Bicara Pada Anak Soal Bunuh Diri

Oleh zata ligouw pada Jumat, 22 Juni 2018
Seputar Tips
Bicara Pada Anak Soal Bunuh Diri

Pulang dari Jepang beberapa waktu lalu, saya disambut pertanyaan tak terduga dari si bungsu yang berumur 7 tahun. “Ma, mampir ke hutan Aokigahara, ngga, di sana?”

Jujur saja saya malah nggak ngeh dengan nama hutan tersebut. Saat tur sempat disebut sekilas, sih, nama hutannya oleh guide, tapi saya tidak terlalu memperhatikan.
“Ngga, Bil, mama lewat aja, nggak berhenti di hutan itu. Memangnya itu hutan apa, sih?”

Lalu berceritalah ia soal hutan Aokigahara yang merupakan tempat populer untuk bunuh diri di Jepang. Ia juga bercerita soal Logan Paul, youtuber yang akhirnya meminta maaf kepada publik karena membuat vlog yang kontroversial, yaitu merekam mayat korban bunuh diri saat ia berada di hutan Aokigahara.

Belum lama bicara soal hutan bunuh diri, lalu muncul berita soal pelajar SMP di Blitar yang mengakhiri hidupnya dan diduga alasannya karena takut tidak berhasil masuk SMA favoritnya. Kemudian diikuti oleh kasus Kate Spade dan Anthony Bourdain yang sebenarnya tidak terlalu dikenal oleh anak-anak, namun karena beritanya banyak ditemukan di internet, mau tak mau mereka pun bertanya-tanya, siapakah dua tokoh yang ramai dibicarakan itu. Jadilah gantian saya yang bercerita soal dua selebritis yang secara tragis mengakhiri hidupnya itu.

(Gambar: www.pixabay.com)

Si bungsu memang banyak menyerap informasi dari internet saat ia berselancar di sana, sambil ditemani kakak-kakaknya sehingga saya cukup merasa aman. Namun pengetahuan mereka soal fenomena bunuh diri yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan membuat saya merasa perlu untuk berbicara secara khusus tentang topik ini dengan ketiga anak saya.

Sebelum mulai bicara, saya melakukan riset kecil-kecilan dengan mencari literatur-literatur yang bisa mendukung saya agar dapat menjelaskan dengan tepat mengenai topik ini. Berikut beberapa hal yang saya lakukan saat bicara tentang bunuh diri kepada mereka.

  1. Ngobrol
    Saya mengawalinya dengan mengobrol seperti biasa sebelum mereka semua tidur. Saya lalu melemparkan pertanyaan kepada mereka, terutama si bungsu soal bunuh diri. “Bil, kemarin, kan, kamu tanya-tanya ke mama soal bunuh diri. Memang apa, sih, yang kamu tahu soal bunuh diri?”
    “Bunuh diri itu dosa, ma,” jawab si bungsu mantap. “Kok, tahu?,” tanya saya lagi.
    “Kata abang dan kakak. Trus aku juga diajarin di sekolah bahwa bunuh diri itu dosa besar”
    Dari perbincangan tersebut saya tahu bahwa mereka bertiga sudah sangat paham kenapa secara agama bunuh diri dianggap dosa besar. Kebetulan ketiga anak saya memang bersekolah di sekolah yang berbasis agama.
  2. Sampaikan dengan sederhana
    Dari sisi agama, mereka sudah mengerti mengapa bunuh diri itu dianggap perbuatan yang salah. Namun, pertanyaan yang cukup menohok adalah, “Kalau sudah tahu bunuh diri itu dosa, kenapa orang itu tetap bunuh diri, ma?” tanya si bungsu. Si kakak pun menambahkan, “Apa sih alasan mereka sampai bunuh diri?. Aku nggak ngerti deh, Ma”.
    Saya tahu, ini jawabannya rumit sekali. Di kepala saya sudah siap-siap meluncur kalimat-kalimat panjang tentang depresi, sakit mental, rasa sakit yang tak tertahankan, atau bahkan pikiran pendek dan lemah secara mental. Namun saya rasa penjelasan tersebut masih terlalu berat terutama buat si bungsu.
    Akhirnya saya memilih penjelasan yang sedikit lebih sederhana yang saya temukan di internet, “Pikiran dan perasaan kita berasal dari otak, kadang ada orang-orang tertentu yang otaknya memang sakit hingga mereka merasa sangat buruk dan tidak mampu berpikir dengan baik. Ada beberapa orang yang tidak bisa memikirkan jalan lain untuk menyelesaikan masalah mereka selain dengan bunuh diri. Padahal sebenarnya mereka bisa mendapatkan pertolongan.”
  3. Hindari berbicara buruk tentang korban
    Saya tidak bisa menyortir apa yang mereka baca di internet soal alasan korban bunuh diri, soal perilaku korban, dan sebagainya. Namun saya mengingatkan anak-anak juga untuk tidak menghakimi korban, karena kita tidak benar-benar tahu apa yang dialami oleh korban bunuh diri tersebut. Selain itu saya juga melarang mereka untuk menyebarkan berita yang belum tentu benar soal korban bunuh diri.
  4. Menjelaskan tentang gejala yang biasa ditemui pada pelaku bunuh diri
    Pada anak-anak, saya menekankan tentang pentingnya membantu diri sendiri dan orang lain jika ada tanda-tanda bunuh diri. Sepertinya berat ya, bicara soal hal ini pada anak-anak. Namun faktanya tidak juga, lho. Mereka menanggapinya dengan serius.
    Saya bilang pada mereka, jika mereka merasa terlalu sedih atau marah atau malu berlebihan, jangan sampai mereka tidak menceritakannya pada saya, ibunya, karena saya pasti akan membantu mereka mencari solusinya. Mereka tidak sendirian.
    Begitu juga saat mereka melihat teman atau kerabat yang menurut mereka mencurigakan, seperti menjadi sangat pendiam, menjauh, bertingkah aneh, dan sebagainya, sebaiknya mereka juga menceritakannya pada orang dekat yang lebih dewasa seperti orangtua dan guru.
  5. Ingatkan untuk bersyukur dan bahagia
    Sebagai penutup, saya mengingatkan mereka untuk selalu bersyukur atas apa-apa yang kami miliki saat ini. Hidup memang tidak akan selalu indah dan menyenangkan seperti yang mereka harapkan, namun mereka harus percaya bahwa selalu ada solusi untuk masalah terberat sekali pun.

 

Semoga pengalaman yang saya bagi di atas dapat bermanfaat ya, urban Mama. Tidak ada cara yang benar atau salah untuk berdiskusi soal topik-topik yang berat dengan anak-anak. Sampaikan saja dengan cara kita masing-masing dan mungkin kita akan kaget sekaligus kagum dengan respon mereka.

2 Komentar
musdalifa anas
musdalifa anas June 25, 2018 11:52 am

Zat,a, terima kasih ya tulisannya bermanfaat banget. Pas nih kemarin sama Lana ngobrol tentang ini juga karena pas liat salah satu tv swasta ada liputan tentang hutan aokigahara ini.

zata ligouw
zata ligouw June 28, 2018 10:03 pm

sama-samaaa Pehhh...