. Salah satunya dengan membatasi asupan karbohidrat dan lemak tak jenuh. Pertahankan asupan protein hewani.
  • Olahraga.
  • Istirahat yang cukup.
  • Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan (jangan sampai menunggu sakit ya, urban Mama).
  • No smoking and alcohol.
  • Kurangi stres.

 

 

Para pembicara #TUMLuncheonXBiogesic (kiri-kanan): Vianda Lakswita Putri (Brand Associate Biogesic), dr. Sarah Audia Hasna, Mama Blogger Fifi Alvianto, dan Hanana Fajar (moderator).



Hal yang perlu dilakukan saat mengalami nyeri

Kalau sudah sakit, kita mau tak mau harus menahan nyeri demi tetap bisa mengurus keluarga di rumah. Ada nyeri yang bisa ditahan tanpa perlu menenggak obat dan sebaliknya. Orang dewasa mungkin lebih kuat menahan rasa nyeri, tetapi kita perlu waspada bila anak-anak menunjukkan atau mengeluhkan rasa nyeri. Pasalnya, kita tidak bisa mengetahui ambang batas nyeri mereka.

Sebelum lebih jauh mengenali derajat nyeri, mari kita cermati definisi nyeri menurut International Association for the Study of Pain. Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan di mana berhubungan dengan kerusakan jaringan atau potensial terjadi kerusakan jaringan. Menurut dr. Sarah, nyeri bersifat individual dan dipengaruhi genetik, umur, dan jenis kelamin. Intensitas nyeri yang dirasakan kakak dan adik, laki-laki dan perempuan, serta orang dewasa dan anak-anak berbeda satu sama lain.

Secara umum, nyeri terbagi menjadi nyeri ringan, sedang, dan berat. Lebih spesifik, nyeri digolongkan berdasarkan penyebab, komplikasi, dan derajat nyeri. Dokter pun memiliki perangkat untuk mengidentifikasi derajat nyeri; mulai dari metode skala linear sampai skala angka untuk menggambarkan intensitas nyeri pada pasien.



Dokter Sarah berpendapat, kita perlu minum obat pereda nyeri ketika rasa sakit sudah sampai menurunkan fungsi tubuh hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Misal, ketika rasa nyeri membuat Mama atau anak tidak bisa bangun atau kesulitan makan. Namun, jika rasa nyeri masih bisa ditahan dan tak mengganggu aktivitas harian, kita tidak perlu mengonsumsi obat antinyeri.

Hal yang perlu kita ingat adalah efektivitas obat antinyeri bersifat sementara, yakni meredakan nyeri saat itu juga. Jika rasa nyeri tidak berangsur pulih atau kambuh lagi empat jam kemudian, itu saatnya berkonsultasi ke dokter ya, Ma.

Fakta seputar demam

Bagaimana dengan demam? Perlukah kita maupun anak rutin minum obat pereda demam ketika mengalaminya? Pertama-tama, pahami dulu definisi demam. Jangan sampai kita menilai kondisi demam berbekal perabaan tangan di dahi saja. Sebaiknya ukur suhu tubuh menggunakan termometer, minimal lewat ketiak.

Berikut definisi yang dirangkum dr. Sarah dari berbagai sumber ilmiah:

  • Demam adalah peninggian suhu tubuh dari variasi suhu normal sehari-hari yang berhubungan dengan peningkatan titik patokan suhu di hipotalamus (bagian otak).
  • Suhu tubuh normal berkisar antara 36,5-37,2º Celsius. Sementara, suhu yang dikategorikan demam:
     ≥38º Celsius untuk suhu rektal;
     ≥37,5º Celsius untuk suhu oral;
     ≥37,5º Celsius untuk suhu ketiak.
    Jika kita rangkum lagi, suhu tubuh ≥38º Celsius termasuk demam, sementara ≥37,5º Celsius sudah mengarah ke gejala demam. Waspada bila suhu tubuh anak terus tinggi dan penurunannya tidak mencapai batas normal.
  • Lewat pengukuran rutin dengan termometer, kita menjadi tahu tren kenaikan suhu tubuh. Informasi ini menjadi acuan penting bagi dokter dalam menegakkan diagnosis.

