Rumah Impian Vs Rumah Sesuai Kebutuhan

Oleh Ike Hamdan pada Jumat, 29 Maret 2019
Seputar Expert Explains
Rumah Impian Vs Rumah Sesuai Kebutuhan

Home is where the heart is. Ungkapan ini digunakan orang untuk menggambarkan kondisi rumah yang ideal. Namun rumah ideal tidak melulu soal ukuran ataupun kemewahan. Ungkapan ini lebih merujuk pada sebuah rumah yang mampu memberikan kenyamanan dan memenuhi kebutuhan penghuninya.

Meski bentuknya kokoh dan besar, rumah sejatinya merupakan kebutuhan yang dinamis. Artinya, rumah yang kita miliki saat ini, yang kita rasa sudah bisa memenuhi kebutuhan dan kenyamanan Urban Mama saat ini, mungkin saja tidak lagi terasa nyaman dan cukup di kemudian hari. Mungkin saja suatu hari nanti Urban Mama memang benar-benar perlu pindah ke rumah baru.

(Gambar: www.pexels.com)

Beberapa waktu lalu, Rumah.com dan The Urban Mama melakukan survei melalui Instagram. Hasilnya, sebanyak 54% responden Urban Mama telah memiliki rumah sendiri (bukan mengontrak atau tinggal di rumah orang tua/mertua). Namun sekitar 35% responden ternyata merasa tidak puas dengan hunian yang ditinggali saat ini dan mengaku ingin pindah ke hunian yang lebih baik.

Keinginan untuk pindah bukanlah hal yang tabu, bukan pula sikap yang tidak bersyukur. Seseorang, apalagi sebuah keluarga, punya alasan yang masuk akal untuk merasa tidak nyaman lagi dan ingin pindah ke rumah baru. Alasan itu muncul seiring berjalannya waktu.

Anggota keluarga yang bertambah menuntut ruang yang lebih besar di rumah. Kehadiran anggota baru juga menuntut kebutuhan baru, seperti sekolah anak, yang sebelumnya tidak dibutuhkan oleh pasangan yang baru menikah. Jika rumah yang Urban Mama miliki saat ini tidak dapat memenuhi kebutuhan yang berkembang, pindah rumah bisa menjadi solusi.

Sebelumnya sudah pernah dibahas bahwa menunda beli rumah adalah keputusan yang salah. Kenaikan harga properti yang pesat tidak sejalan dengan kenaikan bunga tabungan ataupun rata-rata kenaikan gaji. Lebih baik beli rumah yang belum ideal, tetapi mencukupi kebutuhan saat ini. Baru nanti saat punya rezeki dan kebutuhan sudah berkembang, saatnya pindah ke rumah yang lebih baik lagi.

Meski demikian, di setiap fase apapun Urban Mama membeli rumah, entah itu rumah pertama ataupun rumah upgrade, pertimbangan antara emosional dan rasional harus tetap seimbang untuk memenuhi kebutuhan yang sudah berkembang. Berikut ini pengalaman dari Rumah.com yang dapat dibagikan kepada semua Urban Mama dalam pertimbangan membeli rumah:

Pertimbangan emosional
Pertimbangan emosional adalah pertimbangan-pertimbangan seputar aspek estetika dan kenyamanan di rumah Urban Mama kelak. Percuma jika Urban Mama-Papa punya rumah tetapi tidak merasa nyaman dan senang tinggal di dalamnya.

Bicarakan dari hati ke hati, satukan tujuan Anda dan pasangan. Selami masa kecil masing-masing: adakah bagian dari memori masa kecil yang ingin dibawa ke rumah idaman? Dalam pengalaman saya dan suami saya, misalnya, menempatkan keberadaan teras depan rumah sebagai hal yang harus ada. Menurut suami, teras rumah adalah tempat yang paling enak untuk ngobrol. Semasa kecil, ia sangat menikmati kenangannya berdiskusi kecil dengan ibunya di teras depan rumah. Saya? Teras depan nggak masalah, tetapi bathtub dan balkon adalah ruang yang tak bisa ditawar. Guess what? That’s my childhood home!

