Theurbanmama

Rencanakan Keluarga, Hidup Lebih Bermakna

Jumat, 11 Agustus 2017

Saya termasuk tipe orang yang suka membuat rencana. “Planning” is my middle name. Selain melakukan banyak perencanaan dalam pekerjaan, sebagai seorang ibu saya selalu sibuk berencana. Kadang ketika mau memejamkan mata, saya langsung teringat “to do list” dan mulai merencanakan menit ke menit apa yang harus saya lakukan keesokan harinya. “Oh saya harus top up kartu tol besok pagi karena saldo sudah menipis. Sekalian ambil uang untuk beli listrik. Oh sekalian beli roti tawar untuk bekal sekolah. Nutella tinggal sedikit, harus dicatat dalam daftar belanjaan minggu ini. Oh besok pagi tanya di grup whatssapp ibu-ibu teman sekolah Adek, siapa saja yang akan ikut imunisasi MR,” dan rencana-rencana itu terus mengalir di kepala. Siapa yang seperti saya?

Akui saja, ibu-ibu itu senang berencana dan seringkali terlalu detail, bahkan sebagai ibu-ibu kita punya rencana A sampai Z. Betul kan? Itu baru rencana harian, belum lagi rencana belanja bulanan, belum lagi rencana liburan.

Rasanya, tak ada satu pun yang luput dari perencanaan. Termasuk rencana mau punya anak berapa. Satu? Dua? Saya bersyukur sudah dikaruniai dua putra yang sehat dan cerdas. Sejak awal menikah memang kami  merencanakan punya anak dua saja dan mengatur jaraknya (mereka berbeda 4 tahun 364 hari). Alhamdulillah. Banyak hal yang saya syukuri karena perencanaan keluarga ini, antara lain:

Jarak umur lima tahun

Perbedaan usia lima tahun membuat Kakak mendapatkan perhatian penuh selama masa balitanya. Saat Adek lahir, Kakak sudah mulai sibuk sekolah, jadi tidak lagi berada di rumah sepanjang hari. Jadi Adek juga bisa mendapatkan perhatian penuh di rumah saat Kakak sedang bersekolah atau ada acara bersama teman-temannya. Saya sendiri juga merasa tenaga sudah kembali pulih dan siap menjalani proses kehamilan, melahirkan, dan mengasuh bayi.

Mengejar Karier

Meskipun punya anak dan keluarga, suami saya tetap mendukung keinginan saya untuk tetap berkarier dan berkarya. Meniti anak tangga karier memang bukan hal yang mudah, kompetisi ketat, ilmu terus berkembang. Apalagi bagi seorang ibu. If I had not run, I would have been run off. Awalnya saat Kakak lahir, ASI eksklusif, lanjut memerah ASI hingga usia 2 tahun, kemudian disapih usia 3 tahun. Dulu, setiap saya pergi dinas, Kakak selalu ikut. Mulai dari Aceh, pulau Simeuleu, Balikpapan, hingga Kediri. Saya sibuk bekerja, Kakak jalan-jalan di setiap kota yang kami singgahi. Setelah itu Kakak masuk sekolah, enak ditinggal-tinggal, dan mulailah perencanaan anak kedua.

Mengejar karier bukan hal yang tidak mungkin selama anak dan keluarga tetap menjadi prioritas dan kita punya support system yang kuat. Beruntung sekali saya punya suami yang suportif.

Lebih Banyak Waktu dengan si Buah Hati

Saya selalu berusaha untuk meluangkan waktu untuk anak-anak. Masa kecil tidak akan terulang kembali, kan. Selain pergi berempat sekeluarga, saya juga suka pergi berdua saja dengan salah satu anak. Biasanya saya berbagi tugas dengan suami. Kalau saya pergi dengan Kakak, maka suami akan pergi dengan Adik. Masing-masing punya karakter yang berbeda, hobi dan kesukaannya pun berbeda. Seru sekali pergi dengan Kakak yang mulai memasuki usia remaja, ia merasa lebih nyaman bercerita tentang teman-temannya tanpa gangguan dari Adek. Sementara saya juga senang menemani Adek bermain di playground misalnya, menikmati setiap waktu yang ada dengannya.

Waktu Berdua dengan Pasangan

As old married couple, obrolan romantis sudah kami lupakan. Banyak obrolan justru berat-berat topiknya, misalnya mengenai perencanaan keuangan, dana pensiun, perjalanan bisnis kami, dan lain-lain. Enaknya punya anak yang usianya paling kecil SD ini, membuat kami bisa punya lebih banyak waktu berdua. Weekend getaway berdua saja. Staycation berdua saja. Mungkin kalau Adek masih TK, kami tidak berani sering-sering berduaan. Sekarang anak-anak sudah bisa menghibur diri sendiri, sudah punya teman main.

Waktu untuk Diri Sendiri

Ada satu rencana ambisius saya, berlari full marathon di World Major Marathon. Saya ini bukan orang yang suka olahraga. Waktu sekolah dulu, saya sering melewatkan pelajaran olahraga dengan alasan malas kalau berkeringat. Sekarang saya berani bermimpi lari full marathon. Teman-teman sekolah saya dulu pasti takjub kalau lihat saya sering latihan. Saya berlatih dengan klub lari dua kali seminggu, latihan di gym dengan pelatih pribadi dua kali dalam seminggu, ditambah PR-PR lari dan long run sekali seminggu, waktu saya sudah habis minimal 10 jam seminggu untuk persiapan lari. Dengan perencanaan yang matang saat membangun keluarga, saya jadi bisa punya me time untuk mewujudkan impian saya yang satu ini.

 

Sebenarnya banyak manfaat yang saya dan suami rasakan dengan melakukan KB. Namun saya bagikan sedikit cerita mengenai kami yang menjadi lebih terencana. Terutama mengenai waktu. Time, the one thing that money can’t buy. The one thing that if lost, it will never be found again. So plan, you only live once.

Related Tags : ,,,,
Apa Reaksi Anda ?
5 Comments
Post a Comment
You must be in to post a comment.