Film Imperfect: Mengubah Insecure Jadi Bersyukur

Oleh ninit yunita pada Kamis, 02 Januari 2020
Seputar Product Reviews
Film Imperfect: Mengubah Insecure Jadi Bersyukur

Keberadaan social media telah mengubah banyak hal. Begitu banyak manfaat yang kita dapatkan dari sosial media. Pertemuan dengan teman-teman yang sudah lama tidak kita temui. Tahu kabar keluarga dan sahabat dengan mudah. Bahkan tidak sedikit yang mendapat penghasilan sejak ada social media. Tapi tidak hanya itu. Seperti koin yang memiliki 2 sisi, ada juga sisi yang bisa menghancurkan karir dan reputasi kita karena social media. Di Indonesia, sudah ada beberapa kasus orang masuk penjara karena ketikan jarinya di social media. Tidak sedikit pertemanan jadi renggang karena membaca status di social media dan tidak jarang hati kita jadi tidak nyaman ketika membaca komentar orang (yang belum tentu kita kenal) pada kita. Netizen maha benar, begitu yang sering kita dengar.

 

Meira Anastasia, pernah mengalami hal ini. Berawal dari komentar seseorang di Instagram yang membuatnya lama-lama menjadi insecure. Menikah dengan selebritas, Ernest Prakasa, segala hal dari rambut hingga penampilan, menjadi perhatian netizen. Hal ini menjadi inspirasi Meira untuk menuangkan apa yang ada di kepalanya menjadi sebuah buku, Imperfect: A Journey of Self-AcceptanceBukunya mendapat sambutan yang baik dan dicetak beberapa kali sehingga menjadi best seller. Isu yang diangkat Meira memang sangat penting sehingga ketika Starvision mengangkatnya menjadi sebuah film, hasilnya sangat memuaskan! Tidak hanya menghibur, film Imperfect memberikan banyak sekali pesan penting yang didapatkan penonton.

Setelah Cek Toko Sebelah, Imperfect menjadi film yang disutradarai oleh Ernest Prakasa yang menjadi favorit kami. Saya pribadi menonton film ini dua kali. Terakhir bersama teman-teman. Guess what! Teman-teman saya mengulang menontonnya lagi dengan mengajak anak perempuannya. Kenapa? Karena memang penting agar rasa insecure yang rentan dialami anak-anak remaja (terutama mengenai penampilan fisik) bisa diubah menjadi bersyukur.

Film Imperfect berkisah tentang Rara (Jessica Mila), seorang perempuan yang sering mengalami body-shaming. Menjadi sesuatu yang miris karena ini sudah dialami Rara dari kecil dan di rumah. Ibunya yang mantan model tidak jarang mengeluarkan komentar tidak enak yang membuat Rara membatasi jumlah kalori yang masuk. Tidak boleh makan banyak, dikomentari ketika makan cokelat, dan yang paling tidak enak, kerap dibandingkan dengan Lulu. Lulu adalah adik Rara yang memiliki penampilan fisik yang berbeda dengan Rara. Lulu lebih mirip dengan sang ibu yang bertubuh bak model. Tinggi, langsing, dan putih. Definisi cantik yang kerap digambarkan media. Tidak jarang, orang-orang mempertanyakan apakah Rara dan Lulu benar-benar kakak adik karena penampilan fisik yang begitu berbeda. Tidak cukup di rumah, di tempat kerja pun Rara mengalami body-shaming. Menjadi bahan pembicaraan teman kantor dan puncaknya, terhambat naik jabatan meski otaknya cemerlang hanya karena penampilan fisik yang dianggap kurang ideal. Rara akhirnya memutuskan untuk menurunkan berat badan untuk mendapatkan jabatan yang diidamkannya. Dengan usaha yang keras, Rara akhirnya berhasil menurunkan berat badan dan akhirnya, naik jabatan!

Permasalahan ternyata tidak selesai sampai di sana. Skenario yang ditulis oleh duet Meira dan Ernest menyuguhkan banyak hal yang membuka mata kita mengenai body-shaming. Jangan-jangan, kita sendiri pernah melakukannya. 

Hampir 2 minggu tayang di sinema, film Imperfect sudah ditonton oleh 1,7juta dan saya yakin jumlahnya akan terus bertambah. Isu yang begitu penting dan serius menjadi hal yang mudah dicerna dan tentunya dengan balutan komedi khas Ernest Prakasa. Geng empat anak kos begitu memikat dan tidak pernah gagal menghadirkan tawa. Satu hal yang menjadi favorit saya adalah Dika yang diperankan oleh aktor serba bisa, Reza Rahadian. Pasangan Rara - Dika begitu hangat dan apa adanya, membuat kita mudah jatuh cinta pada mereka berdua.

Imperfect adalah a-feel-good movie yang membuat pergi ke sinema di akhir tahun menjadi pengalaman yang menyenangkan. Hangat, penuh pelajaran berharga, dan penting untuk ditonton. 

Setelah menonton film Imperfect, saya bersyukur menjadi golongan ibu yang senang bila melihat anak-anaknya makan banyak :D saya percaya bahwa segala sesuatu dimulai di rumah jadi mulailah untuk bersyukur dengan apapun bentuk fisik yang kita miliki. Terkadang tidak sadar, kita sering mengeluh mengenai penampilan fisik kita sendiri di depan anak-anak. Yuk! Kita buka cakrawala anak-anak kita di rumah bahwa tidak perlu risau dengan penampilan fisik kita dan orang lain. 

 

0 Komentar