Menyusuri Persawahan di Ubud

Oleh luh ayu kusuma sari pada Kamis, 07 Juni 2012
Seputar Our Stories

Pada suatu akhir pekan di Ubud, saya dan suami menentukan ingin mengunjungi sebuah restoran dengan menu makanan dan minuman berbahan baku organik, yang posisinya di tengah sawah dan  untuk menuju ke sana hanya bisa dengan berjalan kaki atau mengendarai sepeda motor. Jarak dari jalan besar ke restoran itu sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya 1 km saja. Namanya Bodag Maliah.

Oh ya, mungkin ada yang belum tahu di mana letak Ubud? Daerah Ubud ada di Pulau Bali, di Kabupaten Gianyar. Kurang lebih 45-60 menit perjalanan mobil dari Kuta. Kalau jalan-jalan ke Bali biasanya patokannya daerah Kuta untuk mengira-ngira posisi suatu lokasi.

Tidak banyak persiapan kami sebelum ke sana walaupun mengajak dua balita, apalagi salah satunya masih di bawah 2 tahun dan masih lebih suka digendong. Persiapannya? Tidak aneh-aneh, hanya topi, alas kaki yang nyaman dipakai, dan tabir surya untuk anak-anak. Kami juga mempersiapkan stroller untuk Citta si bungsu. Tapi setiba di lokasi, papanya berpikir untuk digendong saja, karena sepertinya akan lebih cepat daripada mendorong stroller di jalan setapak kecil di tengah sawah yang tidak rata. Akhirnya kami pun memulai perjalanan kami di siang hari menjelang pukul 12. Sebenarnya, ketika di ujung gang kecil menuju restaurant saya sempat sedikit menyesali keputusan jalan-plus-makan ini. Panas sekali! Dan di ujung jalan itu pun dilapisi semen, sehingga panas matahari menjadi terpantul dan membuat gerah.

Sebenarnya kami ingin kembali ke mobil mengambil stroller, toh jalannya rata, pikir kami. Tapi ternyata jalan semen itu hanya 100 meter, berakhir di sebuah vila dan seterusnya adalah jalanan setapak kecil, yang hanya cukup dilalui satu sepeda motor, bahkan kalau berpapasan salah satunya harus berhenti. Untungnya dengan berakhirnya jalanan semen itu, mulai banyak pohon kelapa dan angin sawah yang semilir membuat siang di tengah sawah tidak terasa terlalu menyengat. Anak-anak pun cukup menikmati jalan kaki sambil melihat aliran sungai kecil yang mengairi sawah, burung-burung terbang di udara, serangga di kiri kanan jalan, hamparan hijau sawah. Si sulung Bodhi, cukup tangguh berjalan kaki, walau sesekali minta digendong dan mengeluh capek. Tapi dengan sedikit rayuan, dia kembali bersemangat.

Begini kami menelusuri pematang sawah di siang hari. Bodhi bernyanyi-nyanyi sambil lompat sana lompat sini, dan Citta tertawa-tawa melihat ulah kakaknya.

[caption id="attachment_67891" align="alignnone" width="222" caption="Lompat sana, lompat sini"][/caption]


Sepanjang perjalanan kami beberapa kali bertemu pengunjung yang saat itu kebanyakan wisatawan asing (tapi hanya ada 2 orang anak kecil) yang tersenyum-senyum melihat Bodhi dan Citta, dan tidak sedikit yang menyemangati mereka untuk tidak menyerah sampai ke tujuan. Begitu pula ketika akhirnya setelah kurang lebih 30 menit perjalanan, kami pun sampai di depan pintu restoran dan bertemu beberapa turis yang hendak pulang, dan mereka menyapa Bodhi dan Citta dengan ucapan  "Yeay!! Finally... finish!!" sambil mengacungkan kepalan tangan ke atas. Mau makan ternyata mesti berjuang dulu, ya.

Sampai di sana, suasananya nyaman sekali. Dikelilingi pemandangan sawah (tapi sayang di kejauhan juga terlihat mulai  banyak bangunan permanen).

[caption id="attachment_67901" align="alignnone" width="222" caption="Selain makanan, tersedia juga produk kosmetik alami"][/caption]


Kami memilih duduk di balai-balai dengan banyak bantal. Dan rupanya pilihan itu tidak salah, karena anak-anak bisa tidur-tiduran melemaskan badan mereka yang lelah. Dan Bodhi sedikit ribut meminta minum karena kehausan. Proses memilih menu tidak lama, karena sudah lapar dan haus. Untuk makanan saya memilih nasi campur Bali dengan ikan (yang seluruh bahannya organik dan selain pilihan ikan juga tersedia ayam dan vegetarian), papa memilih gado-gado, untuk Bodhi dan Citta saya pilihkan sup labu kuning, pancake dengan topping buah Wani yaitu buah sejenis mangga dengan daging berwarna putih dan rasa asam manis segar. Selanjutnya sambil menunggu kami bisa foto-foto dulu.