Sebagai informasi, pengukuran suhu tubuh lewat anus tidaklah nyaman. Begitu pula, pengukuran lewat mulut yang tidak akurat. Jadi, pengukuran suhu tubuh lewat ketiak lebih direkomendasikan.



DO’s and DONT’s saat demam

Demam bisa disebabkan oleh faktor noninfeksi maupun infeksi seperti infeksi bakteri, virus, jamur, atau parasit. Hal yang perlu kita ingat, demam adalah reaksi alamiah tubuh ketika faktor penyebab terjadi. Dengan begitu, penatalaksanaan demam bertujuan untuk menyamankan tubuh dengan merendahkan suhunya yang terlalu tinggi, BUKAN untuk menghilangkan demam. Berikut adalah DOs and DON’Ts ketika anak dan orang dewasa mengalami demam.

DO’s:

  • Obat pereda demam dan nyeri bisa diminum ketika suhu mulai naik >37,5º Celsius dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Kita perlu mengobservasi setidaknya selama 24 jam ketika demam terjadi. Ini karena selama itu pula, masih banyak kemungkinan penyebab demam.
  • Kompres hangat. Menurut dr. Sarah, penelitan 15 tahun terakhir membuktikan, kompres hangat lebih efektif menurunkan suhu tubuh. “Demam itu ada di otak kita. Kalau badan kita dikompres dingin, otak merasa tak perlu menurunkan suhu cepat-cepat ke organ bawah. Kalau kompres hangat, sinyal ke otak (adalah) sudah saatnya menurunkan panasnya,” jelas dr. Sarah.
  • Kenakan pakaian yang tipis untuk mencegah panas tubuh terjebak di dalam.
  • Kontak kulit ibu dengan kulit anak (skin-to-skin) juga membantu menyamankan dan menurunkan suhu badannya.
  • Pemberian cairan dalam jumlah banyak untuk mencegah dehidrasi. Ini karena ketika demam, tubuh membutuhkan cairan untuk menurunkan suhunya. Jadi, ketika anak demam, pastikan ia banyak minum. Jika bayi masih mengonsumsi ASI, susuilah ia terus-menerus.
  • Jika anak ada riwayat kejang demam, cari tahu penatalaksanaan yang tepat.


Menurut penelitian Kaneshiro & Zieve (2010), penanganan demam perlu dilakukan secara langsung oleh dokter bila:

  • penderita berusia kurang dari 3 bulan mengalami peningkatan suhu tubuh >38º Celsius;
  • penderita berusia 3-12 bulan dengan suhu >39º Celsius;
  • penderita dengan suhu 40,5º Celsius;
  • demam yang tidak turun dalam 48-72 jam.

DON’Ts:

  • Kompres dingin karena justru membuat demam semakin parah.
  • Pemberian antibiotik tanpa resep dokter. Antibiotik bukan obat segala penyakit. Lebih jelasnya, antibiotik diberikan untuk indikasi infeksi bakteri dan hanya diresepkan oleh dokter. Pahami risiko penyalahgunaannya, yakni obat antibiotik tidak akan mempan ketika dibutuhkan. Ini karena bakteri telah menjadi resisten alias kebal.
  • Jika diagnosis penyakit telah ditegakkan, minum obat secara disiplin sesuai anjuran dokter. Bila penyebab sakit adalah infeksi bakteri, konsumsi antibiotik sesuai rekomendasi dokter dan habiskan obatnya. Ini untuk menghindari risiko resistensi bakteri yang semestinya bisa dikendalikan dengan antibiotik.

