Theurbanmama

Regrow From Scraps

Urban Mama ada yang hobi berkebun?
Saya baru mencoba kegiatan yang satu ini mulai sekitar setahun lalu. Itu pun bisa dikatakan tidak sengaja. Awalnya karena melihat taman belakang rumah yang menganggur dan tidak terurus sepulang dari mudik. Setelah membabat rumput-rumput liar, taman di belakang jadi sangat kosong. Barulah terpikir sepertinya seru juga jika lahan ini dipakai untuk bercocok tanam. Selain itu berkebun juga bisa jadi kegiatan tambahan untuk saya dan anak saya, Abizar, yang kala itu menginjak usia 2 tahun.

Setelah membaca dari berbagai sumber dan mencari info yang cukup tentang berkebun, saya makin tertarik untuk mencoba hal yang sangat baru bagi saya ini. Nah, karena pada dasarnya tidak mau repot, saya memilih untuk mulai belajar menanam sayur-sayur dari sisa bahan masakan di dapur. Istilah kerennya regrow from the scraps. Ternyata sangat mudah dan menyenangkan lho!

Secara umum ada beberapa prinsip dasar yang perlu dilakukan untuk menumbuhkan kembali tanaman dari sisa bahan masakan di dapur, yaitu :

1. Mengambil bagian tanaman yang berakar untuk direndam di botol-botol kaca atau wadah yang transparan. Ketinggian rendaman tergantung jenis tanaman yang akan ditumbuhkan, dikira-kira saja jangan sampai merendam seluruh bagian, tetapi setidaknya harus cukup untuk merangsang pertumbuhan akar tanaman.

2. Meletakkan wadah-wadah tersebut di tempat yang terpapar cukup sinar matahari. Seperti kita tahu, matahari adalah sumber energi untuk pertumbuhan tanaman. Tapi harus diperhatikan juga ada beberapa jenis tanaman yang pada fase ini sebaiknya terpapar sinar matahari, contohnya jahe. Untuk tanaman tipe tersebut cukup simpan wadah rendaman di dekat kaca di dalam ruangan, tetapi tetap masih terkena sinar matahari dari luar.

3. Setelah akar mulai tampak terbentuk dan biasanya daun-daun juga mulai tumbuh, kita boleh memindahkannya ke tanah. Lamanya akar tumbuh bisa bervariasi tiap jenis tanaman, biasanya dalam satu minggu sudah bisa ditransfer ke tanah.

4. Memindahkan tanaman dari wadah-wadah air ke tanah. Jangan lupa untuk menjaga pasokan air di tanah setelah proses transfer dari air ke tanah dengan melakukan penyiraman yang rutin, agar tanaman bisa tumbuh optimal.


Berikut ini beberapa tanaman yang sudah saya coba sendiri di rumah. Beberapa bahkan sengaja tidak saya transfer ke tanah, alias dibiarkan tumbuh secara hidroponik di botol-botol kaca karena saya senang melihat ada pemandangan hijau-hijau di dapur. Lumayan jadi hiasan hidup di dapur.

Seledri (sesudah ditransfer ke tanah):

regrow from scraps

Serai (sudah ditransfer ke tanah):

Bawang bombay (masih dengan media air):



Daun bawang (masih dengan media air):



Bawang putih (sudah di tanah):


Bawang merah:

a. Di media air



b. Sudah ditransfer ke tanah:



c. Abizar saat kami panen bawang:



Meskipun awalnya menanam tanaman sendiri seperti ini berawal dari iseng dan bertujuan memanfaatkan lahan kosong, rasanya lama-kelamaan saya menyadari banyak manfaat lain dari kegiatan ini, di antaranya menjadi mood booster untuk saya pribadi dan media relaksasi. Ternyata ada kegembiraan tersendiri saat melihat tanaman-tanaman yang dipelihara tumbuh baik. Anak saya pun sangat senang ikut menyiram tanaman, memperhatikan daun-daunnya bertambah, melihat akar-akar kecil itu memanjang, bahkan ikut heboh saat masa panen tiba.

Berbagai penelitian sudah membuktikan bahwa berkebun membawa dampak positif untuk tubuh dan otak. Beberapa yang sudah terkenal disebutkan adalah mengurangi resiko demensia, melatih kebugaran otot, fleksibilitas tubuh, dan melepaskan stres. Selain itu ada kepuasan tersendiri ketika kita bisa mengonsumsi sayuran dari hasil menanam sendiri. Setidaknya dengan begitu kita bisa meminimalisir paparan pestisida untuk bahan makanan keluarga.

Jika kita juga melibatkan anak dalam kegiatan berkebun, maka ada keuntungan tambahan yaitu sebagai alternatif kegiatan bonding dengan anak, melatih keterampilan motorik-sensorik anak, dan menjadi media pendidikan yang menyenangkan untuk memperkenalkan nilai-nilai kehidupan (values) tertentu. Misalnya, sembari berkebun orangtua sambil berdialog dengan anak memperkenalkan sikap sabar, menghargai proses, menghargai sayuran atau makanan, menghargai pekerjaan petani, dan sebagainya. Dicoba yuk! Saya juga masih ingin mencoba banyak variasi sayuran lain untuk ditanam. Selain mudah, kegiatan begini seru juga untuk membiasakan keluarga menerapkan sustainable life style.

Related Tags : ,,,,
Apa Reaksi Anda ?
0 Comments
Post a Comment
You must be in to post a comment.