Tradisi Lebaran

Oleh the urban mama pada Sabtu, 09 Juli 2016
Seputar Our Stories

Setiap keluarga punya cara sendiri-sendiri dalam merayakan Lebaran. Bagaimana dengan tradisi Lebaran yang ada pada #TUMFamily? Beberapa dari kami akan berbagi cerita tentang tradisi Lebaran yang mereka ikuti saat kecil dulu dan saat ini diturunkan ke anak-anak.

Ninit

Saat kecil, masih bersama orangtua, sepertinya saya tidak punya tradisi lebaran yang khusus. Biasanya saya bersama orangtua saya, bertiga (saya anak tunggal) bersama jalan kaki ke lapangan untuk melaksanakan sholat dan setelah itu bersalaman untuk meminta maaf.

Sekarang setelah menikah dan memiliki anak, kegiatannya hampir sama. Hanya bedanya, setelah sholat, kami ada ritual khusus untuk saling meminta maaf. Dimulai dari saya kepada suami, diikuti oleh anak-anak. Setelah itu biasanya kami berfoto dan makan di rumah. Selesai makan, kami berkunjung ke rumah orangtua (mertua) dan lanjut bersilaturahmi ke keluarga besar suami di Bogor. Saatnya memberikan THR kepada anak-anak.

Aini

Sewaktu kecil, Lebaran adalah hari besar yang paling saya tunggu-tunggu. Padahal sama saja dari tahun ke tahun: dibelikan baju baru, nonton Eyang bikin kue kering sambil diam-diam mencomot kuenya, pagi-pagi sholat Ied, sesampainya di rumah ada acara sungkem dan puncaknya adalah bagi-bagi angpau. Pokoknya semasa kecil, lebaran itu terasa menyenangkan sekali karena banjir hadiah.

Setelah eyang wafat, ritual pun bergeser. Acara sungkem dan menikmati kue kering buatan Eyang absen dari Lebaran kami. Namun akhirnya ada ritual pengganti: karena kumpul lebarannya pindah ke rumah orangtua saya, dapur rumah kami disulap oleh Ayah menjadi markas memasak semua hidangan lebaran untuk keluarga besar. Ya, ayah saya yang jadi head chef di dapur. Urusan belanja-belanja itu bagiannya Ibu. Tukang masaknya? Siapa lagi kalau bukan kami bertiga bersaudara.

Kenangan indah Lebaran masa kecil yang banjir hadiah berganti dengan togetherness yang justru lebih terasa saat kami semua berkumpul di dapur memasak hidangan lebaran. Tiga hari sebelum Lebaran, biasanya saya dan adik-adik sudah berkumpul di rumah, siap diberikan tugas oleh ayah. Mau di mana pun, pokoknya tiga hari sebelum Lebaran sudah harus kumpul di rumah. Setelah saya menikah dan adik-adik duduk di bangku kuliah, kami masih berkumpul semua tiga hari sebelum Lebaran, menyingsingkan lengan baju dan siap diberikan tugas dari mulai memeras santan, mengupas petai, sampai mengaduk sayur godog, semur, serundeng dan sambal goreng (untuk hidangan opor ayam, khusus bagian Ibu yang masak karena tidak ada yang bisa memasak opor selezat buatan Ibu). Sampai kemudian saat saya ikut suami merantau, acara masak bersama tetap berlangsung lewat... facetime. Ayah ibu dan adik-adik masak di rumah, saya juga masak nun jauh di Kutub, pakai bumbu air mata.

Sebelumnya Alma belum paham benar akan kemeriahan suasana Lebaran karena masih kecil. Terlebih lagi, beberapa kali lebaran kami jalani di rantau, jauh dari hiruk-pikuk kemeriahan khas Lebaran layaknya seperti yang pernah kami rasakan semasa kecil. Tahun ini saat ada kesempatan untuk mudik ke tanah air, kami jadikan sebagai momen tepat untuk mengenalkan kemeriahan Lebaran kepada Alma. Kebetulan pula, tahun ini Alma mulai belajar berpuasa. Agar ia bersemangat, kami beri reward berupa baju baru dengan model dan warna kesukaannya. Saya ajak juga Alma ikut membuat stok kue kering untuk camilan lebaran, kue putri salju khas buatan mendiang Eyang. Kemarin saat diajak menyaksikan langsung keriuhan di dapur rumah menyiapkan hidangan lebaran, Alma takjub sendiri melihat ayah dan adik-adik saya yang memasak dan berkata "I didn't know that boys can cook! And you too, Boppa!"

