Theurbanmama

Menurut Kamu, Bagaimana?

Kamis, 13 Desember 2018

Tidak ada yang mengira betapa banyak pertanyaan yang dapat datang dari seorang anak. Sering sekali kita sebagai orangtua sampai kebingungan menjawab semua pertanyaan mereka. Pertanyaan yang datang pun sering berasal dari subjek yang tidak kita kuasai. Oleh sebab itu, adalah benar kata pepatah, jika ingin menjadi pintar, jadilah guru.

Ketika anak bertanya, kita sebagai orangtua ingin dapat menjawab dengan benar. Satu-satunya cara agar kita dapat menjawab dengan benar adalah menjadi pintar. Satu-satunya cara agar kita dapat menjadi pintar adalah dengan belajar.

Alasan anak bertanya tentu jelas. Ketika mereka masih kecil, dunia ini masih baru bagi mereka. Semua hal dalam dunia ini, juga baru bagi mereka. Rasa ingin tahu mereka sangat tinggi dan semua orangtua pasti setuju, kita tidak boleh mematikan rasa ingin tahu itu. Semua orangtua pasti pernah merasakan bahwa sedapat mungkin kita tidak menjawab dengan,

"Bapak tidak tahu, Nak."
Dan,
"Udah, Nak, gak usah banyak tanya."

Semua orangtua yang baik, akan berusaha menjawab sedapat dan sejauh mungkin. Tapi kemudian beberapa dari kita bisa jadi masuk ke dalam perangkap yang tidak kita sadari. Yaitu, berbohong.

Beberapa dari orangtua memilih untuk berbohong dengan dasar pemikiran, "Yah, mau bagaimana lagi? Kan anak saya tidak memiliki siapa-siapa lagi selain bapak dan ibunya sebagai tempat bertanya. Masak iya saya bilang gak tahu? Pertama, malu. Kedua, lantas, kepada siapa lagi mereka harus bertanya?". Mari kita akui dengan senyum bahwa kita semua pernah pernah berpikir seperti ini. Kita semua tentu sadar bahwa berbohong jelas salah karena anak-anak meresap semua informasi seperti sponge.

Beberapa dari orangtua memilih untuk tidak masuk ke dalam perangkap berbohong, tapi malah mendorong anak untuk berpikir dogmatis dengan menjawab,

"Sudah dari sananya, Nak."
"Ya, emang kodratnya begitu, Nak."

Atau, pamungkasnya..

"Memang takdirnya seperti itu."

Hindari Dogma
Saya mendapati fakta bahwa terlalu sering memberikan respon "Ya memang begitu kodratnya" adalah senjata nomor 2 dalam mematikan rasa ingin tahu anak (nomor 1 adalah "Tidak tahu"). Berikan jawaban seperti ini kepada 10 pertanyaan anak, dan anak tersebut tidak akan bertanya untuk ke-11 kalinya.

Jawaban "Memang sudah dari sananya" juga senjata nomor 1 membunuh sikap kritis anak dan menumbuhkan mental ‘terima-saja’. Sewaktu masih kuliah, saya mengikuti beberapa ceramah dari 1 orang ustadz. Saya berhenti mendengarkan ceramah dia selanjutnya karena ketika saya menanyakan sesuatu, dia memberikan jawaban "Ya, sudah takdirnya." Bagi saya, ini adalah jawaban yang tidak dapat diterima, apalagi dalam agama (masing-masing). Tuhan kita Maha Besar. Dan karena Dia maha besar, dia menetapkan / menjadikan / melarang / menyuruh segala sesuatu karena ada ilmu (baik science mau pun sosiologi) yang terkandung dari tetapan / kejadian / larangan / perintah itu. Dan agak sulit bagi saya untuk mendengar seorang ustadz berkata "Ya itu sudah takdirnya," karena jawaban seperti ini justru yang menumbuhkan sikap percaya dengan buta.

Saya juga termasuk golongan yang tidak menerima pernyataan, "Sudahlah Dit, kita harus percaya saja. Otak manusia itu gak nyampe." Saya benar-benar menentang pernyataan ini karena pernyataan ini justru bertentangan dengan perintah Tuhan untuk selalu belajar.

Di abad ke-7, kita diperintahkan untuk bersunat. Baru di abad ke-20, berkat orang-orang beriman yang selalu belajar, studi membuktikan suami yang tidak disunat adalah salah satu pemicu kanker rahim pada istri, karena sisa kotoran di dalam kantung yang tidak tersunat pada suami, menetap di dalam istri.

Di abad ke-7, kita diperintahkan bahwa wanita tidak boleh salat saat datang bulan. Di abad ke-20, studi mengungkapkan bahwa jika wanita sedang datang bulan memaksa untuk sujud, darah yang seharusnya keluar ke bawah, justru akan segera meresap ke atas, dan ini bahaya secara biologis.

Di abad ke-7 kita diperintahkan bahwa darah itu haram. Di abad ke-20, studi mengungkapkan bahwa darah haram dikonsumsi karena darah mengandung urea/purine yang secara alami akan dipecah jadi asam urat. Itu sebabnya semua sapi yang disembelih, harus langsung digantung – agar darahnya terkuras.

Di abad ke-7 kita diperintahkan bahwa menyembelih hewan secara halal, harus di leher. Ini terdengar barbar. Di abad ke-20, studi membuktikan bahwa leher adalah satu-satunya organ yang dilewati oleh 3 saluran utama, yaitu saluran pernapasan, makanan dan darah. Semua tetes darah, melewati leher. Menyembelih hewan adalah tindakan yang paling cepat mematikan hewan tersebut (dan artinya paling sebentar menderita sakit) dan paling sehat bagi manusia yang memakan daging (karena darah terkuras).

