Different Story in Every Parenting Style

Oleh Jihan Davincka pada Selasa, 22 Desember 2020
Seputar Our Stories

Jujur saja, saya tidak begitu rutin membaca buku-buku parenting yang menyarankan kita untuk ini itu. Awalnya memang rajin. Waktu hamil juga getol membaca teori-teori kehamilan, tapi jadinya putus asa karena sudah menuruti instruksi pun hamil mudanya tetap mual parah. Apalagi ada teori yang bilang, hamil muda jadi 'drama' itu ya tergantung sifat orangnya, ratu 'drama' atau bukan dalam kesehariannya!

Begitu lewat 17 minggu, 'drama' pun berlalu. Kali berikutnya hamil anak ke-2, saat rasanya mental jauh lebih siap dan sudah punya pengalaman, ya sama saja! Another 17 weeks-drama.

Soal menyusui juga sama. Karena waktu hamil menggembleng diri dengan banyak literatur, sifat ambisius membawa saya menjadi idealis sejak awal. Harus ASI Ekslusif! Harus, harus, harus, pasti bisa, pasti bisa, pasti bisa. And that's how the new drama begins.

Nyatanya segitu banyak buku dibaca dan rasanya sudah siap tempur sejak di usia kehamilan 7 bulan... eh, gagal ASI eksklusifnya. Ditambah lagi membaca info dari milis forum media sosial kiri-kanan dan segala macamnya, malah makin stres.

Suami adalah sahabat terbaik saat itu. Waktu pertama kali akhirnya memberi sufor kepada si sulung, ada rasa semacam mau bunuh diri saja! ? Itulah akibat termakan "drama" dari para mama yang instead of menyemangati malah seperti menakut-nakuti. Mungkin kedengarannya lebay. Namun waktu memberikan susu botol untuk pertama kalinya ke anak sulung, saya benar-benar menangis. Pikir saya, I have failed, I have failed, I hava failed. Mulai dari payudara bengkak, puting berdarah, datang ke konsuler laktasi jauh-jauh ke Cikini, tapi ya... akhirnya menyerah ke sufor.

Uniknya, begitu masuk kerja ke kantor lagi dan rajin memompa bareng teman-teman di Nursery Room, eh, ASI-nya malah lancar sendiri. Lalu anak kedua? Voila, ASI lancar banget! Padahal tidak menyiapkan apa-apa. Sudah pasrah saja dan pokoknya yakin bisa. Sudah pengalaman mungkin dan tinggal jauh dari kerabat juga. Padahal waktu itu cuma berdua bersama suami mengurus dua anak, tapi ASI oke banget. Berat badan anak kedua juga lebih bagus daripada anak sulung.

Anak kedua dibawa santai. Tidak pernah baca apa-apa lagi. Pokoknya jalani saja.

Toilet training pun ceritanya mirip. Anak sulung saya, sudah saya latih sejak umur 18 bulan. Suksesnya kapan? Sampai umur 5 tahun masih mengompol di kasur. Karena capek gonta-ganti seprei, kalau malam tetap saya pasangkan popok. Baru pada usia 6 tahun baru bisa benar-benar lepas.

Anak kedua cukup ajaib. Dari pengalaman anak pertama, saya kapok. Jadinya saya benar-benar menunggu sampai si anak kedua ini bisa diajak komunikasi. Kondisi bilingual membuat ia sedikit terlambat berbicara. Saya tidak sabar, akhirnya untuk si bungsu saya putuskan mengajak berbahasa Inggris 100%. Hanya sebulan diterapkan, ia langsung lancar bahasa Inggris. Lalu mulai toilet training di usia 2 tahun 5 bulan. Hanya butuh 1 bulan untuk sukses! Mengapa memilih bahasa Inggris sebagai bahasa pertamanya? Karena abangnya sudah terbawa pergaulan di sekolah. Jadi saya pikir si bungsu ini bingung mendengar emaknya ber-ayo-ayo, tetapi abangnya ber-come on-come on. Namun suami kurang senang karena pengetahuan bahasa Indonesia si bungsu minim sekali. Sekarang sudah mulai saya ajarkan. Saya merasa lebih mudah mengajarinya bahasa yang lain setelah ia menguasai satu bahasa dulu.

Begitu pula untuk hobi kegemaran di keluarga. Suami lumayan kutu buku dan saya pun lumayan gemar membaca. Sementara si sulung lebih suka menggambar, ya hayo saja. Yang kecil senang bermain dengan legonya, ya terserah saja. Bed time story? Jujur, hampir tidak pernah. Waktu saya kecil, mana kenal sama bed time story. Yang ada malah rebutan mau tidur di kasur yang mana dan sibuk memasang kelambu sambil dipelototi Ibu agar cepat-cepat tidur.

[caption id="attachment_103006" align="aligncenter" width="400" caption="(gambar: www.freedigitalphotos.net)"][/caption]

Kembali lagi tentang membaca buku parenting. Kalau mau menuruti semua teori sih, bisa mumet sendiri. Malah jadi sering terpikir, ‘’Ya ampun, ibu macam apa saya?""Astaga, jadi selama ini saya ini bukan ibu yang baik..." dan seterusnya. Maklum ya, kadang keinginan besar sekali, idealisme membuncah, apa daya kemampuan terbatas.

Bukan berarti saya anti teori parenting. Tetap suka kok. Kalau ada yang baik ya pasti diikuti, kalau tidak, ya biasa-biasa juga saja. Cuma belakangan lebih senang membaca yang sifatnya pengalaman, bukan dari buku atau the people called 'pakar anak'. Pakar para anak ya ibunya dari setiap anak, menurut saya.

