Kelahiran Kareem

Oleh Sefa Firdaus pada Sabtu, 22 Mei 2010
Seputar Our Stories

Dari awal saya sudah bertekad untuk melahirkan secara normal. Saya ingin merasakan semua rasa yang pernah ibu tercinta rasakan saat melahirkan saya. Keinginan melahirkan secara normal ini pula yang membuat saya semangat dan rajin bergerak diujung kehamilan plus mengikuti kursus persiapan melahirkan, bahkan rajin meminum air rendaman rumput Fatimah yang dibawakan kakak saya dari Indonesia (saya tinggal di Jerman).

Ternyata sampai hari H, kontraksi saya masih belum teratur dan belum juga ada pembukaan. Saya sudah pergi ke RS tiap dua hari sekali untuk melakukan CTG, namun kontraksi itu belum datang juga. Anehnya, kontraksi selalu saya rasakan setiap malam menjelang tidur, tapi tidak teratur. Pihak RS menginformasikan bahwa setelah H+12, saya harus menginap di RS.

H+1, kondisi kesehatan saya mendadak drop. Saya mengalami batuk dan hidung berlendir yang membuat saya tidak bisa tidur. H+8, saya sudah mulai tidak bisa bernafas, tidurpun dengan mulut terbuka yang menyebabkan bibir saya pecah-pecah karena kering. Saya sudah tidak sanggup lagi dan memutuskan untuk meminta RS mengambil tindakan operasi Caesar.

H+12 subuh, saya melakukan video call dengan kakak tertua yang kebetulan adalah seorang bidan, beliau dan dua putrinya (yang kebetulan adalah dokter dan calon dokter) menyarankan saya untuk meminta tindakan operasi karena menurut mereka, kondisi saya yang sekarang ini sudah pantas untuk dilakukan operasi. Kandungan yang sudah tua umurnya dan kondisi kesehatan saya.

Di RS, di ruang CTG, saya didatangi oleh dokter kepala (DSOG) yang memberikan keterangan tindakan apa saja yang akan saya jalani selama di RS. Beliau bilang, mereka akan menunggu sampai H+16 dengan mengusahakan kelahiran normal sebelum melakukan tindakan c-sect. Saya langsung lemas karena saya takut bila terjadi hal-hal yang tidak saya inginkan diempat hari mendatang. Saya-pun mengutarakan keinginan saya untuk melakukan c-sect berikut alasan-alasannya dan pendapat kakak dan keponakan-keponakan saya ditanah air. Namun dokter tetap bersikeras saya harus mengikuti prosedur karena tidak ada indikasi sama sekali (menurut beliau) untuk melakukan c-sect pada saya dan mengatakan bahwa kalau saya bersikeras, saya harus membayar biaya ekstra 1000Euro karena melakukan c-sect secara sengaja. Hampir saja saya menjawab bahwa saya tidak peduli kalau harus membayar ekstra, karena saya tidak mau kehilangan Kareem, namun suami menyabarkan saya. Dokter menjanjikan akan membuat saya tidur nyenyak setelah saya bilang sudah 4 hari saya tidak bisa tidur karena batuk dan tidak bisa bernafas. Saya-pun pasrah, apalagi suami memohon saya untuk bersabar dan berserah diri.

Setelah CTG tersebut, saya di-induksi selama 1 jam, namun tetap, tanda-tanda kontraksi belum juga datang. Saya-pun dipersilakan untuk istirahat dikamar pasien untuk kemudian datang kembali setelah makan siang. Entah kenapa, hari itu saya merasa sangat lapar, saya-pun menghabiskan seluruh jatah makan siang saya.