Hal-hal semacam ini tetap harus menjadi pertimbangan, meski tetap harus dikompromikan dengan pertimbangan rasional.

Pertimbangan rasional
Pertimbangan rasional berkutat pada bagaimana rumah membuat aktivitas dan mobilitas Urban Mama menjadi semakin efektif dan efisien. Pertimbangan yang paling utama tentu saja harga rumah. Apakah penghasilan Urban Mama dan pasangan cukup untuk memenuhi cicilan rumah, kebutuhan sehari-hari, dan cicilan lainnya? Ingat, total cicilan yang yang sehat adalah 30% dari penghasilan Urban Mama dan pasangan. Anda bisa mengetahui perkiraan besar cicilan rumah incaran dengan menggunakan Kalkulator KPR Rumah.com.

Kemudian bagaimana rumah memengaruhi aktivitas dan mobilitas harian. Misalnya, seberapa jauh jarak rumah dari tempat kerja. Kalau pun jauh, apakah ada transportasi umum yang dapat mempermudah mobilitas pulang-pergi ke kantor? Apakah biaya transportasi umum ini cukup rasional? Bagaimana jika biaya transportasi umum ini digunakan untuk membeli rumah dengan harga yang lebih mahal namun lebih dekat dengan tempat kerja?

Pertimbangkan pula mana yang lebih penting: dekat sekolah unggulan atau dekat rumah sakit dengan dokter gizi yang bagus atau punya area hijau yang berkualitas? Kebutuhan setiap keluarga dan anggotanya sangat unik. Gali lebih dalam dari sekedar wishlist. Contoh: teman saya yang memiliki anak dengan alergi kompleks membuatnya menempatkan bahwa keberadaan rumah sakit dengan dokter khusus penyakit dalam yang terpercaya menjadi prioritas.

Selain itu, mana gaya hidup yang siap Anda dan pasangan korbankan? Hidup itu pilihan. Sometimes we just need to take the pill to be healthy. That’s what being adult is all about, right?

Pertimbangan rasional lainnya adalah harga jual kembali rumah incaran saat ini. Saat Urban Mama memutuskan pindah ke rumah baru, ada dua pilihan yang dapat dilakukan terhadap rumah yang ditinggali saat ini: disewakan atau dijual. Kedua prospek inilah yang harus dipertimbangkan juga. Urban Mama bisa mendapatkan insight seputar prospek harga properti di Rumah.com Property Index.

Pertimbangan rasional lain adalah membeli rumah ‘seken’ atau rumah baru. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Rumah 'seken' tentu saja siap huni dan lokasi sekitarnya sudah punya fasilitas umum yang lengkap. Sementara rumah baru kebanyakan dipasarkan dengan sistem inden dan berada di lokasi yang masih baru berkembang. Pertimbangan lebih lengkap simak di Panduan Rumah.com.

Langkah tepat membeli rumah
Bagi mereka yang sudah berkeluarga atau memiliki pasangan, keputusan membeli rumah jelas tidak mungkin diambil seorang diri. Membeli rumah adalah tanggung jawab bersama sehingga saling terbuka antarpasangan menjadi hal yang wajib. Jadi, sebelum memutuskan membeli rumah, lakukan hal-hal berikut:

