Roda Pedati: Kadang di Atas, Kadang di Bawah

Oleh Jihan Davincka pada Senin, 20 April 2020
Seputar Our Stories
Roda Pedati: Kadang di Atas, Kadang di Bawah

Beberapa tahun terakhir isu 'Saudinisasi' kembali gencar berhembus di Arab Saudi. Pernah diadakan razia iqama (tanda pengenal untuk para pendatang yang bermukim di Saudi). Razia kadang juga diberlakukan kepada para pekerja profesional.

'Saudinisasi' bukan isu baru. Pemerintah Saudi memang dipusingkan dengan membanjirnya pekerja pendatang. Sebuah sumber menyebutkan sensus tahun 2010 menunjukkan, sekitar 30% penduduk Saudi adalah pendatang.

Saya pernah membahas hal ini dengan suami, "Kenapa akhir-akhir ini Saudi seperti ingin mengusir pendatang?"

"Mereka butuh lapangan kerja untuk angkatan kerja usia mudanya."

"Kok baru ribut-ribut belakangan ini?"

Baru deh suami mulai mendongeng panjang lebar. Konon di tahun 70 hingga 80-an, Saudi mengundang orang-orang dari luar untuk datang dan ikut 'membangun' Saudi. Potensi sumber daya alam minyak sedang booming, sementara saat itu Saudi belum 'siap'. Malah katanya, waktu itu status warga negara relatif mudah didapatkan.

Mungkin Kerajaan Saudi 'terlena' terlalu lama. Puluhan tahun berlalu, penduduk Saudi sudah makin banyak. Bayi-bayi mereka tumbuh dewasa, dalam 10 tahun terakhir ini pemuda-pemudinya sudah mencapai usia siap kerja. Masalahnya, mau kerja apa?

Perusahaan tak akan sembarangan memilih pegawai. Para pemuda Saudi kurang ditempa dan malah mendapat perlakuan istimewa dari pemerintah. Sekolah gratis, kesehatan gratis, biaya hidup murah serta berbagai macam kemudahan lainnya. Dijejali kekayaan minyak berlimpah dan pemasukan umrah-haji, Saudi termasuk negara "kaya" walau belum bergelar "negara maju". Tiap tahun, jutaan jemaah dari seluruh penjuru dunia akan berbondong-bondong mendatangi Saudi tanpa bujukan iklan apa pun. Kalau negara-negara lain bersusah payah memasang iklan sana-sini agar wisatawan datang berkujung, Saudi malah dengan ketat membatasi jumlah pengunjung ke negaranya.

Wajar jika pemerintah 'memanjakan' penduduk asli Saudi yang didominasi oleh orang Arab. Salah satu jalan yang harus diambil pemerintah adalah 'mengusir' para pendatang, untuk memuluskan para pemuda Saudi mendapatkan kesempatan kerja. Upaya inilah yang disebut sebagai Saudinisasi. Beberapa tahun belakangan ini, berbagai cara telah ditempuh. Antara lain tiap perusahaan memasang kuota pegawai asal Saudi. Memaksa perusahaan untuk mempekerjakan orang Saudi asli sejumlah kuota tersebut. Perusahaan yang 'bandel' akan masuk dalam zona merah.

Butuh waktu bagi Saudi untuk mensukseskan program Saudinisasi ini. Membangun etos kerja dan perilaku karyawan bukan pekerjaan cepat yang mudah. Kalau harus bersaing dengan pekerja asing, para perantau yang semangat kerja dan skill-nya tidak main-main, pemuda-pemudi Saudi sepertinya belum begitu sanggup. Namun tak mungkin juga main usir begitu saja kepada para pendatang. Perusahaan swasta dan asing juga tidak mau rugi. Tentu pemerintah Saudi tak ingin investor luar hengkang dari sana.

