'Geologist Mama' Penabung ASI

Oleh wirasti s pada Selasa, 19 April 2016
Seputar Our Stories

Tidak sedikit ibu-ibu yang kesulitan memberikan ASI untuk anaknya dan akhirnya menyerah. Di luar sana pun banyak anggapan kalau ibu bekerja akan susah untuk memberikan ASI kepada anaknya, dan ujung-ujungnya membanding-bandingkan. Ini bukan cerita tentang saya, tapi cerita seorang teman sesama pejuang ASI yang sangat menginspirasi saya -dan semoga juga ibu-ibu lainnya di luar sana- untuk memberikan ASI secara eksklusif untuk sang buah hati.

Kami memanggilnya Mamih. Mamih ini seorang ibu bekerja yang luar biasa menurut saya, karena dia adalah seorang geologist. Sampai saat ini Mamih bekerja di perusahaan tambang di daerah Kalimantan. Dari saat hamil sampai akhirnya cuti melahirkan, Mamih selalu bekerja dengan router (perputaran) 6 minggu di lapangan dan 2 minggu cuti. Kalau yang paham dengan perputaran pekerja tambang pasti paham betul bagaimana susahnya seorang pekerja tambang untuk cuti bersama keluarga. Karena tuntutan, Mamih tidak mengajukan resign. Lalu bagaimana dengan bayinya? Makanya saya sebut Mamih ini luar biasa. Saat cuti melahirkan, Mamih sudah mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan bayinya, dari mulai membeli freezer tempat menyimpan ASIP, double breastpump untuk memerah ASI, cooler box, kantung ASIP dan blue ice gel untuk mempertahankan konsidi ASIP. Untuk menghindari bingung puting karena anaknya akan ditinggal lama maka suaminya yang bergantian bertugas menjaga anaknya, dan berkomitmen menggunakan cup feeder untuk metode pemberian ASIP. Cup feeder biasanya dihindari oleh ibu-ibu pekerja, termasuk saya (hehe) dengan alasan ribet lah, nanti tumpah-tumpah lah, dan segala macam alasan lainnya, but they did it!

Cuti melahirkan selesai, Mamih berhasil 'menabung' 100 lebih botol ASIP untuk anaknya saat mulai kembali bekerja. Fortunately, Mamih mendapatkan kemudahan dari pimpinan perusahaan untuk mengganti jadwal router menjadi 2 minggu di lapangan dan 1 minggu di rumah selama 6 bulan dan menanggung biaya perjalanan sendiri. What luck!

Ketika mulai pertama kali kembali ke lapangan setelah melahirkan, Mamih memulai perjalanan dengan ASI perahnya. Sempat dipandang sebelah mata oleh orangtua kedua belah pihak namun ternyata tidak menyurutkan niat pasangan ini untuk memberikan ASI eksklusif untuk anak mereka.

Hari cuti pun tiba, tugas berikutnya adalah bagaimana caranya mempertahankan ASIP yang sudah dipompa dari 2 minggu sebelumnya untuk sampai ke Bandung dengan selamat dan tidak cair. Dibantu teman-teman di kantornya (yang notabene laki-laki), Mamih pun membuat kotak styrofoam untuk melapisi cooler box yang telah disiapkan untuk mempertahankan kualitas ASIP, lalu menggunakan kurang lebih 8 buah blue ice gels besar dan beberapa blue ice gels kecil untuk tetap menjaga suhu ASIP.

 

Total perjalanan yang ditempuh dari site di Kalimantan ke Bandung sekitar 24 jam perjalanan, jika tidak macet. Kekhawatiran pasti ada, tetapi dengan persiapan yang matang sebelumnya, alhamdulillah ASIP yang Mamih bawa dapat sampai ke Bandung dengan selamat, tidak mencair.

 

Kami ikut senang sekali saat mendapat kabar kalau ASIPnya selamat sampai di Bandung dan tidak mencair. Sampai hari ini, Mamih masih menjalankan rutinitas pekerjaannya sebagai geologist mama dengan router 2/1 dan tetap memberikan ASIP kepada anaknya yang sekarang berumur 4 bulan. Dari situ, saya jadi ikut semangat untuk terus menyusui anak saya sampai nanti dia berusia 6 bulan atau bahkan 2 tahun. Pada intinya, memang kita (dan pasangan) harus yakin bahwa bisa menyusui anak kita karena memang seorang ibu diciptakan untuk itu. Saya pun jadi lebih bersyukur diberikan kemudahan olehNya untuk bisa bekerja dari rumah, sehingga terus dekat dengan anak dan menyusuinya langsung.

Dari cerita teman saya ini, saya lalu berpikir bahwa keberhasilan mendidik anak bukan dinilai dari apakah sang ibu melahirkan normal atau c-section, working mom atau stayed at home mom, menyusui langsung atau tidak, atau menyusui ASI atau formula. Seorang ibu tetaplah ibu bagi anak-anaknya. Seorang Ibu pasti akan melakukan segala cara untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Saya yakin pasti ada banyak pertimbangan dan kisah yang sangat panjang di belakangnya, yang tetap saja ujung-ujungnya untuk kebaikan sang buah hati. Mudah-mudahan cerita ini dapat menginspirasi para mama di luar sana untuk tetap memberikan yang terbaik untuk anak mereka. Yakin bahwa niat baik pasti selalu diberikan jalan.

13 Komentar
Pejuang ASI
Pejuang ASI July 29, 2016 10:01 am

salut banget dengan Mamih, semoga cerita ini bisa menginspirasi para ibu untuk memberikan ASI ekslusif bagi anak-anaknya..

Sepriani Timurtini Limbong
Sepriani Timurtini Limbong June 14, 2016 11:03 am

Waahh, luar biasa. Where there's a will, there's a way. Terima kasih sharingnyaa mama Rastiii. Anw, ada yg tau dan bisa share kah itu cara buat cooler box dengan styrofoam nya gmn ya? Sebentar lagi cuti saya selesai dan tabungan asip mau dibawa ke luar kota juga, msh bingung gmn caranya asip yg dari freezer bisa dibawa dan disimpan dlm freezer lg nantinya. Any help and suggestion will be very appreciated. Makasiihh,

medhaardi April 28, 2016 9:31 am

Terima kasih sharingnya. Ini menguatkan saya sekali yang bentar lagi jauhan dari dek bayi karena balik kerja. Saya SC dan bayi saya masih ketambahan sufor dikit-dikit, tapi saya berusahaaa sekali buat buang sufornya walaupun jauhan. Semangat!

Siska Knoch
Siska Knoch April 25, 2016 10:31 pm

Salut!!!

hanana fajar
hanana fajar April 22, 2016 9:15 am

Mama Rastiiii tauuu banget kondisi kerja dengan sistem router seperti itu dan salut buat mamihhh semangat ngASI nyaaa keren banget!
"Dari cerita teman saya ini, saya lalu berpikir bahwa keberhasilan mendidik anak bukan dinilai dari apakah sang ibu melahirkan normal atau c-section, working mom atau stayed at home mom, menyusui langsung atau tidak, atau menyusui ASI atau formula. Seorang ibu tetaplah ibu bagi anak-anaknya. Seorang Ibu pasti akan melakukan segala cara untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya."
Nice words and true!