Saat pertama kali mengenal The Urban Mama tahun 2010, saya merasa situs ini adalah sesuatu yang 'berbeda'. Saya tahu TUM hampir setahun setelah digagas trio Ninit-Shinta-Thalia di bulan Desember 2009.

Awalnya suka banget membaca forum ini. Forum The Urban Mama mempersatukan semua ibu, ya ibu ASI, ibu sufor, ibu bekerja, ibu di rumah, ibu pengajar, ibu pelajar, ibu-ibu di dalam negeri, di luar negeri, macam-macam lah. Pembahasannya juga beragam. Dari sini mata jadi lebih terbuka dan jadi tahu, bahwa konsep membesarkan anak itu luas sekali. Penerapan beda-beda. Tujuan pun beda-beda. Lebih penting lagi, beda tak selalu berarti salah. Drama dan kompetisi tentu kadang tak terhindari. Tapi sudah ada moderator yang siap menyemprit siapa pun yang dirasa sudah mulai menimbulkan ketidaknyamanan bagi pihak lain.

Yang menyenangkannya juga, di The Urban Mama tak melulu soal anak karena kadang saya terpikir, menjadi ibu tak mengharuskan kita melepaskan titel sebagai individu yang berdiri sendiri. Walau sudah punya buntut, we are still human. Tak lantas otomatis menjadi malaikat maha sempurna. Ada topik semacam Fit Mama atau grup MamaRunners, BirthClub, kumpul-kumpul membahas film-film atau buku-buku favorit yang ada juga yang tak ada hubungannya dengan parenting. Tak berarti anak ditelantarkan ya, a mom can still enjoy herself as a single person. Kita menjadi belajar keseimbangan dan memahami bahwa ‘life is not about making others happy. Life is about being honest and sharing your happiness with others’ (unknown quote).

Sederhana saja, ya? Kalau tak jujur pada diri sendiri pasti sulit merasa bahagia. Kalau tak sanggup membahagiakan diri sendiri, bagaimana bisa membuat anak merasa nyaman.

Don't get me wrongI'm not against any parenting books or any person called 'pemerhati anak'. Sama sekali tidak begitu.

Hanya saja, saya percaya kontrol dan pilihan ada di tangan setiap ibu. Teori-teori tak lantas memasung kita untuk tak berimprovisasi sesuai situasi dan kondisi masing-masing. Seperti kata Dr. Benjamin Spock, ‘Trust yourself. You know more than you think you do.’

There is always a different story in every parenting style. Selamat ulang tahun, The Urban Mama!

Jihan Davincka
Jihan Davincka

Simply a mom of 2, Nabil and Narda. 100% Buginese. Since 2009, living abroad along with her husband. Having many tremendous experiences from Tehran (Iran), Jeddah (Saudi Arabia) and now in Athlone (Ireland).

Kategori Terkait


Tag Terkait

24 Komentar
Ummu Alfathoni January 12, 2015 5:13 pm

Masya Alloh mbak Jihan, saya suka dengan tulisannya, karena ini yang saya alami waktu memberikan anak sufor karena terpaksa, krn idealis anak harus asi ekslusif yang terjadi bayi kembar saya harus menginap di rs krn kekurangan cairan, ini membuat saya terpukul, merasa berdosa, bersalah krn memberikan sufor dan gagal dengan asi ekslusif. Iya Mbak Jihan, saya juga membaca berbagai macam buku, majalah, chat dengan teman dan sampai mendapatkan 'teror' oleh teman teman krn tidak dapat memberikan asi ekslusif.
Saya sangat terpukul pada saat itu, dan semakin merasa bersalah dengan bayi kembar saya.
Padahal mereka yang menghakimi saya tidak paham akan keadaan saya, saya juga mau memberikan asi ekslusif dan saya pun menjadi FTM untuk itu, tapi bagaimana Asi mau keluar bila saya sudah stress dan mengurus anak kembar hanya dengan suami dan ibu saya.
Terimakasih sekali lagi sharingnya mbak.. :)

adhisti rahadi
adhisti rahadi January 10, 2015 1:21 pm

tulisan ini realistis banget..
saya juga sama mbak jihan, lebih suka baca tulisan yang berupa sharing pengalaman drpd yg model "how to" ato "do's and dont's"
jadi ibu sekarang lebih berat ya, karena sekarang jamannya media bgt, jadi lebih mudah menyorot, mengkritik, membandingkan..kalo mama saya dulu mungkin tenang2 aja ya anaknya ngompol sampe SD, makan disuapin juga sampe SD, soalnya gak ada yg komentarin dan gak ambil pusing juga anak tetangga masih ngompol enggak haha..
great article mbak *thumbs*

Honey Josep
Honey Josep January 5, 2015 12:16 pm

*mbrebes miliiii*

arika
arika January 5, 2015 10:48 am

postingannya bagus banget mba Jihan.. soalnya aku juga merasakan hal yang sama, anak pertama pas sempat kasih sufor rasanya nagis frustasi luar biasa, setelah lebih santai baru bisa deh full asi lagi. Pengalaman potty training si kakak dan adik pun samaaa...toss!
Yang terpenting kita berusaha yg terbaik utk anak2 dan keluarga ya..

dhea
dhea December 28, 2014 11:04 pm

aku juga termasuk kyk mba Jihan nih awal suka mikir semua serba salah..kadang kalo semua yang diinginin dari baca sana sini cara membesarkan anak suka ga sesuai jdi stres sendiri ngerasa gagal mulu salah mulu...akhirnya lama2 mikir pasti semua ibu punya cara sendiri dan pasti yg terbaik buat anaknya masing - masing. mana ada ibu gak mau anaknya dpt yg baik2, tpi baik nya hanya ibu itu sendiri yg lbh tau...setuju bgt ma mba Jihan semua punya caranya sendiri...

love love this article, tfs mba.....