Mengintip Masa Prasejarah di Museum Geologi

Oleh Angie Renata pada Senin, 01 September 2014
Seputar Activities

Beberapa waktu lalu saya dan Anipchan sepakat untuk jalan-jalan bersama. Asyiknya, kali ini Papadino lagi santai jadi bisa ikut jalan-jalan bersama kami. Perjalanan dimulai Kamis siang sepulang Anipchan latihan djimbe di sekolah. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Museum Geologi Bandung di Jalan Diponegoro. Sebenarnya ini adalah kali ketiga Anipchan ke sini, tetapi setiap kunjungan selalu punya cerita baru dan objek baru untuk diamati.


Memang salah satu keuntungan tinggal di kota Bandung ya karena ada Museum Geologi ini. Sampai sekarang museum ini masih jadi satu-satunya museum dengan pengunjung terbanyak di Indonesia, serta satu-satunya Museum Geologi yang ada di nusantara. Letaknya yang berada di seputar Gedung Sate juga membuatnya pas sebagai tujuan wisata.


Sejarah Singkat Museum Geologi



Museum Geologi dulunya bukan disebut museum, tapi Laboratorium Geologi atau Geologisch Laboratorium. Ini karena fungsi awalnya sebagai tempat penyimpanan sekaligus menganalisis ribuan temuan mineral yang berasal dari seluruh Indonesia. Pembangunan gedung ini dimulai tahun 1928 di bawah arsitek Ir. Menalda van Schouwenburg dengan gaya art deco dan baru selesai sebelas bulan kemudian.


Setelah masa kemerdekaan, Museum Geologi berganti kepengurusan ke tangan PDTG (Pusat Djawatan Tambang dan Geologi). Lembaga ini lalu berganti nama beberapa kali hingga terakhir disebut Pusat Survei Geologi (2005). Sejak tahun 2002, Museum Geologi diberi wewenang untuk mengadakan penelitian, seminar, penyuluhan, pameran dan berbagai kegiatan lain untuk pengembangan dokumentasi.


Pre-historic Visit



Terakhir kali kami ke Museum Geologi, museum ini terbuka untuk umum tanpa menarik biaya sepeser pun. Ternyata sejak 1 September 2012 mulai ditarik tiket masuk untuk setiap kunjungan. Tidak masalah sih, apalagi harga tiketnya murah: Rp3.000,- untuk umum dan Rp2.000,- untuk pelajar.



Ternyata hari itu sedang ada kunjungan dari dua sekolah ke Museum Geologi. Suasananya cukup ramai, akhirnya kami memutuskan untuk terlebih dahulu melihat-lihat koleksi bebatuan dan dokumentasi vulkanik di sayap sebelah kiri. Kebetulan ruang favorit Anipchan yang memuat fosil-fosil sedang penuh sesak oleh rombongan. Dulu saya pikir Anipchan tidak begitu tertarik mengamati bebatuan yang kelihatannya mirip semua. Nyatanya begitu masuk ruangan dia malah sibuk mengambil foto batu-batuan lengkap dengan captionnya. Beberapa teks tentang gempa, gunung berapi, serta asal batuan juga dia baca sampai habis. Di ruang batuan ini, Anipchan paling suka melihat meteorit dan batuan stalaktit. Malahan Anipchan sempet minta saya dan Papadino difoto sambil memegang meteorit koleksi Museum Geologi.



Ruang berikutnya yang kami sambangi tidak lain adalah ruangan fosil! Ruangan ini terletak di sayap kanan lobi. Dari pintu masuk, nuansa pre-historic yang kental begitu terasa. Di sebelah kiri ada mollusca jaman purba dalam bentuk fosil dan foto. Sementara sebelah kanan didominasi sejarah danau Bandung purba yang legendaris. Seperti saya duga, Anipchan tidak betah lama-lama di section ini. Begitu selesai ngambil satu-dua foto, kaki kecilnya langsung melangkah cepat ke section fosil dinosaurus. Di section dinosaurus, dia sibuk membaca caption sekaligus mengamati fosil tulangnya satu-persatu. Sayang kami tidak bawa buku "Why" favoritnya karena ketinggalan di rumah nenek.



Di ruangan fosil ini ada dua pintu lagi ke section yang lain. Pintu satu mengarah pada koleksi kerangka manusia. Kerangka-kerangka disusun berdasarkan masa hidupnya, berasal dari penemuan-penemuan di seluruh dunia antara lain kerangka Homo neanderthalensis, Homo erectus yang banyak ditemukan di pulau Jawa, serta artefak yang digunakan sehari-hari oleh mereka. Di ruangan ini juga ada rekonstruksi wajah manusia purba. Pintu kedua dari ruang fosil, berada di ujung-kanan ruangan. Di balik pintu ini terpajang ratusan koleksi fosil ular dan ikan. Kemudian artefak-artefak dalam bentuk asli, termasuk batu-batu yang menyerupai kursi dan meja.



