Theurbanmama

Operasi FAM Ketiga di Usia 40 Tahun

Rabu, 04 Oktober 2017

Awalnya saya bingung memberi judul pada tulisan ini. Apakah “Operasi FAM di Usia 40 tahun”, atau “Operasi FAM Ketiga Kali”. Adapun FAM adalah singkatan dari Fibroadenoma Mammae atau tumor jinak pada payudara. Kondisi ini kerap diidap wanita usia 20-30 tahun. Ciri khas benjolan FAM adalah mudah bergeser saat disentuh, bentuknya teratur padat dengan konsistensi kenyal ataupun keras dan teraba permukaannya licin. FAM ini bisa membesar atau mengecil dengan sendirinya dan memiliki ukuran variatif. Penyebab FAM sendiri hingga kini masih diperdebatkan di kalangan kedokteran. Ada yang mengatakan bahwa fibroadenoma adalah respon tidak normal tubuh wanita terhadap hormon estrogen. Namun kebanyakan dokter pun mengatakan bahwa penyebabnya bisa datang dari pola makan. Makanan banyak lemak, penyedap rasa, pewarna, ditenggarai menjadi salah satu penyebab utama penyakit ini. Kondisi tumor jinak jenis ini biasanya dialami wanita usia 20-30 tahun. Mengapa saya yang sudah usia kepala 4 kok masih kena juga ya?

Saya sendiri mengidap FAM pertama kali di usia 17 tahun. Bagaimana tidak, waktu masih kecil sampai remaja pun ya doyannya makanan dengan penyedap rasa seperti mi instant, aneka snack ringan, dan juga makanan cepat-saji. Lalu saya menempuh jalur operasi untuk mengangkat benjolan. Dokter menasihati agar saya menjaga asupan makanan. Memang sangat sulit, apalagi setelah lepas SMA saya kuliah lalu kerja dan semuanya dilakoni dengan nge-kost. Saya masih makan masakan rumahan tetapi yang dijual di warung atau kedai makanan, yang kemungkinan pada proses memasaknya menggunakan MSG dan banyak minyak. Pada tahun 2002, saya kembali didiagnosa FAM. Jika pada FAM pertama benjolan terdapat di payudara kanan. Maka kali ini benjolan tumbuh di kiri dan kanan. Saya lagi-lagi menempuh jalur operasi untuk mengeluarkan benjolan.

Pada tahun 2008, saya menikah dan mempunyai anak. Pola makan memang sesekali masih sulit untuk menghindari aneka makanan pemicu FAM. Di tahun 2009, saya kembali merasakan ada benjolan di bawah ketiak dekat payudara kiri. Pikiran saya langsung “Wah, kena FAM lagi nampaknya.” Dari tiga kali kena FAM, sebelum akhirnya operasi, saya mendiamkan dulu benjolan tumor itu sampai beberapa bulan bahkan yang terakhir ini saya mendiamkan sampai hampir 8 tahun, karena memang tidak terasa sakit dan tidak mengganggu. Memang ini tidak baik karena seharusnya langsung periksa ke dokter ketika sudah menemukan benjolan. Mengapa saya sampai bertahun-tahun mendiamkan benjolan terakhir? Karena saat itu saya punya anak kecil, sempat terpikir jika saya dioperasi, siapa yang akan mengurus anak sehari-hari? Walau ada suami, namun peran istri dalam mengurus rumah tangga sehari-hari tentunya lebih dominan.

FAM

Akhirnya di bulan Mei 2017, ketika saya merasa anak-anak saya sudah cukup besar dan mandiri, saya memberanikan diri untuk periksa ke dokter. Tidak sampai satu minggu sejak periksa, saya pun kembali dioperasi untuk yang ketiga kalinya, di usia 40 tahun. Saya bertanya pada dokter bedah yang menangani, mengapa saya terus menerus kena lagi? Padahal sudah usia 40 tahun yang bukan merupakan usia wanita yang idealnya kena FAM, tapi masih saja kena lagi?

Dokter kembali menelusuri riwayat kesehatan saya dan akhirnya menemukan bahwa saya memiliki masalah dengan imunitas tubuh. Saya memang alergi terhadap obat golongan penicillin dan bactrim. Minum kedua jenis obat tersebut, langsung gatal-gatal dan sesak nafas. Dokter menyimpulkan karena daya tahan tubuh saya lebih lemah dibanding orang lain, itulah sebabnya jadi kena FAM lagi dan lagi. Ilustrasinya: orang lain kuat pakai obat penicillin, saya tidak. Orang lain sangat sering makan fast food dan makanan ber-MSG dan tahan terhadap penyakit termasuk FAM, namun saya tidak.

FAM

Para wanita dapat melakukan SADARI untuk mengetahui apakah memiliki FAM atau tidak. Jika menemukan ada benjolan abnormal, pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan secara medis, baik dengan USG payudara maupun mammografi (pemeriksaan menggunakan sinar X). Tumor jinak payudara dapat berpotensi menjadi kanker apabila tumornya mengandung kista abnormal dan jaringan yang tidak tembus cahaya. Diagnosis untuk mengetahui adanya potensi kanker hanya bisa dilakukan melalui proses biopsi atau dengan mengambil sampel jaringan dalam benjolan untuk dianalisa di laboratorium.

Setelah operasi ketiga, semua hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan tumor tersebut hanya jinak dan tidak berpotensi menjadi ganas. Namun operasi ketiga ini menjadi wake-up call bagi saya agar semakin memperhatikan pola makan dan gaya hidup sehat. Lebih sering masak sendiri tanpa menggunakan MSG, walau sesekali tidak bisa menghindari jajan makanan terutama saat sedang ada acara di luar rumah. Sekarang pikiran pun sudah lebih fokus: ya, saya punya anak dan suami. Punya keluarga yang harus diperjuangkan. Bagaimana mau memperjuangkan keluarga jika saya tidak menjaga kesehatan diri sendiri?

Mudah-mudahan, operasi FAM ketiga ini adalah yang terakhir. Semoga artikel ini bisa menginspirasi para Urban Mama semua untuk semakin menjalankan pola hidup sehat agar terhindar dari beragam penyakit. 

Imelda Sutarno A working mom with two gorgeous krucils. Suddenly love the outdoor recreations as an impact of married with her scuba diver husband, Bambang. Take the kids from beach to the hill, from forest to the waterfall, will always give her (and her husband) joy and enthusiastic. Cooking isn’t her middle name but always trying to give her family the best food that she can. Now she lives in Jakarta.
Related Tags : ,,,
Apa Reaksi Anda ?
12 Comments
Post a Comment
You must be in to post a comment.