Rafi si Pedagang Donat

Oleh ida_baik pada Senin, 09 April 2012
Seputar Our Stories

Anak saya, Rafi, suka sekali karakter Thomas and Friends. Jadi tidak heran kalau setiap kali jalan-jalan ke mal, Rafi selalu punya ritual mengunjungi rak-rak mainan kereta Thomas untuk sekadar lihat-lihat. Minggu lalu, saat jalan-jalan ke Plaza Senayan, Rafi mendapati ada tiga karakter di film The Misty Island yang sangat dia idolakan, yaitu Dash, Bash, dan Ferdinand. Tapi saat itu belum saatnya Rafi beli mainan baru, maka tentu dia tidak bisa membawa pulang mainan itu ke rumah.

Sejak Rafi mengerti berkomunikasi dua arah, saya dan Agung-suami saya, memang mengajari Rafi bahwa tidak semua yang dia inginkan bisa terpenuhi. Salah satunya ya soal beli mainan ini. Kami juga mengajarinya bahwa semua barang harus dibeli dengan uang, yang mana untuk mendapatkan uang tersebut bapak dan bundanya harus bekerja. Jadi Rafi tidak bisa selalu minta barang yang dia mau dan langsung dituruti karena uang yang diperoleh dari bekerja itu tidak hanya untuk beli mainan saja tapi juga untuk beli makanan, bayar uang sekolah, dll.

Karena Rafi tampak ingin sekali mainan itu, saya dan Agung malah jadi punya ide untuk mengajari Rafi, apa itu "bekerja untuk mendapatkan uang".

Saya bertanya pada Rafi:

"Rafi, untuk beli mainan kan harus pakai uang. Rafi punya uang?"
"Tidak, Bunda..."
"Mau punya uang untuk beli mainan?"
"Mau, Bunda!"
"Berjualan donat mau?"
"Jual donat?"
"Iya, nanti Bunda buatkan donat untuk Rafi, lalu sana Rafi jual di pasar. Berani?"
"Berani, Bunda! Mau! Uangnya buat beli kereta ya!"
"Ya!"

Disepakati, hari Jumat 23 Maret 2012 (tanggal merah) kami pilih untuk  berjualan donat. Pagi-pagi saya sudah sibuk membuat donat kentang. Rafi pagi-pagi juga sudah bangun dengan semangat untuk "dagang donat". Donat jadi, saya taburi gula halus, simpan di wadah plastik besar, siap dibawa ke pasar. Agung sibuk membuat sign jualannya. Donat-donat ini akan Rafi jual dengan harga Rp 1.000/buah. Ini jelas bukan berjualan niat dapat untung, tapi untuk melatih mental Rafi.

Saya hanya bawakan Rafi 12 buah donat saja.

[caption id="attachment_54172" align="aligncenter" width="222" caption="donat kentang siap dijual"][/caption]

[caption id="attachment_54176" align="aligncenter" width="222" caption="tukang donat dan dagangannya :-)"][/caption]

Sebelum berangkat saya dan Agung sudah wanti-wanti ke Rafi,

"Rafi, ini Rafi berjualan belum tentu laku dan ada yang beli ya! Rafi harus berani menawarkan donatnya kepada om dan tante yang lewat untuk beli donat Rafi ya! dan kalau nanti donat Rafi belum ada yang beli, jangan sedih, usaha terus, pantang menyerah ya!"
"Ya Bunda, aku mengerti!"

Maka kami bertiga pun jalan ke depan pasar, yang letaknya hanya 50M dari rumah. Saya ajak Rafi ke depan pasar, dan duduk di tangga masuk pasar, sebelah ibu-ibu yang juga berjualan. Agung sibuk mengambil gambar dengan handycam and foto-foto juga, dari jauh.

 

[caption id="attachment_54239" align="aligncenter" width="222" caption="berbagi tempat jualan dengan ibu sebelah..."][/caption]

Saatnya misi mulai dijalankan. Rafi masih belum percaya diri rupanya dan diam dan memperhatikan sekitar. Selang 15 menit berlalu, Rafi mulai menunjukkan wajah sedih karena donatnya belum laku.

[caption id="attachment_54240" align="aligncenter" width="222" caption="sedih, belum laku :-)"][/caption]

Saya kembali bilang, "Rafi, kalau berjualan itu, orang harus tahu kalau Rafi menjual sesuatu. Gimana caranya? Ya Rafi harus beri tahu. Beri tahunya dengan bilang ke oom dan tante yang lewat kalau Rafi jualan donat. Paak, buuu aku jual donat, mau belii? Begitu... kalau Rafi diam saja, siapa yang tahu Rafi berjualan? Kalau tidak ada yang tahu, lalu siapa yang mau beli donat Rafi?"
"Begitu ya, Bunda?"
"Iya, ayo sana tawarkan ke tante dan oom yang lewat..."
Begitu ada yang mendekat, saya langsung berbisik kepada Rafi, "Ayo, tawarkan ke Om ini!"

