Working Mom

Oleh dieta hadi pada Jumat, 24 September 2010
Seputar Our Stories

Terkadang ingin rasanya saya berhenti bekerja, mengurus sendirian Mika di rumah, mengurus sendirian segala sesuatu kebutuhan Mika dan suami, tetapi entah kenapa yang saya tetap saya pilih adalah bekerja. Bukan egois atau memaksakan diri untuk bekerja, lalu meninggalkan anak dan menyerahkan anak ke pada ART selama saya bekerja tetapi karena memang ini adalah pilihan saya dan kesempatan saya untuk mengetahui dunia lain selain rumah yang nantinya bisa saya bagi bersama Mika ketika Mika besar nanti, setidaknya ini menurut alam pikiran saya.


Selain itu, saya adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), yang memang perjuangan untuk menjadi seorang PNS itu sulit, banyak sekali orang yang berlomba-lomba dan berharap bisa menjadi PNS, dan Alhamdulillah saya dapat melaluinya dengan mudah, mengikuti tes dengan mudah dan akhirnya diterima dengan mudah, sekali lagi Puji Syukur kepada Sang Satu. Tuhan memberikan kemudahan itu semua bagi saya. Saya mulai berfikir, jika saya keluar, komitmen saya sebagai abdi negara yang berusaha mencoba untuk memberikan kontribusi dan pemikiran baru kepada lembaga akan hilang, walaupun sampai saat ini pemikiran-pemikiran tersebut mentok di birokrasi (yang ini hanya curhatan). Selain itu, saya berfikir saya sudah aman disini, sudah aman menjadi PNS, yang kelak saya akan tetap di gaji sampai kelak saya meninggal.


Saya terus befikir dan berfikir, yakin apa saya ingin berhenti bekerja? Kalau saya berhenti bekerja, saya tidak mempunyai penghasilan, bisa saja sih saya usaha jualan, tapi untuk yang ini saya memang tidak berbakat jualan. Kalo saya tidak mempunya penghasilan, saya tidak bisa membelikan mainan, baju buat Mika dan tidak bisa menambah penghasilan dari suami. Walaupun penghasilan suami lebih besar dari saya, tetapi kebutuhan hidup kami juga besar. Dengan saya mempunyai penghasilan, saya bisa membelikan kebutuhan Mika dari keringet saya sendiri tanpa harus minta pada suami. Rasanya berbeda, ketika membelikan mainan atau baju untuk Mika dari uang saya sendiri dibanding dari uang suami, kepuasan tersendiri yang tidak bisa diungkapkan denga kata-kata dan tidak  takut suami marah kalo saya menghabiskan uang untuk membeli mainan atau apapun untuk Mika.


Saya pun berfikir, menjadi seorang ibu yang bekerja memiliki tantangan sendiri yang berbeda, yaitu:



  1. Tetap harus bekerja, dan memikirkan pekerjaan. Alhamdulillah saya tidak berangkat terlalu pagi dan tidak pulang terlalu malam. masih punya waktu yg cukup lumayan dengan keluarga.

  2. Tetap harus mengurus rumah. Walaupun punya ART, tetapi tetap saja ART harus diajarkan dan diberi tahu.

  3. Tetap harus ngurus suami.

  4. Masak. Masak buat Mika dan Masak buat saya, suami dan ART. Untuk urusan masak, saya tidak menyerahkannya ke ART.

  5. Mengurus Mika. Ketika pulang kerja, my time is for Mika. ART sudah tidak boleh megang Mika. Waktunya bersama Mika sampai Mika tidur dan bangun lagi. begitu juga weekend, Mika hanya dipegang sama saya, karena saya tidak ingin Mika tidak kenal ibunya.


Tantangan itu tetap harus saya jalanin entah sampai kapan. Mungkin sampai saya berubah fikiran dan menjadi ibu rumah tangga biasa yang tak kalah mulianya atau sampai saya sudah tidak mampu lagi.


Tetapi yang jelas dan pasti, saya tidak pernah menyesal menjadi seorang istri, seorang ibu dari Mika, dan menjadi seorang PNS . Ini adalah pilihan hidup saya, dan saya sangat tahu suami saya begitu mendukung apa yang saya pilih dan saya berharap Mika nantinya juga akan mengerti dengan pilihan saya saat ini.