Jam 12 siang, saya melakukan CTG kembali, kali ini bidan yang memasangkan alat CTG terlihat masih muda dan baru, karena susah bagi beliau untuk menemukan letak jantung Kareem. Setelah dua kali gagal, akhirnya berhasil juga. Setelah beberapa menit CTG berlangsung, tiba-tiba detak jantung Kareem naik dengan drastis menjadi 190 untuk kemudian turun secara perlahan. Di saat detak jantungnya menjadi 60, saya kira itu adalah detak jantung saya, saya minta suami untuk memperbaiki posisi alat CTG, namun tidak juga kunjung kami dapatkan detak jantung Kareem, malah detak jantung yang 60 itu perlahan turun untuk kemudian menjadi nol dan berubah menjadi tanda tanya. Suami-pun langsung memencet bel memanggil bidan yang bertugas. Namun bidan yang datang tidak bisa berbuat apa-apa dan memanggil bala bantuan. Penuhlah kamar saya dengan para tenaga medis yang berusaha mendapatkan kembali detak jatuk Kareem. Saya hanya bisa menangis dan menangis setelah sadar bahwa tanda tanya itu adalah tanda hilangnya detak jantung Kareem.

Setelah diinfus dan disuntik, alhamdulillah jantung Kareem kembali berdetak dan perlahan menjadi normal. Saya-pun dipindahkan ke ruang bersalin, dikelilingi oleh tim dokter. Kepala DSA menerangkan apa yang terjadi dan mengatakan bahwa melahirkan secara normal bisa saja kembali diusahakan, namun hal tersebut bisa membahayakan nyawa Kareem, sehingga c-sect adalah tindakan yang paling bijaksana. Saya dan suami langsung menyetujui untuk melakukan operasi karena bagi kami, keselamatan Kareem adalah segalanya.

Di saat dibacakan efek apa saja yang bisa saya dapatkan lewat c-sect dan apakah saya siap dengan risiko tersebut, saya mengangguk pasti. Saya sudah siap, Kareem adalah segalanya buat saya dan saya tidak peduli kalau itu berarti harus mengambil nyawa saya. Pesan saya kepada suami juga untuk memilih Kareem, apabila dia diminta memilih. Suami saya menitikkan air mata mendengar permintaan saya dan kemudian membisikkan doa sebelum tidur ke telinga saya.

Sebelum masuk ruang operasi, saya sempat berpesan kepada kakak saya (yang sengaja datang dari Indonesia untuk menemani saya melahirkan) untuk menelepon ibu di Jakarta dan meminta doanya.

Awalnya akan dilakukan anestesi lokal dan suami bisa mendampingi, tapi ternyata setelah dilakukan kembali pemeriksaan didalam ruangan operasi, diketahui bahwa air ketuban saya sudah hijau dan harus segera dilakukan tindakan operasi dengan pembiusan total.


Jam 13:32 CET, Kareem lahir ke dunia dengan berat 3540gr dan panjang 55cm. Tidak lama kemudian saya pun mengalami pendarahan dari hidung yang membuat saya kembali dibius untuk menghentikan pendarahan. Kakak saya dan suami yang ada diluar ruang operasi-pun menjadi cemas.
Keluar dari ruang pemulihan menuju kamar pasien diakibatkan efek anestesi, saya muntah yang diiringi dengan darah. Kembali saya dikelilingi para medis dengan segala perlengkapan. Alhamdulillah, ternyata darah yang keluar adalah sisa pendarahan pasca operasi tadi.


Kalau mengingat kejadian kelahiran Kareem, saya masih menangis, karena ternyata menurut dokter THT yang menolong saya dimeja operasi mengatakan bahwa paru-paru saya tertutup lendir dan hal ini yang membuat saya pendarahan lewat hidung sehingga saya harus memakai tampon dikedua hidung saya untuk menghindari pendarahan susulan yang menyebabkan saya harus kembali bernafas lewat mulut. Dokter THT tersebut mengatakan kepada suami saya, bahwa saya benar-benar sakit.