 


Parasetamol, obat pereda deman dan nyeri paling aman

Penjelasan dr. Sarah di atas menyadarkan saya betapa obat pereda demam dan nyeri menjadi salah satu amunisi penting untuk menjaga keamanan serta kenyamanan keluarga ketika mengalami nyeri dan demam. Menurut pengalaman pribadi, obat pereda demam dan nyeri membantu saya menyamankan anak yang sangat rewel akibat demam maupun saat tumbuh gigi. Khususnya, ketika saya sudah sangat lelah. Suami juga sering minta disediakan obat pereda demam dan nyeri ketika ia terkena selesma.

Tentu urban Mama tahu betul rasanya menjadi sosok yang menjalankan multiperan. Kita menjalankan peran setara dengan koki, psikolog, direktur keuangan, sampai tenaga kesehatan untuk keluarga. Kita pun harus selalu cermat dan sigap ketika ada anggota keluarga yang mengalami nyeri akibat gejala penyakit, sakit gigi, atau trauma seperti benturan. Apalagi bila kondisi-kondisi tersebut dialami oleh anak, orangtua harus ekstra hati-hati memberikan obat karena organ tubuhnya masih berkembang.


Jadi, sebaiknya pilih pereda demam dan nyeri yang mana? Soalnya menurut dr. Sarah, beberapa golongan obat tersebut rentan mengiritasi lambung, bahkan meningkatkan risiko pendarahan. Efek samping yang tidak hanya membahayakan anak-anak, tapi juga orang dewasa. Contoh obat yang dimaksud adalah ibuprofen. Menurut dr. Sarah, parasetamol merupakan pereda demam dan nyeri paling aman bagi lambung. Selain itu, parasetamol dapat menurunkan risiko pendarahan.


Di acara #TUMLuncheonXBiogesic, Mama blogger Fifi Alfianto menambahkan, parasetamol merupakan pereda nyeri yang dekat dengan dunia ibu-ibu. “Ketika ibunya sudah kenapa-kenapa, anak dan bapaknya enggak bisa apa-apa,” ungkap Mama Fifi yang juga menjadi pembicara. “Ibu jangan sampai sakit. Kalau sampai sakit, satu rumah kelabakan.”

Mama Hanana Fajar yang menjadi moderator acara turut mengingatkan, “Saat melakukan perjalanan jauh, sediakan parasetamol sebagai pertolongan pertama yang cepat.”

Jadi, pastikan Mama memiliki P3K dengan komponen di bawah ini di rumah maupun saat melakukan perjalanan:

  • Termometer. Untuk para calon ibu, termometer salah satu barang yang wajib ada dalam wish list.
  • Lengkapi obat-obatan pereda demam dan nyeri seperti parasetamol dalam bentuk drop untuk bayi, sirup untuk anak, dan tablet untuk dewasa. Sebagai informasi, obat dalam bentuk sirup tahan sebulan saja setelah dibuka. Pastikan obat sirup disimpan di lemari es setelah dibuka. Jangan lupa untuk selalu memeriksa tanggal kedaluwarsa sebelum membeli obat ya, Ma.
  • Obat antikejang bila anak ada riwayat kejang. Namun, pastikan Mama mengonsultasikannya ke dokter dahulu perihal waktu pemberian yang tepat.
  • Obat antihistamin (obat alergi) jika ada anggota keluarga yang memilki riwayat alergi. Resep sesuai anjuran dokter.

Biogesic, #PeredaNyeriKeluarga paling aman

Meski begitu, beberapa merek obat yang mengandung parasetamol ternyata memiliki zat tambahan seperti kafein. Tambahan kafein dalam parasetamol bertujuan mempercepat reaksi obat, namun dapat mengiritasi lambung. Saya pun baru tahu ternyata kafein dalam obat lebih banyak daripada kafein pada kopi.

Kabar baiknya, ternyata ada #PeredaNyeriKeluarga yang aman khususnya bagi anak balita. Yaitu, parasetamol bermerek Biogesic yang meredakan demam (antipiretik) sekaligus mengurangi rasa sakit (analgesik). Selain dapat digunakan saat anak rewel akibat demam, Biogesic juga dapat mengurangi rasa nyeri pada tubuh. Misalnya nyeri haid, nyeri sakit gigi, nyeri otot dan sendi, pembengkakan, serta sakit kepala.