Alasan lain dari Saudinisasi ini adalah maraknya pekerja ilegal. Warga Saudi butuh banyak bantuan dalam urusan domestik rumah tangga. Keluarga Saudi punya asisten rumah tangga beragam: ada asisten untuk memasak, membersihkan rumah, belum lagi pengasuh anak. Supir juga wajib, karena kaum perempuan di Saudi tidak boleh menyetir kendaraan sendiri. Upah pekerja informal juga murah. Namun pemerintah Saudi kurang tegas dan tak sadar membiarkan para pendatang menjejali tanah mereka.

Para pendatang ini pun tak sedikit yang merasa nyaman tinggal di Saudi. Betah secara psikologis mungkin tidak. Sebagian merasa beruntung secara ekonomi dengan bekerja di Saudi. Tidak sedikit dari mereka yang tetap bertahan walau istri dan anak-anak sudah dipulangkan ke tanah air. Strateginya, mereka mendulang uang di Saudi untuk dikirim ke tanah air. Nanti istri dan anak-anak yang memanfaatkan biaya tersebut untuk membuka usaha di tanah air. Jadi, jangan buru-buru menyangka TKI di Arab Saudi itu hidupnya susah. Supir taksi juga bisa menjadi juragan kontrakan di tanah air.

Saudi berbeda dengan negara Timur Tengah lainnya. Biaya hidup di Saudi jauh lebih rendah daripada negara tetangga-tetangganya. Berdasar pengalaman dulu selama tinggal di Saudi, harga daging sapi dan beras lebih murah daripada di Jakarta. Karena berlimpah pendatang, termasuk perantau dari Indonesia, hidup di Jeddah tidak terasa seperti di luar negeri. Kami di Jeddah tetap bisa mendapatkan makanan khas tanah air seperti tempe dengan harga 3 riyal saja (dulu kurs 1 saudi riyal = 2500 rupiah). Di negara luar negeri lainnya, ada yang jual tempe seharga 7500 rupiah untuk jumlah yang sama seperti kalau beli di tanah air? Jangan ditanya harga sepotong tempe di  Irlandia, mahal. Harga bensin juga sangat murah di Saudi. Tahun 2012, per liter selevel Pertamax dijual seharga 1500 rupiah per liter di sana.

Saudi tak memungut pajak dari siapa pun. Semua fasilitas umum bisa dinikmati oleh penduduk lokal maupun pendatang. Seperti menumpang hidup di tempat orang tapi tidak bayar apa-apa. Malah ikut menikmati murahnya biaya hidup, infrastruktur jalan yang bagus, dan sebagainya. Mungkin ini yang membuat pemerintah Saudi lama-lama kewalahan. Mereka juga enggan memungut pajak dari pendatang sekali pun. Bayangkan kalau Anda datang sebagai pekerja profesional, diberi gaji dolar layaknya pekerja ekspat tanpa pajak, berapa devisa yang terkirim ke tanah air?

Jadi, jangan buru-buru menghakimi pemerintah Saudi. Now you can see why. 

 image credit: www.freedigitalphotos.net


Kita bisa belajar sesuatu dari pemerintah Saudi. Seperti, kadang memiliki kelebihan materi tidak menjamin kesejahteraan hidup.

Lihat saja bangsa petarung seperti orang-orang Jepang. Punya apa sih negeri sakura ini? Tanah subur pas-pasan, kekayaan alam tak begitu menonjol, malah sering terkena bencana alam. Lihatlah mereka, how strong they are until now.

Teringat waktu kuliah, saat sedang konsultasi tugas akhir dengan Pembimbing Akademik (PA). Salah satu senior datang untuk konsultasi juga. Saya terkesan dengan ucapan PA setelah senior tersebut mengeluhkan makalahnya,

"Banyak keterbatasan, ya. Tapi kamu kerjakan saja terus. Jangan ganti topik dulu. Keterbatasan kadang membuat kita jadi kreatif, lho."

Nah!

