Kekerasan terhadap Anak oleh Ibu, Tanggung Jawab Bersama

Oleh Febi pada Selasa, 25 Juni 2019
Seputar Our Stories
Kekerasan terhadap Anak oleh Ibu, Tanggung Jawab Bersama

Pagi itu suasana ruang redaksi berita tempat saya bekerja diwarnai duka. Berita tentang penganiayaan balita hingga tewas oleh ibunya sendiri di Palembang meninggalkan rasa pilu di hati para produser yang sedang bertugas saat itu, termasuk saya. Penuturan sang ibu yang menceritakan kembali detik-detik buah hatinya menghembuskan napas terakhir terngiang dalam benak saya.

"Katanya, 'sakit perut aku.' Terus saya kasih obat asam jawa, lalu agak mendingan. Dia ngomong, 'aku mau tidur, Bunda, capek...' Setelah itu, sudah sekitar jam 12.00-12.30 dia tidur, biasanya sudah bangun, ini tidak bangun lagi," kata ibu kandung korban yang kini berstatus tersangka.

Bryan Aditya Fadhillah mengembuskan napas terakhir setelah ibunya, Siska, menendang bagian ulu hati bocah empat tahun ini sebanyak dua kali. Berdasarkan hasil visum tim dokter Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumatera Selatan, Bryan meninggal akibat pendarahan di bagian dalam dadanya.

Pada pemberitaan online, Bryan dikisahkan meninggalkan dunia sambil tersenyum. Sungguh, hati semakin hancur membayangkannya.

Peristiwa tersebut terungkap saat Siska melaporkan kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya ke Polresta Palembang. Dalam keterangannya, Siska turut mengakui telah menganiaya Bryan hingga tewas di rumah. Ia berdalih, penganiayaan terhadap anak semata wayangnya ini dilatarbelakangi pertengkaran dengan suami yang kerap menuduhnya tak becus mengurus anak. Sementara Solbani, suami Siska membantah adanya KDRT. Ia mengakui keributan sering terjadi lantaran sering melihat luka dan lebam pada tubuh Bryan karena kerap disiksa.
 
Ini bukan kali pertama anak menjadi korban penganiayaan oleh ibu kandung sendiri. Oktober lalu, seorang ibu di Cengkareng, Jakarta, tega memutilasi anaknya yang masih berusia satu setengah tahun. Hasil pemeriksaan polisi, pelaku mengalami gangguan kejiwaan dan kini menjalani pengobatan di Rumah Sakit Jiwa 2, Grogol, Jakarta Barat.

sadness_
 
Apakah ini sepenuhnya salah ibu? Di mata masyarakat, pandangan ideal tentang ibu adalah sosok mulia yang harus kuat, tapi kenyataannya ibu tak bisa SELALU kuat.

Terkadang ibu sudah semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk anak, namun usahanya terlihat sepele dan tak berharga di mata orang lain. Belum lagi, kematangan mental para perempuan tak bisa disamaratakan. Maka tak heran, bila ada ibu yang menjadi rapuh karena lingkungan sekitarnya tidak suportif.

Menurut Psikolog Kasandra Putranto, banyak faktor yang menyebabkan kondisi psikologis seorang ibu tidak stabil. Mulai dari pengalaman masa lalu, stres berkepanjangan, trauma melahirkan, sampai himpitan ekonomi.
 
"Saya lihat sekarang bahwa masyarakat justru menjadi pemicu sehingga kondisi psikologis ibu menjadi rusak karena kenyataannya mereka justru memberikan tekanan yang membuat kondisi psikologis ini menjadi semakin hancur," terang Psikolog Kasandra.
 
"Ada  mekanisme peer support group, family support group. Nah, ini yg harus kita tingkatkan dan kita bentuk dalam masyarakat. Tapi kan kembali lagi bahwa ini adalah tanggung jawab kita bersama. Jadi jangan sampai ada keluarga yg menghasilkan perempuan yang tidak sehat mental, sekolah yang ikut bertanggung jawab terhadap kesehatan mental perempuan, kemudian masyarakat yang ikut merusak, lalu kemudian diserahkan kepada orang lain untuk memperbaiki. Ini akan menjadi semakin sulit."

Jaminan anak hidup aman dari segala bentuk kekerasan memang tak serta merta selalu dibebankan kepada ibu sebagai pengasuh utama. Sebagai manusia biasa, seorang ibu juga butuh pengertian dan dukungan terutama dari orang-orang terdekatnya. Karena itulah, pembentukan dan pengawasan psikologis ibu perlu melibatkan peran berbagai pihak, termasuk keluarga dan masyarakat. Salah satu tujuannya untuk mencegah potensi-potensi segala bentuk kekerasan terhadap anak.

Peran pemerintah juga dibutuhkan di sini. Misal, dengan lebih menggalakkan lagi konseling, pendampingan keluarga, dan seminar polah asuh lewat organisasi kemasyarakatan seperti pembinaan kesejahteraan keluarga atau PKK. Dan kita, sesama orangtua, mari saling menjadi peer support group yang baik satu sama lain.

Kategori Terkait


Tag Terkait

9 Komentar
Retno Aini
Retno Aini December 20, 2016 3:36 pm

Kalau baca cerita begini, aku berharap bangeettt semoga masyarakat kita makin terbuka pikirannya bahwa parenting itu bukan tugasnya ibu saja, dan ibu sangat-sangat membutuhkan support system yang bagus, bukan dibuat makin stress saat membesarkan anak karena iya, jadi ibu itu lelahnyaaa bukan main. Terima kasih utk sharingnya ya mba Febi...

Woro Indriyani
Woro Indriyani December 8, 2016 8:25 am

Aku paling ga kuat mba baca berita begini, bawaannya pengen pelukin anak :( bener banget ini tanggung jawab bersama, support system tuh dibutuhkan banget yah. Semoga almarhum tenang disana :(

Shinta Daniel
Shinta Daniel December 7, 2016 8:44 am

Paling nggak tahan baca/denger berita2 penganiayaan terhadap anak... sedih banget, huhuhu *mewek

Febi
Febi December 7, 2016 3:37 pm

Cup cup, mba Shinta. Aku pun :(

zata ligouw
zata ligouw December 6, 2016 7:08 am

setuju banget sama Febi, itu tanggungjawab bersama. Aku pernah nyesel bgt, dulu saat SMA pernah bbrp kali denger tetangga marahin anaknya brutal banget sampe dadaku sakit setiap kali denger. Aku ngomong ke nyokap dan tetangga lain, blg bahwa aku mau nyamperin itu ibu2 yg tiap hari marahin anaknya berlebihan gitu, sayang banget tindakan aku malah dicegah sama tetangga2 lain, katanya itu bukan urusan aku dan nanti malah aku yang kenapa2. Mudah2an itu karena 20 thn lalu kesadaran orang masih kurang akan hal ini, mudah2an sekarang situasinya lebih baik lagi ya..

Febi
Febi December 7, 2016 3:39 pm

Betul, mba. Dulu aku juga suka kesel kalu lihat ibu-ibu yang bawel dan kasar sama anaknya. Baru sejak jadi ibu paham betul kalau ibu-ibu yang begitu pasti karena lelah atau stres dari berbagai faktor. Supaya kita sesama ibu bisa saling support dan mengingatkan dengan baik ya...

 

Anda harus Log In untuk memberikan komentar terhadap artikel ini.

Silakan Login di Sini