Eka

Tradisi lebaran di keluarga kami mungkin hampir sama dengan tradisi di keluarga yang lain. Mandi sebelum Sholat Subuh, lalu berjalan bersama Ibu ke lapangan tempat Sholat Ied di dekat rumah. Bajunya belum tentu baju baru, tapi mukenanya biasanya mukena baru. Setelah Sholat Ied dan bersalaman dengan para jamaah di lapangan, kami pulang dengan jalan memutar, rutenya berbeda dengan rute saat pergi tadi. Sampai di rumah, bersalaman dengan seluruh anggota keluarga, berkumpul sebentar mendengarkan nasihat Bapak - biasanya tentang anjuran untuk menyambung silaturahmi dan saling menyayangi sesama anggota keluarga, hidup hemat, update tentang sanak saudara, rencana tahun ini, dll - yang ditutup dengan adegan Bapak yang berkaca-kaca meminta maaf kepada Ibu dan anak-anaknya.

Setelah itu kami makan bersama, makanan khas Idul Fitri di rumah selain opor dan ketupat biasanya harus selalu ada kue nastar, kue tart, dan klappertaart. Setelah itu saya dan adik melayani beberapa tamu yang berkunjung menemui Bapak dan Ibu. Setelah tamu-tamu pulang, kami pergi mengunjungi rumah sahabat Bapak yang usianya lebih tua dari Bapak. Rumahnya masih di dalam komplek perumahan kami, di situ baru deh kami "bermain" sampai acara makan siang. Pulang dari sana langsung deh ganti kostum "nyaman compang camping" untuk cuci piring lalu tidur siang.

Setelah menikah, tradisi Idul Fitri tidak banyak berubah. Hanya saja bedanya kali ini saya tidak mengalami Shalat Ied di rumah Bapak. Yang biasanya kental dengan suasana Manado, kali ini yang terasa suasana Jawa dan Betawi. Juga ada tambahan seperti tradisi saling mengirimkan makanan (kue keranjang, rangginang, opak, dodol, dll), juga ada bagi-bagi angpau untuk anak-anak. Selama ini Enzo dan Dante belum terlalu mengerti tentang angpau ini, jadi begitu dapat angpau, langsung diserahkan ke Mama - atau mereka tolak, "Nggak usah Bude, makasih. Aku sudah banyak uangnya, dari tadi orang-orang kasih aku uang. Sakuku sudah penuh." Dasar anak-anak ya, belum mengerti.
Satu hal yang ingin kami teruskan adalah tradisi saling menyayangi dan menyambung silaturahmi dengan keluarga dan tetangga. Momen Idul Fitri adalah momen yang baik untuk kembali mendekatkan kita dengan keluarga, juga tetangga.

Ipeh

Yang selalu membuat kangen setiap Lebaran tiba adalah Burasa dan Tumbu spesial buatan Mama, biasanya sehari sebelumnya saya selalu membantu Mama menggunting daun, membungkus dan mengikatnya dengan tali. Hal itu sudah kami lakukan sejak saya kecil. Di hari Lebaran makanan itu kami sajikan setiap ada tamu/keluarga yang berkunjung ke rumah. Kami sekeluarga biasanya sholat Ied di lapangan Merdeka Bone (Sulawesi Selatan), setelah sholat Ied dan mendengar khotbah kami salaman dengan jamaah yang ada di sekitar kami duduk saat sholat, kemudian kembali ke rumah. Kami pun berkumpul sebentar dan bersalaman dengan Bapak, Mama dan kakak-kakak saya yang lainnya. Dan dilanjutkan dengan makan buras/tumbu, ayam masak lengkuas, ayam goreng, dan sop konro spesial buatan Mama. Setelah beristirahat sebentar, kami ke rumah Nenek dari Mama dan berkumpul dengan keluarga besar Mama di sana. Sore harinya giliran kami berkunjung ke keluarga Bapak di kampung. Kami pun biasanya ziarah makam alm. Kakek. Sejak kecil saya jarang sekali menerima angpau, karena mungkin bukan tradisi di sana.