Itu mungkin yang membuat orang-orang Jepang terkenal dengan inovasinya. Mereka tahu diri dengan 'kemiskinan' sumber daya alam mereka. Kreatif mencari cara lain. Akhirnya tampil sebagai negara industri dan menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia.

Hal sama untuk negara-negara Eropa. Sebagian mereka minim kekayaan alam. Biaya hidup cenderung tinggi. Ini membuat orang-orang Eropa sangat disiplin dalam menggunakan uang dan mandiri dalam banyak hal.

Tetapi memiliki kekayaan lebih itu bukan dosa. Pun bukan kelebihan. Lebih tepatnya, kekayaan itu juga cobaan. Punya harta berlebih malah sering membuat lalai.

Hidup seperti roda pedati, tidak selalu di atas. Sebagai orang tua, kita juga jadi belajar waspada. Sedari kecil mengajarkan kesederhanaan dan kerja keras pada anak-anak. Dimulai dari keluarga dulu, bukan?

Faktanya, lebih berat mengajarkan kesederhanaan pada anak kala kita diberi kelonggaran rezeki. Kalau rezekinya sempit, terpaksa harus berhemat. Saat memiliki materi berlimpah? Inginnya beli ini-itu untuk anak-anak.

Nasib anak-anak nanti tak pernah bisa diramalkan. Tugas orang tua hanya membangun pondasi kuat yang bisa mereka pakai untuk menempuh hidup. Siapa yang tahu, kehidupan mereka secara ekonomi di masa depan? Apakah akan sejaya orang tuanya?

Ajarkan kesederhanaan dan kerja keras. Agar seperti apa pun mereka di masa depan, mereka tidak melumrahkan kehidupan dengan baju-baju bermerek yang harganya tidak murah, makan di tempat mahal, liburan mewah dan sebagainya. Kalau takdir menjadikan mereka makmur secara ekonomi, mungkin tak masalah. Namun apabila hidup menempa mereka lebih keras, siapkah mereka?

Semoga bisa menjadi catatan untuk kita semua.

 

 

(gambar: www.freedigitalphotos.net)

Jihan Davincka
Jihan Davincka

Simply a mom of 2, Nabil and Narda. 100% Buginese. Since 2009, living abroad along with her husband. Having many tremendous experiences from Tehran (Iran), Jeddah (Saudi Arabia) and now in Athlone (Ireland).

Kategori Terkait


Tag Terkait

10 Komentar
Hapsari.Ayik
Hapsari.Ayik June 9, 2015 2:44 pm

Bagus Mb. Jihan tulisannya, iya susah emang mengajarkan anak tentang kesederhanaan dan kerja keras itu, tp harus bisaaaaa.. biar selamat hidup mereka kelak :D

Retno Aini
Retno Aini June 8, 2015 4:13 pm

baca ceritanya Jihan lsng teringat dgn karakter teman2 mahasiswa middle east waktu tinggal di Malaysia :D memang sih ya, yg paling sulit itu belajar sederhana saat lagi serba berkecukupan, seringnya malah terlena. Padahal menerapkan nilai2 kerja keras & kesederhanaan dlm keluarga itu penting, gak kenal waktu. TFS yaa Jihan :)

Gabriella F
Gabriella F May 29, 2015 10:18 am

Makasih tulisannya... selalu suka bacanya. Kadang dengan kelonggaran rezeki kita suka berusaha agar anak-anak selalu senang, serta melupakan nilai-nilai kesederhanaan dan kerja keras. TFS ya...

Honey Josep
Honey Josep May 29, 2015 8:08 am

Tulisan mama Jihan selalu membuat aku berpikir sambil angguk-angguk!

Tfs mama Jihan :*

Cindy Vania
Cindy Vania May 28, 2015 9:40 am

Tulisan mba Jihan selalu saja bikin jleb :)
Terimakasih sudah berbagi artikel ini ya mba :)