Ya, Saya adalah seorang ibu yang bekerja dan saya adalah seorang ibu dari Mikail Shira Aydin Hadi. Apapun yang saya lakukan dan kerjakan, pasti untuk kebaikan Mika dan keluarga saya.

Kategori Terkait


Tag Terkait

46 Komentar
anggita andrian
anggita andrian October 13, 2010 5:14 pm

tosss sesama working mom, sesama PNS juga :)
kadang berat apalagi saya sering juga dinas luar kota meninggalkan darin, tapi dijalanin aja ya..
we can do it. Yaaay!

farahikha October 6, 2010 2:36 pm

stlh baca2 cerita mb Wina & mami2 yg laen, jd pengen segera punya momongan.cerite temen2 dikantor sy katanya...klo dah sampai rumah, trus melihat baby nya...langsung capek2 pd ilang.
oiya, buat mami2 yg pengen full ngerawat baby nya. dan tetep dpet pengasilan, ad alternatif lain selain kerja kantoran. Dikerjakan di rumah jg bisa, waktu fleksibel. Info detail silahkan kunjungi di http://UsahaBunda.Net

Astari Kurniaputri
Astari Kurniaputri October 6, 2010 9:10 am

Mbak Hanif, Naya di sekolahin aja.. Rere (3th) juga gak ada yg jagain, karena susahnya minta ampun cari babysitter yang telaten ngasih makan anak yg susah makan..
Sebelum lebaran Rere cuma sekolah 3x seminggu 8.30am-11am. Kalo pas nyantai2 sepulang kantor, saya sering tanya "Rere happy gak sekolah?" "happy ma"
Akhirnya saya putuskan untuk menyekolahkan Rere tiap hari (mon-fri) 8.30am-13.30

Rutininas pagi: mompa ASI utk Rara, masak sarapan Rere, prepare kebutuhan utk di sekolah, trus ngantor (yg nyuapin, mandiin, nganter ke sekolah papanya)
Siang: jemput sekolah, prepare Rere untuk nap (bareng eyangnya) abis itu mompa lagi
Sore: pulang kantoooor, yipppiiiieee

Alhamdulillah sekarang dapet penempatan di homebase (PNS yg terancam mutasi, hiks)
Doakan ya moms moga2 saya gak dimutasikan ke luar kota.. *sempat kepisah ama keluarga for almost a year*

Hanif Hafsari
Hanif Hafsari September 30, 2010 3:52 pm

Hu hu hu... Hiks hiks hiks... Hwaa.. Hwaaaaa waaa waaa...
(nangis bombay deh baca tulisan dan komentar2nya)
Aku dan suami sekarang lg dalam tahap "mengoleksi" positif dan negatifnya kalo aku tetep jd WM atau aku jd WAHM/FTM. Mau berhenti kerja ko ya banyak aja pertimbangannya, tp kalo tetep kerja ko rasanya kyk menelantarkan anak.. :(
Pertengahan November nanti Naya-ku ga ada yg jagain (kalo skrg diasuh kakeknya yg lg cuti), nyari pengasuh belum dapet aja. Bingung setengah mati deh pokonya...

Doakan ya moms, semoga Allah memberi jalan yg terbaik untuk keluarga kecilku.. Amiin

Widia Jessti
Widia Jessti September 30, 2010 12:53 pm

*pelukpelukmbaWina*

sama persis dengan yang saya alami, sampai sekarang dengan berbagai pertimbangan saya dan suami, saya tetap menjadi WM. Dan ternyata memang harus banyak belajar, harus bisa ngatur waktu sekaligus ngatur ini itu, termasuk yang kelihatannya sepele, yaitu ngatur menu untuk suami dan raza yg masih 9 bulan.

biasanya di kantor pun saya masih sering telpon2 ke rumah, untuk mastiin raza ditangani dengan baik, untungnya suami saya sering working from home, jadi saya bisa bagi tugas dengan dia untuk jaga raza. Iri banged ama suami yang bisa working from home..

paling sedih kalo raza sakit, tapi kerjaan kantor ga bisa dipending, jadinya saya kepikiran mulu kalo dikantor. well, setiap pilihan pasti ada enak dan ga nya, enaknya jadi WM, kita bisa beliin anak mainan, baju, kasi hadiah buat suami, dll.. :)

So, semangat ya mba Wina, dan semua working moms.. kita pasti bisa! :)