Theurbanmama

Stress Management for Kids

Senin, 19 Februari 2018

Anak zaman now itu katanya dekat dengan stres. Penyebabnya beragam, jadwal sekolah dan kegiatan yang padat, tingginya ekspektasi akademis, dan juga pengaruh media sosial. Sungguh sesuatu yang lumrah. Namun, setelah kondisi itu dirasakan oleh anak sulung saya, perhatian saya langsung beralih.

Ternyata setelah banyak membaca literatur dan juga mengikuti workshop saya belajar bahwa stress is actually a normal part of life. Hidup itu pasti naik turun, punya masalah, ada ketegangan, ada kecemasan, ada sedih, dan takut. Jadi being stress free juga sebenarnya bukan hal yang wajar tetapi yang tepat adalah belajar mengendalikan stres yang dialami.

Stres sendiri ada dua macam yaitu eustres dan distres. Eustres adalah stres yang masih dalam batas normal sedangkan distres adalah jenis stres yang sampai mengganggu keseharian kita. Nah, kita perlu eustres ini dalam kehidupan loh karena dengan ini kita terpacu untuk waspada, lebih maju, atau berusaha lebih keras. Bayangkan kalau hidup tanpa stres, ya datar saja begitu.

Anak dengan tipe perfeksionis atau pencemas akan lebih mudah mengalami stres karena semua dipikirkan. Dia juga cenderung khawatir akan masa depan, memiliki banyak pikiran buruk tentang kegagalan, atau tidak fleksibel. Penyebab bawaan ini dapat diperparah jika anak memiliki orang tua yang perfeksionis juga, penuntut, atau lingkungan yang serba sempurna.  

Anak seperti ini perlu penanganan dan penguatan khusus terutama dari orang tua karena mungkin cemasnya belum sampai tahap yang perlu ke psikolog atau psikiater tetapi jika tidak dikendalikan maka sangat mungkin mengganggu dalam kesehariannya.

Balik lagi ke cerita anak sulung saya. Dia adalah tampilan yang cukup khas untuk anak perfeksionis yang kadang menderita dengan 1001 kecemasannya. Ada beberapa teknik yang saya ajari dan dapat dipraktikkan untuk mengurangi kecemasan:

  1. Teknik pernapasan
    Ajak anak latihan pernapasan saat merasa takut atau cemas. Tarik napas perlahan selama 3 detik lalu hembuskan dalam 5 detik. Ulangi beberapa kali.
  1. Teknik relaksasi
    Cari kegiatan yang membuat anak merasa santai. Bisa dengan bermain musik, olahraga, atau menggambar. Anak saya memilih coloring book for adults dan berenang di weekend yang kosong.
  1. Teknik CBT
    CBT adalah kependekan dari Cognitive Based Therapy. Jadi intinya, anak itu kan punya sejumlah pemikiran cemas dan stres di otaknya. Kadang ga mungkin banget deh pemikirannya atau malah lebay tapi untuk si anak itu rasanya mungkin-mungkin aja. Nah, sebagai orang tua perlu terus mengolah pemikiran anak agar lebih realistis. Ajukan pertanyaan atau ceritakan berbagai kisah agar anak lebih terbuka wawasannya dan dapat mengubah pola pikirnya secara bertahap.

Saya sendiri introspeksi kembali apakah saya telah menjadi orang tua yang penuntut? Rasanya sih tidak, tetapi sebagai upaya pribadi saya melakukan beberapa hal di bawah ini:

Katanya kita sering memberi nasihat seperti: Just do your best! Kamu pasti bisa. Kamu anak pintar kok, Mama bangga! Dan masih banyak jenis lainnya. Namun, saat anak pulang bawa hasil ulangan atau setelah lomba, Mama yang tadinya semangat jadi pemarah. Kok cuma 90? Yang dapat 100 tadi siapa di kelas kamu? Kamu salah yang mana saja soalnya? Kamu pasti lupa belajar bagian yang itu, dan sebagainya. Anak jadi bingung dan dia tetap merasakan tekanan dari orang tua walau kita bicara baik-baik dan terkesan tidak memberi target.

 

Semangat menemani anak-anak kita mengendalikan stres ya, moms. Jangan lupa untuk selalu menimba ilmu dengan banyak membaca artikel tentang anak dan remaja yang banyak tersedia di dunia maya.

Fiona Esmeralda Health blogger. Penerjemah. Penulis buku "Puberty, What Doctors Want Parents to Know". Penggiat sesi kesehatan untuk anak dan remaja. Ibu tiga putri.

Ikuti: Instagram dan Twitter
Related Tags : ,,,
Apa Reaksi Anda ?
7 Comments
Post a Comment
You must be in to post a comment.