Rafi pun tiba-tiba berkata dengan lantang... "Paaak, aku jual donat, mau beli?" Wah, berhasil! Rafi mulai berani!
Bapak yang lewat hanya melihat sekilas dan berlalu.
Saya bilang sama Rafi, "Rafi, kalau kita jualan, ada yang mau beli dan tidak. Kalau yang mau beli itu pasti karena ingin makan donat Rafi. Tapi seperti Om yg baru saja lewat, mungkin dia sudah kenyang jadi tidak ingin makan donat. Tidak apa-apa, ayo tawarkan lagi sama yang lain yang ingin makan donat Rafi!"
"Ya ya, Bunda!"
Lewat seorang ibu, saya berbisik pada Rafi,"Nah, ini ibunya tawarkan!"
"Ibuuu aku jual donat, mau beli gak Buuuu?" Rafi makin berani!
Ibunya senyum sambil bilang, "terima kasih..."

Saatnya menyuntikkan lagi motivasi. "Nah, Ibu itu sama kayak Bapak yang tadi, masih kenyang, belum ingin makan donat. Kita cari lagi yang ingin makan donat ya!"
"Ya ya, Bunda!" kata Rafi mulai tersenyum.

Rupanya ibu penjual sebelah Rafi mulai tampak kasihan karena donatnya Rafi belum laku... Lalu, "Ibu beli satu deh donatnya." Rafi langsung tersenyum lebar!

His first costumer!

Dan dampaknya cukup positif, karena setelah itu, Rafi makin pede. Yang lewat dia tawari donat, dan efeknya mengejutkan, pembeli mulai berdatangan! Rafi sibuk memindahkan donat-donat yg dia bawa ke plastik untuk diserahkan ke pembeli. Dia senang sekali dan terlihat menikmati kegiatannya berjualan donat ini.


Total, ada 5 pembeli donat.

Rafi senang sekali! Saya juga senang sekali, berhasil membuat Rafi mengerti bahwa untuk dapat uang, inilah yang disebut dengan "kerja", do something to earn the money. Dan yang terpenting, Rafi berhasil mengalahkan perasaan "tidak bisa" dan mulai merasakan bahwa yang namanya berjualan itu seru dan tidak perlu malu.

 

"Uang yang Rafi dapatkan dari jual donat tadi tidak banyak, belum cukup sebenarnya untuk beli kereta yang Rafi mau, tapi ditambah dengan uang Bunda, uang Bapak, dan uang di celengan Rafi, bisa untuk beli 1 kereta ya!"
"Iyaaa, Bunda!"

Akhirnya, kami beranjak pulang dengan perasaan bahagia di dada masing-masing.

Sambil jalan Rafi bilang, "Bunda, besok-besok aku jual donat lagi yaa!"

Ah, mission accomplished.:-)

Kategori Terkait


Tag Terkait

28 Komentar
melvonly April 20, 2012 2:28 pm

wah hebat bangett....thumbs up..aku ampe berkaca"..haha..moga" bs mendidik anak supaya mandiri n ga jd anak manja

Honey Josep
Honey Josep April 18, 2012 1:33 pm

a great way to teach personal finances to kids!!!

*thumbs up*

lya
lya April 15, 2012 11:52 am

ikut terinspirasi...,ternyata mengajarkn tidak mudah mendapatkan uang bukan hanya dri anak usia remaja, bisa diajarkan sejak kecil..salut :)

yang lebih penting adalah mengajarkan menjadi sosok yang memilii mental tangguh,pantangmenyerah, dan berani...,like this bngett.., thx mom sharenya :)

Ruliyani
Ruliyani April 13, 2012 5:36 am

Waaah asiiiikkk akhirnya ada contohnya!! Tfs yaaa bunda Syafirah juga kakak Rafi :)
Semenjak aku punya Lian (1y6m), kepikiraaaan buat nanti ga apa-apa langsung meng-iya-kan keinginan Lian, aku pengeeen banget Lian punya jiwa pengusaha.. Tapi masih binguuung gimana cara ngajarin Lian berjualan barang/jasa nantinya hehe.. Duuuh senangnyaaa baca artikel ini ^^
Sekali lagi tfs yaaaa bundaaaa Syafirah juga kakak Rafi.. Ehh ayah Rafi juga yaa yang udah kyereeen ambil foto2nya ;)

ruri lukitaningrum April 12, 2012 10:15 pm

salam kenal buat ayah&bunda rafi.. spt kebnykan bunda yg udh komen disini saya jg sungguh terharu.. ayah&bunda adlh org2 yg layak menjadi teladan, mrt sy gak bnyk org tua yg gak gengsian & mau berepot2 spt ini, aplg sy yakin rafi bkn dari kel yg krg beruntung, sungguh salut. insya Allah kelak rafi akan menjd mns yg tangguh & mulia :).