[caption id="attachment_67895" align="alignnone" width="222" caption="istirahat sebelum makanan datang"][/caption]


Nah, menu pilihan pun datang, dan begini penampakan minumannya. Rasanya segar dan unik!! Dengan sedotan bambu yang dapat digunakan kembali. Oh ya, si Papa sempat lihat sewaktu mereka mencuci sedotan bambu itu. Setiap akan dipakai direndam air panas dulu, jadi cukup terjamin kebersihannya.

[caption id="attachment_67896" align="alignnone" width="222" caption="Strawbery juice, Ice kambucha, Ginger Salsa"][/caption]


Sementara makanannya tampak seperti berikut ini. Mungkin banyak yang menilai penampilannya kurang menggiurkan, tapi tentu lebih juara secara nutrisi dan kesehatan. Menurut saya rasanya enak!! Selesai makan, rasa kenyangnya berbeda, tidak berasa eneg dan tidak mengantuk kekenyangan. Apalagi setelahnya kami harus menempuh perjalanan kembali menuju mobil kan? Jadi terasa mendapat energi baru.

[caption id="attachment_67898" align="alignnone" width="222" caption="Nasi Campur Bali dengan Ikan"][/caption]


[caption id="attachment_67899" align="alignnone" width="222" caption="Gado-gado dengan kerupuk daun bayam."][/caption]


[caption id="attachment_67900" align="alignnone" width="222" caption="Menunya anak-anak. Pancake buah Wani dan sup labu kuning"][/caption]


Pada perjalanan pulang, karena sudah mendapat asupan energi rasanya perjalanan menjadi lebih pendek. Dan barulah kami berfoto lebih sering dan lebih banyak.

[caption id="attachment_67905" align="alignnone" width="222" caption="Ini yang kami lihat dari dekat."][/caption]


[caption id="attachment_67906" align="alignnone" width="222" caption="Sebagai anak 'kota', melompati parit sesempit ini pun sudah terasa spesial"][/caption]


Menurut saya, tidak ada salahnya sesekali mengajak anak berakhir pekan dengan kegiatan yang dekat dengan alam, pasti terasa lebih seru!!

Kategori Terkait


Tag Terkait

8 Komentar
Honey Josep
Honey Josep June 20, 2012 5:50 pm

seruuuu dan Ubud memang wajib dikunjungi bila ke Bali :)

tfs mama Luhayu :)

luh ayu kusuma sari June 13, 2012 7:37 pm

Lebih sulit mencari papan namanya di pinggir jalan Ubud nya mom sebenarnya. Karena kecil nyempil dan sederhana sekali :) Kalau sudah ketemu jalan masuknya itu, tinggal diikuti jalan setapaknya, pasti berujung di restoran itu. Dan oh ya satu lagi, yang lebih sulit di Ubud itu mencari parkiran mobil, kalau nggak bawa anak2 lebih enak naik motor atau bersepeda di Ubud hehehe

Herna Hananta June 13, 2012 4:32 pm

thanks for sharing, tempatnya unik yah sepertinya, walaupun cukup sulit buat kesananya, tapi tetep aja ketemu yah, keren

Mia Aristanti
Mia Aristanti June 7, 2012 3:09 pm

loh ini bukannya namanya Sari Organik ya? dulu pernah ke sini waktu hamil 7bln, weh lumayan ya jalannya ke sana :-) harusnya begitu tiba, para tamu langsung disuguhi complimentary air putih ya, apalagi pas lunchtime pasti kepanasan dan kehausan pas mencapai lokasi. waktu jalan pulangnya sih dah ga brasa jauh lagi, badan dah seger diisi makanan lezat dan sehat. Oiya jalurnya dah masuk ke film Eat Pray Love loh!

luh ayu kusuma sari June 7, 2012 3:16 pm

iya satu group dgn sari organic, nama restonya bodag maliah dan satu lagi lupa, hehe ada di websitenya mom. hebat lho hamil 7bulan, tracking di sawah :)
iya betulll mestinya complimentary air putih dan hand towel dingin ya hehehe

sidta
sidta June 7, 2012 1:53 pm

seru banget ya makan-makannya bodhi dan citta :), makasih mbak jd menginspirasi buat main2 ke sawah ..

 

Artikel Terbaru
Senin, 09 November 2020 (By Expert)

Mengenal Lebih Dekat Rahasia Manfaat BPJS Sebagai Asuransi Proteksi Kita

Jumat, 25 Desember 2020

6 Keuntungan Tidak Punya Pohon Natal di Rumah

Kamis, 24 Desember 2020

Rahasia kecantikan Alami dari THE FACE SHOP YEHWADAM REVITALIZING

Rabu, 23 Desember 2020

Lentera Lyshus

Selasa, 22 Desember 2020

Different Story in Every Parenting Style

Senin, 21 Desember 2020

Menurut Kamu, Bagaimana?

Jumat, 18 Desember 2020

Santa's Belt Macarons

Selasa, 15 Desember 2020

Christmas Tree Brownies