Sore itu seperti biasanya Nat(26 bulan) duduk di pangkuan saya di depan komputer. Dengan girang dia mengayunkan badannya ke kanan dan ke kiri, dengan suara tawa yang riang dan lepas. Tapi hari itu berbeda.
Jadwal diklat prajabatan selama 3 minggu di Jatinangor saya jadikan momentum untuk menyapih Farand. Toh usianya saat itu sudah 2 tahun 2 bulan. Sudah tiba saatnya untuk disapih.
Anak-anak diajari untuk selalu ingat bahwa ketika mereka berada di jalan raya, mereka harus melakukan tiga hal: Stop, Look & Listen. Dan yang paling ditekankan ke anak-anak adalah: When you're on the road, BE SEEN!!!
Oleh karena itu, baik saya maupun suami sama-sama menyepakati kalau hari libur adalah hari untuk keluarga. Sebagian besar waktu senggang kami habiskan di rumah.
Semua berjalan lancar sesuai dengan rencana sampai akhirnya tiba waktu pulang kembali ke Jakarta. Semua ASIP yang sudah beku saya masukan ke dalam bagasi karena berat kalau saya bawa ke cabin.
"Kunci kesuksesan anak Anda? Matematika dan bahasa Inggris!" Begitu isi tulisan sebuah spanduk yang terpampang lebar-lebar yang dipasang di sebuah jembatan penyeberangan.
Selama berada di luar kantor itulah, saya mengalami beberapa kejadian yang membuat saya sadar kalau di luar sana, sudah makin banyak orang yang sadar tentang ASI dan kewajiban ibu memberikan ASI untuk anaknya.
Boleh dipercaya atau tidak, pemberian ASI tidak hanya mendekatkan hubungan Ibu dan Anak, tetapi juga Ayah dan Ibu. Karena sekali lagi proses keberhasilan pemberian ASI bukan hanya dari ibu seorang, tetapi juga karena peran serta Ayah.