Setelah menikah dan pindah ke Bogor, tidak ada lagi makanan khas Sulawesi buatan Mama. Tergantikan dengan masakan khas Ibu Mertua seperti asam-asam iga, rendang, kentang balado, ayam goreng dan ketupat. Setelah sholat Ied di masjid, kami berkumpul salaman dengan bapak/ibu dan saudara-saudara lainnya, dan dilanjutkan dengan makan makanan lebaran. Setelah makan bersama, kami pun berkeliling berkunjung ke rumah keluarga Bapak yang tertua, bersilaturahmi karena biasanya keluarga besar Bapak akan berkumpul di sana. Biasanya anak-anak senang sekali karena mendapat angpau dari keluarga besar, anak-anak dikenalkan bahwa ini Enin, Aki, Uwa, Paman, Bibi, dan nama anak-anaknya, saudaranya. Hal ini untuk menjaga silaturahmi dengan keluarga besar tetap terjaga hingga mereka besar nantinya.

Setiba di rumah, Anak-anak pun biasanya mengumpulkan uang dari angpau dan diserahkan ke saya atau ayahnya untuk disimpan atau dibelikan mainan.

Chika

Saat lebaran tiba, artinya saya berkumpul dengan keluarga besar. Pekerjaan Papa menuntutnya untuk berpindah-pindah kota, tetapi di mana pun Papa sedang bertugas, kami selalu merayakan Idul Fitri di Bandung.

Rutinitasnya, pagi-pagi kami akan sholat Ied di lapangan Pusenif lalu pulang ke rumah untuk sungkeman (maaf-maafan dari yang tertua sampai yang termuda). Dresscode untuk sholat Ied sampai sungkeman setiap tahunnya selalu putih-putih, jadi terkadang tidak membeli baju putih baru setiap tahun.

Dilanjutkan makan pagi opor ayam, gulai sapi/kambing, sambal goreng kentang ati spesial masakan Mama. Setelah selesai, kami bersiap untuk silaturahmi ke rumah Nenek-Kakek dari pihak Mama dan Papa saat mereka masih ada. Nah saat mau silaturahmi, baru kami memakai seragam keluarga.

Tahun ini, pertama kalinya rumah Bandung (rumah Mama Papa) akan open house karena tahun lalu Nenek dari Papa berpulang, jadi sebagai anak pertama, Papa saya tentu ingin meneruskan tradisi silaturahmi. Dan saat semua berkumpul kami juga punya tradisi bagi-bagi angpau untuk anak atau keponakan. Melalui tradisi silaturahmi ini saya ingin menanamkan kepada Migu dan Vino tentang pentingnya keluarga dan kita harus selalu menjaga silaturahmi.

***

Bagaimana dengan urban mama? Ada tradisi atau acara khusus saat Lebaran yang saat ini diturunkan pada anak-anak? Silakan berbagi ceritanya bersama kami di sini ya.

Kategori Terkait


Tag Terkait

4 Komentar
Fajrin Dina July 13, 2016 9:34 am

ceritanya seru semua mama, tfs ya

Shinta Daniel
Shinta Daniel July 12, 2016 2:53 pm

Seru dan senang ya mengenang tradisi Lebaran di masing2 keluarga, semoga anak2 kita juga punya kenangan tersendiri setiap Lebaran..

zata ligouw
zata ligouw July 9, 2016 12:39 pm

hal-hal kayak di atas yang bikin selalu kangen sama Lebaran yaaa :)

Cindy Vania
Cindy Vania July 9, 2016 7:20 am

Selamat lebaran ya semuanyaa :)

Ceritanya seru-seru ya,ternyata tiap keluarga gak selalu sama kegiatannya selama lebaran.
Kalau keluargaku setiap lebaran biasanya juga open house dan bagi-bagi angpau. Cuma tahun ini gak pake masak-masak karena cuma aku sendiri,jadi gak sanggup berlama-lama di depan kompor :D heheheh