Racial Harmony Day di Singapura

Oleh shinta lestari pada Selasa, 23 Juli 2013
Seputar Activities

Seperti yang pernah dijelaskan oleh Thalia di sini, anak-anak di Singapura merayakan Racial Harmony Day setiap tanggal 21 Juli. Seperti Aina, Naia juga selalu ikut serta. Tahun-tahun sebelumnya, Naia sudah berganti-ganti memakai baju kebaya, cheongsam, bahkan sampai baju India. Walaupun selalu disarankan untuk memakai baju dari budaya asal si anak, sering juga anak-anak Singapura memakai baju dari berbagai macam kultur yang ada di dunia, terutama yang memang ada di Singapura.

Intinya pesan dari Racial Harmony Day ini adalah untuk menghargai perbedaan yang ada di antara anak-anak di Singapura, di mana mereka belajar, bermain, dan berteman dengan teman-teman dari berbagai ras, suku, dan budaya. Mereka belajar untuk menghargai dan tetap bisa tumbuh bersama tanpa menjadikan ras sebagai perbedaan di antara mereka.

Tahun ini, seperti Aina, Naia juga memakai kebaya. Kebetulan ada beberapa kebaya yang dibelikan oleh Neneknya tahun lalu yang ternyata baru cukup tahun ini. Kainnya pun dijahit oleh Neneknya sebagai oleh-oleh untuk Naia ketika Nenek terakhir berkunjung.

Ada yang sedikit berbeda dengan perayaan Racial Harmony Day di sekolah Naia tahun ini. Saya, sebagai orangtua, diminta untuk datang. Selain diminta untuk membawa makanan tradisional dari budaya kami, juga diminta untuk membawa permainan tradisional. Saya datang membawa congklak.

Ternyata acaranya ramai sekali dan dibuat seperti pameran kultur & budaya. Para orangtua yang datang dihibur oleh anak-anak menyanyikan lagu traditional dari berbagai budaya, seperti lagu Burung Kakak Tua dari budaya Melayu, sampai tarian dengan lagu India. Seru sekali!

Lalu kami diminta untuk melihat showcase tiap ruangan yang sudah diberikan tanda untuk pameran kultur Melayu, Chinese, atau India. Di dalamnya ada meja yang berisi baju-baju budaya dari masing-masing ras, lalu ada meja khusus untuk makanan traditional dari budaya tersebut. Tak ketinggalan, sudah disiapkan area untuk anak-anak bermain dengan mainan-mainan tradisional.

Kebetulan kelas Naia jadi ruang untuk budaya Melayu. Anak-anak diperkenalkan dengan mainan-mainan tradisional yang tentunya mirip dengan mainan masa kecil kita di Indonesia. Ada main kelereng, main karet, bola bekel, sampai nostalgia bikin balon dari jelly yang pasti urban Mama masih ingat deh! Lucunya anak-anak ini sama sekali tidak kenal mainan tersebut, jadi kami para orangtua diminta untuk menunjukkan ke anak-anak bagaimana cara memainkannya. Di kelas lain, juga ada mainan-mainan seru dari budaya India & China, sampai ada area untuk menulis huruf China dengan kuas dan menggambar tato Henna. Seru sekali!

Pada zaman sekarang, di mana sudah terlalu biasa anak-anak diberikan iPad untuk menemani mereka setiap hari, ternyata kita lupa bahwa banyak mainan-mainan seru yang dulu sering kita lakukan, dan lebih seru. Mengajak anak-anak untuk bermain permainan tradisional ini sungguh membuka mata bahwa sebagai orangtua, ada baiknya kita sering-sering mengajak mereka bermain dengan mainan tradisional zaman dulu. Simpel, tidak kalah seru dan yang pasti membuat anak-anak bergerak dan bermain, tidak saja jari-jarinya saja yang bergerak memencet touch screen.

12 Komentar
~Anthie Arvianto~
~Anthie Arvianto~ July 28, 2013 9:03 am

seru bangeeeet,,,
di rumah ada congklak,, dan lumayan sering maen sama olel,,, awal nya di ga ngert gimana cara main nya,, sekarnag udah lumayan ngerti,,, duh jadi kangen maen karet & benteng deh, heheheh

thalia kamarga
thalia kamarga July 26, 2013 5:00 pm

waaa, ada henna segala! seru tuh! aina pasti suka... taun lalu, gue juga disuruh bawa mainan & makanan tradisional (karena aina waktu itu jadi orang jepang, ya disesuaikan). tapi taun ini makanan optional dan mainan ga usah. entah kenapa... katanya sih snacknya dikasih ama guru masing2.

Zulfi Zumala
Zulfi Zumala July 24, 2013 6:10 pm

melihat acara di sekolahannya Naia jadi mikir untuk mulai mengenalkan tentang "perbedaan" pd Risyad. Btw, sy suka tulisannya mbak Shinta tentang puasa di luar negri, bener bgt kita tdk akan bisa respect other kl belum pernah jd minoritas.

shinta lestari
shinta lestari July 24, 2013 4:21 pm

@ninit: ihiyy.. makasiii niitt! :*)

@cindy: iya seru! makasih loh dibilang mirip mama cantiknya :P

@eka: iya nenek emang suka jahit, biasanya suka jahit kebaya juga buat mbah, ato sarung bantal, ato gorden.. gitu deh..

@zata: iya menghargai perbedaan itu penting banget diajarin dari kecil. kita di indonesia kadang suka lupa ttg perbedaan ini, kayaknya ga pernah deh diajarin untuk menghargai perbedaan itu ya? makanya sekarang maunya maksa instead of toleransi.

@baiq_intan: iya harusnya di indo juga ada ya? kayak pas hari kartini atau 17 agustusan, harusnya ada tema yang lebih mengharga perbedaan2 di antara budaya masyarakat indonesia.

@kanahayaku: iya pas diajakin maen games jaman dulu itu, seruu banget! mamanya juga jadi nostalgia.

@zulfi: sama-sama. naia selalu pake kebaya kok tiap tahun. entah itu pas acara racial day atau acara lain. kadang kalo racial day dia suka pake baju daerah lain juga, tapi pasti dalam setahun ada pake kebaya. gue suka liat anak2 pake kebaya gitu. lucuu!!

@inayati: singapore itu negara yang kecil ya, jadi sejak adanya racial day celeb ini memang sudah ditanamkan ttg perbedaan ini. dan kalo gue liat orang2 singapore sih sangat mengharga perbedaan2 budaya yang ada. jarang sekali terdengar ada ribut2 karena perbedaan ini. udah mayan asimilasi, sampai yang nikah antar ras juga banyak kok.

Inayati
Inayati July 23, 2013 6:41 pm

seru ya acaranya :). btw, dengan adanya acara2 spt ini, berimbas ga shin ke para dewasanya? (baca: mereka memang jadi menghargai perbedaan)