Saat ini banyak orang ketika betemu Yasser berkata “He doesn’t look autistic”. Saya kadang masih bingung menanggapi komentar semacam itu. Saya adalah seorang ibu dari anak yang belum lancar komunikasinya, maka saya harus membantunya menyuarakan hak-hak dan mengedukasi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Sekarang Yasser hampir 6 tahun, saya selalu bersyukur sekecil apa pun progress yang ia buat. Dari yang tidak peduli kehadiran teman, sekarang mau menyapa teman dan guru. Sering saya lihat ia mencoba mengajak bermain tetapi masih kesulitan mengungkapkannya.
Awal tahun 2016 adalah masa-masa yang saya nantikan sekaligus mendebarkan. Bagaimana tidak, saya ditugaskan untuk membuat liputan dokumenter sebanyak empat episode di Mexico City dengan masa tugas 18 hari. Kali ini saya saya harus membawa tas yang lebih berat karena membawa breastpump dan ASI perahan yang ditabung selama perjalanan.
Sebagai seorang ibu rumah tangga, mau tidak mau saya harus bisa mengatur keuangan dengan baik. Itu berarti saya harus bisa memisahkan antara keinginan dan kebutuhan, salah satunya dalam hal menata rumah. Saya berusaha menata ruang makan, kamar Raffi, ruang keluarga, dapur, ruang kerja sebaik mungkin dan yang terpenting adalah sesuai dengan budget yang ada.
Apakah urban Mama familiar dengan latte factor? Saat baru menikah dulu, saya mengenal istilah tersebut ketika menonton Oprah. David Bach, penulis berbagai buku keuangan, hadir dengan istilah latte factor. Latte factor menurut David Bach didasari oleh ide yang sangat sederhana yaitu pengeluaran kita setiap hari yang sebetulnya bisa dikurangi.
Saya dan suami tidak percaya produk instan, apalagi dalam membesarkan dan mendidik anak-anak. Ada proses yang harus dilakukan dalam mempersiapkan masa depan anak. Ada perjuangan yang harus ditempuh anak, dalam meraih cita-cita mereka. Ada pengorbanan yang harus dicurahkan orangtua, demi kemajuan sang buah hati.
Rumah yang sehat dan nyaman merupakan resep penting dalam menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik dan menjadikan keluarga yang lebih bahagia. Anak-anak perlu diikutsertakan dalam kehidupan rumah tangga, termasuk dalam "belanja mandiri" untuk kebutuhan rumah tempat mereka tinggal sebagai bagian dari keluarga.
Kami sekeluarga senang sekali melihat sunset sambil duduk-duduk bermain di teras. Namun beda halnya dengan sunrise. Keindahan matahari terbit jarang kami nikmati karena kesibukan di pagi hari dan memang sulit terlihat dari rumah. Suatu ketika, sahabat saya bercerita tentang wisata sunrise di Candi Borobudur.
Waktu hamil, saya paling tidak pernah absen menghadiri acara bazar ibu dan anak. Demi bisa mendapatkan beragam barang sekaligus dengan kualitas terbaik tapi harganya terjangkau.
Raka dan Attar memiliki jadwal yang padat di sekolah. Masuk sekolah pukul 7 pagi, pulang pukul 1 siang dengan banyak aktivitas belajar. Tentu saja untuk dapat tetap fokus belajar dan berenergi, anak-anak perlu diberikan “bahan bakar” yang cukup. Oleh karena itu, saya membiasakan mereka sarapan dahulu sebelum berangkat ke sekolah.