Ruang berikutnya ada di lantai atas. Di sini ada maket-maket area pertambangan Indonesia. Kemudian melipir sedikit ke ujung ruang, ada pintu masuk ke ruangan berbau "tekno." Ini adalah ruangan yang baru! Di dalam, kita akan disuguhi area display yang menampilkan mineral-mineral berharga, minyak hasil sulingan, dan info-info seputar minerologi. Sayang banyak alat peraga yang tampaknya rusak atau sengaja dimatikan. Jadi di sini kita cuma jalan mengitari area display terus beringsut ke luar. Dulunya di seberang ruangan ini ada area lain yang berisi miniatur mesin-mesin tambang. Sekarang ruangan ini ditutup. Sayang sekali ya.


museum geologi

After visit


Dan perjalanan berkunjung ke masa lalu pun selesai. Kami bertiga keluar museum sambil sesekali membahas benda-benda yang dilihat barusan tetapi Anipchan mengajak saya lari lagi ke sisi kiri taman. Rupanya dia penasaran dengan tumpukan batu yang disusun rapi di taman itu. Setelah didekati, batu-batu itu menampilkan struktur yang berbeda-beda. Ada batuan sulfur, andesit, kuarsa, gamping, dan banyak lagi. Anipchan semangat banget membaca semua captionnya sembari bawel mengomentari ini-itu.


museum geologi

Di akhir perjalanan, Anipchan mampir lagi ke sebuah batu yang nampaknya seperti peti. Batu besar ini ditaruh persis di muka museum sebelah kanan. Baru setelah captionnya di baca, saya dan Anipchan begidik sedikit. Ternyata batu itu merupakan sarkofagus dari masa lalu yang ditemukan di wilayah Jawa Barat. Katanya, orang yang meninggal biasa disemayamkan di situ bersama perhiasan dan alat-alat sederhana untuk hidup di akhirat kelak. Berhubung sarkofagus itu tidak terlalu panjang, jenazah akan ditekuk sedikit supaya muat. Ih... seram!


museum geologi

Dengan selesainya review singkat ke dunia afterlife lewat sarkofagus barusan, akhirnya kunjungan singkat kami pun benar-benar berakhir. Tidak terasa hari sudah menjelang sore, kami pun mampir sebentar ke sebuah kedai yang juga beraroma 'jadoel', Yogurt Cisangkuy. Rasanya tempat ini sudah ada dari sejak saya TK! Serunya, rasa yogurt di sini tak pernah berubah. Cuaca sore yang adem memang pas dipadu jus yoghurt nan segar. Sampai ketemu lagi di waktu jalan-jalan yang lain, Urban mama!

 
Museum Geologi
Jl. Diponegoro No. 57
Bandung 40122, Indonesia
Phone: +62 22 7202669
Website: museum.bgl.esdm.go.id  || Twitter: museumgeologi
 
Jam buka:
Senin-Kamis: 08:00-16:00 WIB
Sabtu-Minggu: 08:00-14:00 WIB
Tutup pada hari Jumat dan libur Nasional
 
Harga tiket masuk (HTM): 
Umum Rp3.000,- & Pelajar Rp2.000,- 

8 Komentar
dhea
dhea September 7, 2014 9:17 pm

waaah seru bgt y pasti jln2 yg edukatif gini sama anak sendiri...udh lama bgt gak kesini lg, dulu pas masa sekolah aja suka kunjungan kesini...jadi ga sabar nunggu raina cpt gedean dikit biar bisa diajak ke museum geologi:)

Siska Knoch
Siska Knoch September 5, 2014 6:45 am

kayaknya yg punya anak cowok rata2 pasti senang diajak kesini ya hahaha
migu juga soalnya seneng bgt kesini dan kalo ke bandung selalu nanya kapan ke museum geologi lagi :))

donakamal
donakamal September 3, 2014 11:14 am

di depan museum geologi ada taman lansia yang sejak "mall gasibu" ditertibkan jadi lebih bersih n rapi, jd enak buat duduk leyeh2 sambil gelar tikar makan siang hehehe.. Gendra (20m) suka banget main di taman lansia

Angie Renata
Angie Renata September 3, 2014 8:30 am

@Eka Banget Ka, Yogurt Cisangkuy dari dulu masih gituuu aja...jadi kerasa banget Bandungnya hihi. Waah kapan2 harus pergi bareng nih sama Enzo Dante :)

@Ella, Zata & Wulan Yuuk, ke siniii. Murah meriah, edukatif dan anak2 suka, jadi mamanya ikutan seneng hehe

Wulan Wahyudi
Wulan Wahyudi September 2, 2014 9:02 am

angie, thx infonya...
pengen banget bawa lintang kesana buat lihat fosil dinosaurus.