Mendidik Anak Tanpa Menakut-nakuti

Oleh Mellisa Nasution pada Kamis, 02 Juli 2020
Seputar Our Stories
Mendidik Anak Tanpa Menakut-nakuti

Saat sedang makan di sebuah mall di Singapura, saya mendengar percakapan sebuah keluarga Malaysia yang duduk di samping saya. Percakapannya seperti ini:

Nenek: “Sudeh bace Bismillah??”
Anak: “Belum…”
Nenek: “Cepat bace Bismillah! Jika tak bace hantu makan makanan dalem perut!”
Ibu: “Dengar nenek la!”

Setelah mendengar percakapan itu saya jadi teringat di negeri saya sendiri. Saya menemukan banyak orang tua yang mengajar anak dengan cara menakut-nakuti. Beberapa kalimat yang sangat umum diucapkan oleh (kebanyakan) orang tua di Indonesia, misalnya:

 “Awas, jangan keluar lagi magrib, nanti dibawa kolong wewek”
“Ayo makan yang cepat, nanti makanannya dihabisin setan”
“Cuci kaki yang bersih sebelum tidur, kalo kakinya kotor nanti dijilatin setan”
“Jangan duduk di atas bantal, nanti pantatnya bisulan”
“Jangan makan sambil tiduran, nanti jadi ular”

Mengapa orang tua harus menakuti anak agar perkataan atau perintahnya dituruti? Kadang orang tua malas untuk menjelaskan panjang lebar pada anak kenapa dia harus melakukan sesuatu. Agar cepat dan anak langsung menurut, dipakailah cara menakut-nakuti mereka.


credit image: pexels.com

Menakut-nakuti anak dapat menimbulkan masalah psikologis yang dapat berakibat pada rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu. Anak yang sering ditakuti dengan setan akan tumbuh menjadi anak yang penakut, pencemas, dan cengeng. Saya tidak heran melihat banyak teman-teman saya yang takut pada setan padahal mereka sudah sangat dewasa. Sebenarnya mereka takut pada imajinasi mereka sendiri akan setan.

Alangkah baiknya jika kita menerangkan kepada anak dengan cara yang cerdas atau memakai alasan yang masuk akal. Saat masih anak-anak, otak belum dapat berpikir dengan logika. Otak menyerap apapun dari lingkungan dan menyimpannya dalam memori. Memori baik atau buruk yang terekam dalam otak anak berperan dalam membentukan mental dan perilaku anak hingga dewasa.

Dalam mengajari anak memang dibutuhkan kesabaran. Kita perlu menahan rasa malas untuk menerangkan sesuatu secara panjang lebar kepada anak daripada anak menjadi salah dalam berpikir ya, Urban Mama.

 

3 Komentar
Atika dian Pitaloka
Atika dian Pitaloka July 27, 2018 10:04 pm

Setuju banget mba. Bahkan aku dulu pas kecil percaya kalau makan buah dan biji nya ketelen bakal tumbuh pohon dari dalem perut. Anak kecil mikirnya kan sesimpel itu. Belum bisa nalar dengan logika.

dieta hadi
dieta hadi May 30, 2018 10:32 am

setuju, banyak orangtua menakut-nakuti anak supaya nurut. Lama-lama anak akan belajar nakut-nakutin juga. Memang PR banget ya supaya anak bisa mengikuti apa yang kita inginkan, ga bisa instan.

Cindy Vania
Cindy Vania May 28, 2018 7:52 am

Terima kasih artikelnya mama Mellisa. Hihihi, jadi inget zaman dulu kalau lagi ditakut2in sama tetangga :P

Bener banget, kalau mengajari anak memang butuh banyak kesabaran, dan harus menyingkirkan rasa malas menerangkan panjang lebar dan berulang2. Walau yang paling akhir itu, saya masih suka pengin ngerekam suara sendiri trus suruh anak dengerin berulang2 :P

 

Anda harus Log In untuk memberikan komentar terhadap artikel ini.

Silakan Login di Sini