Theurbanmama

Merencanakan Keluarga Kecil yang Bahagia

Rabu, 06 September 2017

Menikah dan memiliki anak rasanya menjadi kebahagiaan terbesar saya. Pertama kali tahu saya hamil, rasanya bahagia sekaligus cemas. Mengapa begitu? Bahagia karena akan menjadi seorang ibu dan kagum bahwa akan ada janin yang berkembang di rahim saya. Cemas karena khawatir saya kurang maksimal dalam menjaga janin selama di dalam rahim dan menjaganya saat sudah lahir kelak. Namun setelah menjalaninya, Alhamdulillah sampai sekarang yang ada hanya rasa bahagia.

Setelah melahirkan Rafasya, saya sempat tidak haid selama kurang lebih 15 bulan. Saat itu saya berpikir bahwa menyusui secara eksklusif merupakan KB alami. Saya baru memasang IUD saat Rafasya berusia 15 bulan. Dokter kandungan saya sampai kaget lama sekali saya baru pasang IUD. Setelah dipasang selama kurang lebih 1,5 tahun, saat Rafasya berusia 3 tahun saya melepasnya demi mencoba mendapatkan anak kedua. Alhamdulillah Arsel lahir saat Rafasya berusia 5 tahun.

Menjelang kelahiran Arsel, saya membicarakan tentang alat kontrasepsi yang akan digunakan bersama suami dan dokter kandungan. Saat itu dokter menyarankan agar saya segera menggunakan alat kontrasepsi dan tidak lagi mengandalkan menyusui sebagai kontrasepsi alami. Akhirnya saya memilih untuk langsung memasang IUD saat melahirkan Arsel secara sesar. Apalagi menurut dokter, IUD tidak akan mengganggu produksiĀ  dan kualitas ASI. Hal ini memang terbukti benar, walaupun memakai IUD, saya bisa tetap lancar menyusui Arsel.

Mengapa saya memilih IUD?

Saya memilih IUD karena takut kurang disiplin jika memilih alat kontrasepsi lain yang harus sering diulang pemakaiannya. Saya takut lupa dan ternyata hamil. Bukannya tidak mensyukuri nikmat Allah ya. Namun menurut saya dan suami memiliki anak juga perlu perhitungan. Rezeki sih memang Allah yang mengatur, tetapi kemampuan orangtua menghidupi anak juga perlu dipertimbangkan selain juga memberi jarak antar anak demi mendapatkan segudang manfaat dari ASI.

Memangnya memakai IUD itu tidak sakit ya?

Alhamdulillah, saya tidak merasa sakit sama sekali. Baik pada waktu memasangnya (setelah kelahiran Rafasya) ataupun saat melepasnya (saat akan ikhtiar untuk hamil lagi). Ada sedikit rasa kurang nyaman dan sebentar saat melepas spiral. Namun selebihnya tidak ada rasa sakit yang berlebihan. Sebenarnya sakit atau tidak sakit itu tergantung pikiran juga menurut saya. Kadang kalau kita tegang, juga bisa mempengaruhi saat dokter kandungan memasang atau melepas spiral tersebut. Selain itu kadar sakit setiap orang juga berbeda-beda.

Perbedaan yang saya rasakan hanya pada saat haid. Darah haid yang keluar jadi lebih banyak. Setelah konsultasi dengan dokter kandungan saya, katanya sih itu cara tubuh saya menyesuaikan diri dengan IUD. Selama tidak berlebihan dan jangka waktunya wajar seperti haid biasanya, tidak perlu khawatir.

Setelah menggunakan IUD juga biasa saja. Saya tetap beraktivitas seperti biasa. Saya pernah dengar kalau memakai IUD saya tidak boleh mengangkat yang berat-berat. Namun saya tetap menggendong Arsel yang sekarang beratnya sekitar 9,5 kg. Berdasarkan pengalaman saya, memakai IUD itu aman dan menenangkan. Jadi, urban mama tidak perlu takut jika ingin menggunakan kontrasepsi IUD.

Sejauh ini kami merasa telah membuat pilihan yang tepat dengan kontrasepsi jangka panjang karena sangat aman, nyaman, praktis, dan ekonomis. Selain IUD, ada juga pilihan implan. Manfaat yang sama bagusnya dengan IUD dan hanya mengandung hormon progesteron sehingga tidak memengaruhi produksi dan kualitas ASI. Untuk informasi lebih lanjut mengenai kedua metode kontrasepsi tersebut dapat langsung mengunjungi Program Pilihanku di sini. Apa pun pilihan alat kontrasepsi urban mama, yang penting cocok dengan tujuan dan gaya hidup masing-masing.

Related Tags : ,,,,,
Apa Reaksi Anda ?
15 Comments
Post a Comment
You must be in to post a comment.