Selalu ada ilmu, baik logika, science mau pun sosiologi yang ada di balik perintah Tuhan. Mungkin butuh 13 abad untuk otak manusia mencari jawabannya. Tidak berarti kita tidak perlu beribadah sebelum ada bukti. Tapi tidak berarti juga kita berhenti belajar. Tidak ada tempat di dunia ini untuk kalimat “Sudah dari sananya”.

Karena, memang iman berarti Percaya. Tapi tugas kita sebagai individu dan orangtua, untuk mengisi iman itu dengan ilmu. Jika tidak, kita akan mendidik pribadi dengan iman yang kosong.

Mungkin pembaca bingung mengapa bahasan menjadi teologi, tapi ini masih dalam lingkup parenting. Sejak itu saya berjanji pada diri saya untuk belajar agama lebih baik dan pada saatnya saya punya anak nanti, saya akan sedapat mungkin tidak berkata "Sudah takdirnya," dan ini adalah janji yang saya pegang dengan konsisten sampai sekarang – meski pun sering membutuhkan penjelasan yang kompleks dan panjang.

Kenapa ini Penting?
Suatu hari, saya dan sulung menyaksikan sebuah program National Geographic di TV. Pada saat itu, program tersebut sedang menayangkan kehidupan di Serengeti. Anak sulung saya bertanya,

"Pak, kenapa singa memakan daging kerbau sedangkan kerbau tidak membalas makan daging singa? Hanya makan rumput saja?"
"Kerbau adalah herbivora dan singa adalah karnivora," kemudian saya jelaskan perbedaan dari karnivora, herbivora dan omnivora. Kemudian, anak sulung memaksa bertanya lebih lanjut.
"Wah kalau begitu, Tuhan tidak adil dong. Singa akan terus memakan kerbau dan kerbau tidak dapat membalas."
Saya, yang mulai keriting, meneruskan menjawab, "Justru di situlah Tuhan maha adil. Tuhan maha adil bukan karena 1 dibalas 1. Tapi Tuhan adil karena menciptakan keseimbangan. Tuhan menciptakan alam dan ekosistem dengan keseimbangan. Coba kamu perhatikan semua tayangan NatGeo di padang rumput.

Tanah, selalu lebih luas dari rumput.
Rumput, selalu lebih banyak dari kerbau.
Kerbau, selalu lebih banyak dari singa dan semua pemangsanya.
Rumput, mati dimakan kerbau.
Kerbau, mati dimakan singa.
Singa, mati dan menyuburkan tanah.
Tanah, menumbuhkan rumput.
Persis seperti di dalam buku IPA kamu." Alhamdulillah, pertanyaan selesai di sini.

"Bagaimana kalau sampai singanya lebih banyak dari kerbaunya?" ternyata belum selesai.
"Itu tidak mungkin terjadi karena keseimbangan yang Tuhan ciptakan selalu seperti prisma. Seekor singa akan melahirkan 3-4 ekor anak. Tapi 1000-an ekor kerbau akan melahirkan 1000-an ekor anak kerbau lagi."

Akhirnya selesai di situ. Dalam 5 menit, percakapan itu sudah memasukan unsur ilmu alam, dan agama sekaligus. Kenapa saya bersedia repot-repot pergi sejauh ini meladeni dan menjelaskan?

Karena kepada saya, Tuhan menitipkan seorang anak. Dan saya ingin agar anak titipan Tuhan ini, menyembah Tuhannya dengan mengetahui kebesaran Tuhan yang dia sembah.

Cara Lain (yang Lebih Baik)
Metode di atas, memberikan kejelasan dan menambah pengetahuan pada anak. Sebenarnya ada metode yang lebih baik lagi dalam menanggapi pertanyaan anak. Karena metode di atas cenderung menciptakan ketergantungan anak pada orangtuanya untuk mendapatkan jawaban. Sedangkan orangtua juga ingin agar anak kita menjadi orang yang berpikir untuk dirinya sendiri. Kita sebagai orangtua dapat membuat itu terjadi dengan menstimulasi proses berpikir mereka – dengan sering bertanya balik, "Menurut kamu bagaimana?"

Anak: "Kenapa layangan dapat terbang?"
Bapak: "Karena kertasnya ringan dan diembus angin."
Bandingkan dengan:

Anak: "Kenapa layangan dapat terbang?"
Bapak: "Menurut kamu bagaimana?"
Anak: "Mungkin karena kertasnya ringan?"
Bapak: "Iya. Kamu betul. Karena kertasnnya ringan. Tapi karena kertas yang ringan ini, tertiup angin. Menurut kamu, kapan layangan bisa terbang dan kapan layangan bisa jatuh?"
Anak: "Layangan terbang jika anginnya kencang."
Bapak: "Betul. Tapi tepatnya, layangan bisa terbang jika kecepatan angin lebih kencang dari kecepatan layangan jatuh."

Adanya kita di sampaing mereka adalah untuk menstimulasi pemikiran mereka, memperbaiki logika mereka jika ada logical fallacy, menuntun bagaimana cara berpikir yang logis. Memikirkan sebab akibat. Dan semua orangtua pasti setuju, bahwa ini lebih baik.

Kenapa?

Pertama, karena semua orangtua pasti ingin mendidik anak yang mengetahui dan juga, berpikir.

Kedua, manusia adalah mahluk yang beragama. Semua orang pasti setuju, bahwa iman seseorang (terlepas dari anak, bapak, ibu) akan lebih kuat ketika orang itu tahu kejelasan dari kebesaran Tuhannya.

Related Tags : ,
Apa Reaksi Anda ?
10 Comments
Post a Comment
You must be in to post a comment.