Saya tidak habis bersyukur kepada Allah karena apabila tidak dilakukan tindakan c-sect, bisa saja saya dan Kareem tidak bisa selamat dikarenakan kondisi Kareem yang sudah berenang di ketuban yang berwarna hijau dan kondisi paru-paru saya yang tertutup lendir yang membuat saya sulit bernafas. Kalau sampai hal itu terjadi, apakah DSOG yang memaksa saya untuk melahirkan normal mau bertanggung jawab? Dan apakah beliau bisa menggantikan nyawa saya dan Kareem?

Sekarang ini, setiap melihat Kareem tidur dan teringat bagaimana dulu saya hampir kehilangan dia, airmata saya selalu keluar. Alhamdulillah, semua itu sudah lewat. Kareem, mashaalah sehat dan aktif. Semoga Allah selalu melindungi Kareem, memberikanya kesehatan dan melimpahinya dengan barokah, amin.

Kategori Terkait


Tag Terkait

60 Komentar
elfrida May 24, 2012 9:54 am

wah saya menangis baca tulisannya mbk sefa. Puji Tuhan semuanya boleh selamat dan kembali sehat yah... itulah kebesaran Tuhan pada setiap kehamilan dan proses kelahiran. kita wajib slalu bersyukur dan bersandar selalu pada Tuhan.

Dewi Martha Indria
Dewi Martha Indria September 21, 2010 12:19 pm

Sudah lama ga denger kabar dari mbak Sefa dan sekarang aku baru tau kisahnya Kareem... *maaf ya mbak aku telat banget taunya*

Semoga Kareem dan mbak Sefa sehat selalu ya....
dan semoga mbak Sefa sekeluarga selalu dalam lindunganNya..
Amin Allahumma Amin...

Alke Niera Amelia
Alke Niera Amelia August 24, 2010 2:55 pm

Aduh mbak,, aku sungguh terharu. Betapa perjuangan seorang ibu itu tidak main-main. Hampir menitikkan airmata tapi aku tahan soalnya di kantor.

Alhamdulillah akhirnya Kareem dan mbak Sefa sehat-sehat. Semoga Kareem jadi anak yg sholehah dan berbakti pada orangtuanya.

Mommy Bri June 19, 2010 11:30 am

Sefaaaaa.... aduh nggak nyangka segitu beratnya perjuanganlo. Waktu dapet kabar dari anak SLF mereka cuma bilang ada sedikit komplikasi dan keadaan elo lemah banget. Alhamdulillah semua terlewati dengan selamat ya....

*peluk cium untuk dirimu, mom & Kareem*

babybenz
babybenz May 29, 2010 4:20 am

Subhanallah ya. Terharu bgt aku bacanya, smp keluar air mata.. krn aku kmrn sempet ngalamin yg hampir spt itu. Walaupun tidak seberat ujian yg Sefa hadapi. Namun aku bisa ngerasain paniknya, takutnya, mikirin gimana supaya anak yg di dalam perut selamat. Smp skr kalo ngeliatin anakku ga pernah berenti bersyukur krn Allah menyelamatkannya...
Alhamdulillah ya Mba, Kareemnya skr sudah besar. Sehat dan lucu banget lagi :).

 

Artikel Terbaru
Senin, 09 November 2020 (By Expert)

Mengenal Lebih Dekat Rahasia Manfaat BPJS Sebagai Asuransi Proteksi Kita

Jumat, 25 Desember 2020

6 Keuntungan Tidak Punya Pohon Natal di Rumah

Kamis, 24 Desember 2020

Rahasia kecantikan Alami dari THE FACE SHOP YEHWADAM REVITALIZING

Rabu, 23 Desember 2020

Lentera Lyshus

Selasa, 22 Desember 2020

Different Story in Every Parenting Style

Senin, 21 Desember 2020

Menurut Kamu, Bagaimana?

Jumat, 18 Desember 2020

Santa's Belt Macarons

Selasa, 15 Desember 2020

Christmas Tree Brownies