  • Terbuka soal kemampuan finansial
    Ketika menyadari bahwa pembelian rumah harus menggunakan sumber pendanaan dari luar keuangan keluarga, pastikan Anda dan pasangan harus sepakat menempuh skema yang akan diambil. Semua skema punya plus-minus, baik itu pembiayaan lewat personal, lewat bank konvensional, atau lewat metode syariah. Ukur kemampuan dengan kalkulator keterjangkauan. Yang terpenting, sepakati dari awal agar tak jadi perkara kemudian.
  • Buat daftar pilihan
    Setelah mengambil kesimpulan dari pertimbangan emosional dan rasional, Urban Mama sudah bisa mulai berburu rumah. Jangan langsung puas hanya karena menemukan satu rumah incaran yang sesuai dengan kriteria. Cari dua atau tiga alternatif dan bandingkan di antara semuanya, temukan yang paling pas di hati.
  • Pastikan legalitas rumah incaran
    Periksa kembali kelengkapan surat dan izin. Pelajari dan penuhi semua syarat yang diperlukan. Jangan ragu untuk bertanya, membuat salinan, dan meminta tanda terima atas semua dokumen yang Anda kumpulkan.
  • Kumpulkan syarat-syarat yang diperlukan
    Buat daftar persyaratan yang diperlukan untuk membeli rumah, mulai dari identitas diri hingga persyaratan bank. Lihat daftar syarat membeli rumah melalui KPR di sini. Kalau Urban Mama sudah memenuhi kelengkapannya terlebih dulu, membeli rumah tidak se-ribet yang dibayangkan.
  • Persiapkan biaya-biaya lain
    Pahami biaya-biaya seputar transaksi akad pembelian. Hitung dengan jelas, lalu persiapkan dananya. Ingat, Anda tidak sendirian. Boleh minta bantuan pihak yang mengerti, seperti notaris atau agen properti yang terpercaya.

Rumah yang Anda beli sekarang mungkin bukan untuk selamanya, tapi pastikan dapat menjadi pijakan yang berharga untuk melangkah lagi ke depan.

Ike Hamdan
Ike Hamdan

Praktisi pemasaran dengan pengalaman di industri perbankan, media, dan teknologi. Sangat antusias berbagi pengetahuan untuk membangun relasi yang sehat dengan uang. Pemegang Certified Professional Marketer dari Asia Marketing Federation dengan pendidikan formal terakhir S2 dalam bidang Strategic Finance dari Universitas Paramadina.

12 Komentar
atiqoh April 14, 2019 3:58 pm

Artikelnya lengkap banget mbak Ike, terima kasih banyak!

Mobilitas menjadi point utama bagi saya dan suami dalam memilih rumah, istilah tua di jalan itu emang bener2 terjadi lho. Makanya saya dan suami sedang menabung untuk nyari property agar tidak tua di jalan. Nilai investasi dan kualitas hidup menjadi sangat penting bagi kami sekeluarga.

Hannah Magnolia
Hannah Magnolia April 9, 2019 1:47 pm

bener banget mba. contoh bude-ku. nunda beli rumah dan ngga kekejar kejar karena harganya naik terus. mendingan kalo udah ada, beli yang kita mampu dulu. kalo mau upgrade, bisa dilakukan nanti.

KatrinLarissa KatrinLarissa
KatrinLarissa KatrinLarissa April 4, 2019 7:19 am

Baca artikel ini langsung discuss sama suami. Makasih mba Ike. Eye opener sekali artikelnya <3

Ike Hamdan April 9, 2019 1:42 pm

Sama-sama, Mbak Katrin. Senang mendengarnya bahwa sharing ini bermanfaat. Semoga lancar diskusinya bersama suami.

Angie Renata
Angie Renata April 2, 2019 3:56 pm

artikel mba ike lengkap banget deh! persis seperti beberapa hal yang aku pikirkan saat memiliki hunian. jadi seru nih liat-liat dan baca-baca artikel lain di rumah.com

Ike Hamdan April 9, 2019 1:43 pm

Thanks, Mbak Angie. Ada banyak tips lain di Rumah.com/panduan yang siap untuk disimak. Silakan.

Tyara Maryam
Tyara Maryam April 1, 2019 8:44 am

kalau rumah impian pasti ada tapi kayaknya ga kekejar-kejar jadi aku dan suami menjadikan rumah yang kami tempati ini menjadi rumah impian. sedikit-sedikit direnov. suka banget sama artikel mba ike dan TUM sering nih bahas rumah. aku senang bacanya! sangat informatif.

Ike Hamdan April 9, 2019 1:44 pm

Syukurlah, Mbak Tyara. Memang punya impian itu perlu, berpijak pada kenyataan pun juga penting. Semangat mewujudkan impian, Mbak!