Mama blogger Fifi Alfianto turut membagikan pengalamannya menggunakan Biogesic. “Aku kan, lambungnya sangat sensitif. Kalau Biogesic itu tanpa kafein, single paracetamol. Jadi yang lambungnya enggak kuat, lebih cocok sama Biogesic,” jelas Mama Fifi.

Kandungan 100% Paracetamol dan tanpa kafein inilah yang membedakan Biogesic dengan merek parasetamol lainnya. Biogesic aman dikonsumsi oleh anggota keluarga segala usia. Biogesic memiliki keunggulan lainnya, antara lain sebagai berikut:

  • Dokter telah merekomendasikan Biogesic selama bertahun-tahun.
  • Biogesic dapat dikonsumsi oleh ibu hamil dan ibu menyusui.
  • Ekonomis karena satu strip Biogesic terdiri dari empat tablet sehingga sesuai kebutuhan jangka pendek. Harganya pun terjangkau.
  • Desain modern kemasan strip Biogesic tablet membuatnya praktis untuk dibawa.
  • Sebagai #PeredaNyeriKeluarga, Biogesic tersedia dalam bentuk tablet dan sirup. Biogesic tablet dengan kandungan 500 mg parasetamol bisa untuk meredakan sakit kepala maupun nyeri haid, gigi, otot, dan sendi.
  • Untuk anak-anak di atas 3 tahun, Biogesic tersedia dalam bentuk sirup manis rasa jeruk yang mengandung 160 mg parasetamol.


Perihal takaran, dr. Sarah menyarankan dosis parasetamol untuk anak semestinya memperhitungkan berat badan, bukan usia. Soalnya, penyamarataan dosis berdasarkan usia anak sering kali tercantum pada kemasan obat parasetamol. Dokter Sarah lantas memberitahukan cara menghitung dosis parasetamol untuk anak dalam sekali minum:

Dosis parasetamol untuk anak dalam sekali minum= [10 – 15 mg x Berat Badan anak]

Perlu diingat ya urban Mama, pemberian parasetamol yang berlebihan (sampai 10.000 mg dalam sehari) dapat meracuni hati dan ginjal. Jadi, pastikan parasetamol diberikan sesuai dosis yang tepat sesuai dengan kebutuhan.

Sebagai catatan, parasetamol juga memiliki kontraindikasi, antara lain pada penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat dan penderita yang hipersensitif terhadap parasetamol.


Serunya mencoba brush lettering

Di acara #TUMLuncheonXBiogesic ini, saya juga mencoba brush lettering untuk pertama kali dipandu Mbak Feni @besinikel. Pengalaman yang seru sekaligus menenangkan, walau sepertinya saya belum berbakat. Mbak Feni begitu ramah dan sabar membimbing para peserta. Menariknya lagi, workshop ini tak sekadar jadi ajang coba-coba, tetapi juga ajang unjuk gigi. Di akhir acara, para panitia pun memilih hasil karya brush lettering terbaik.

 

Cek perbedaan hasilnya antara pemula (saya) dan pemenang (kanan) sesi brush lettering #TUMLuncheonXBiogesic.

Meski gagal memberikan karya brush lettering terbaik, saya tak lantas berkecil hati. Terlebih di akhir acara, panitia mengumumkan bahwa saya menjadi salah satu pemenang #TUMLuncheonXBiogesic social media competition. Alhamdulillah, hadiahnya voucher belanja sebesar Rp250.000!



Tentunya, hal utama yang membuat saya senang sekali menghadiri acara ini adalah kesempatan bertemu para Mama inspiratif. Thank you for having me, The Urban Mama dan Biogesic!

Febi Purnamasari

A new mother of two who loves sharing whatever she has learned from seminars and books especially related to parenting issues. She’s now developing her career path as journalist for a national television. Belly-dancing is her hidden obsession.

0 Komentar

 

Anda harus Log In untuk memberikan komentar terhadap artikel ini.

Silakan Login di Sini