Berdamai dengan Microtia

Oleh nurlyah pada Senin, 30 September 2019
Seputar Our Stories
Berdamai dengan Microtia

“Dok, telinganya satu tidak ada.”

Melongo, tidak tahu harus berkata apa begitu mendengar kata-kata mertua. Rasanya ingin lari memeluk suami, tapi apa daya, dokter juga sedang sibuk mengeluarkan plasenta bayi yang masih tertinggal di rahim saya. Dokter juga kaget. Terlebih suami, begitu tahu, ia langsung menangis. Mungkin memikirkan nasib anak perempuannya kelak.

[caption id="" align="alignnone" width="620" caption="Neysa saat berumur 2 bulan"][/caption]

Kehamilan kedua saya ini memang tidak direncanakan. Bukan tidak direncanakan sih, melainkan terlalu percaya diri untuk tidak menggunakan alat kontrasepsi apa pun. Padahal anak pertama saya masih berusia 7 bulan saat hamil anak kedua. Begitu tahu hamil lagi, saya juga biasa saja. Hanya agak khawatir tentang ASI anak pertama saya. Alhamdulillah, ternyata menyusui saat hamil diperbolehkan selama tidak mengganggu keadaan ibu dan janin.

Kehamilan kedua ini pun saya santai, kontrol ke dokter kandungan juga hanya empat kali saja. Tidak seperti saat kehamilan pertama, setiap bulan rajin kontrol. Saya baru kontrol pertama saat usia kehamilan kurang lebih 5 bulan dan dokter menyatakan kehamilan saya baik-baik saja serta tidak perlu imunisasi lagi karena jarak kehamilan yang berdekatan. Saat kontrol kedua pun dokter mengatakan janin saya baik-baik saja. Kontrol berikutnya saat usia kehamilan saya hampir memasuki usia 9 bulan, saat itulah dokter menyatakan bahwa saya mengalami polihidramnion atau kelebihan air ketuban. Dokter langsung mengecek kondisi janin saya, karena salah satu akibat dari kelebihan air ketuban adalah risiko cacat janin. Namun saat pemeriksaan tersebut, tampaknya kondisi janin saya baik-baik saja. Entah kenapa, perasaan saya saat itu sudah terbayang bahwa anak saya mungkin tidak memiliki telinga. Dan ternyata memang benar. Anak saya mengalami microtia grade 3 sebelah kanan dengan asimetris wajah. Sekilas tentang microtia dapat dilihat di sini.

Setelah melahirkan, mulailah saya mencari tahu tentang microtia ini. Namun  informasi yang saya dapat sangat sedikit. Yang ada di pikiran kami saat itu hanyalan ingin mengetahui apakah lubang telinga dalam anak saya ada atau tidak, sehingga saya dan suami memutuskan ke Makassar untuk melakukan CT-Scan karena rumah sakit di daerah saya saat itu belum memiliki alat itu. Saat itu kami juga belum mengetahui tentang tes BERA. Mungkin karena dari awal kami konsultasinya ke dokter anak, bukan ke dokter THT. Alhamdulillah hasil CT-Scannya baik. Namun kami tetap saja was-was dengan pendengarannya kelak.

Seiring berjalannya waktu, Neysa, gadis microtia kami tumbuh seperti anak normal lainnya dengan kemampuan mendengar yang kami anggap “normal” sehingga kami tidak terlalu khawatir lagi. Beruntungnya lagi, ternyata kami tidak sendiri. Setelah bergabung dengan grup microtia, kami jadi senang karena bisa mendapat informasi mengenai microtia, termasuk tentang operasi rekonstruksi telinga yang ternyata sudah bisa dilakukan di beberapa rumah sakit besar di Indonesia. Namun saat ini kami hanya mempersiapkan diri untuk memberikan jawaban yang baik jika kelak Neysa bertanya mengenai kondisi telinganya yang berbeda dan mempersiapkan mentalnya agar percaya diri dengan apa yang dimilikinya serta selalu bersyukur dengan kondisinya. Tentu saja, mental kami sebagai orangtualah yang harus lebih percaya diri dalam menghadapi gunjingan orang lain. Mengenai operasi rekonstruksi telinga, kami pun tidak akan memaksakan kehendak agar ia menjadi “sempurna”. Biarlah anak kami yang menentukannya nanti.

Untuk para orangtua yang anaknya mengalami microtia, jangan malu dengan kondisi anak kita. Allah tidak akan pernah salah dalam menciptakan makhlukNya.

15 Komentar
Amel Magda June 29, 2020 2:58 pm

Salam kenal Bund Nurlyah, tetap semangat yaah :). Saya punya adik perempuan saat ini sudah dewasa dengan anotia kanan dari lahir disertai bibir dumbing. Operasi bibir sumbingnya sudah berjalan tapi utk anotianya (daun tlinga sama skali tdk terbentuk), smentara memakai abd yang pakai vibrasi tulang mastoid. Adik sy tergabung di keluarga mikrotia Indonesia. Jangan menyerah ya Bun, saya tanamkan ke diri adik saya bahwa setiap orang dilahirkan berbeda, dimana ada kekurangan, disitu ada klebihan Dan kekuatan yang sudah Tuhan siapkan. Ada maksud dan tujuan dari Yang Kuasa kalau untuk stiap anak yang dilahirkan berbeda. Semangaaat Bund :). Suatu anugerah bisa dikarunai Nesta, cantik Bun.. Salut buat ortu yang luar biasa sperti bunda dan ayah :)

sri rusnawati
sri rusnawati April 13, 2020 1:56 pm

Bunda anak saya juga terlahir dengan microtia grade3. sampai sekarang saya masih merasa sedih dengan keadaan anak saya meskipun saya mencoba untuk menerima kenyataannya. saya sangat membutuhkan support agar bisa berdamai dengan keadaan ini. Bunda menyebutkan ada komunitas microtia, apakah saya boleh tau nama komunitasnya dan bagaimana cara bergabung dalam komunitas tersebut? mohon dijawab bunda. terimakasih

Sundaarie December 23, 2019 8:53 am

Assalamualaikum bunda, anugerah yg luar biasa...karna anak saya yg kedua juga mengalami microtia... insyaallah kami selalu support tumbuh kembang anak kami...malahan anak saya kedua telinganya Bun....
Mau tanya pas melakukan operasi pada umur berapa ya Bun?

nurlyah December 24, 2019 6:21 pm

Semangat ya bunda.. Operasi setau saya di bisa mulai usia 9 tahun.. Silahkan konsul ke dokter ya bunda..semangaaat..

winda veranika October 9, 2019 11:23 am

Ma Syaa Allah Neysa cantik...
sehat-sehat terus ya na...
salam sayang buat Neysa

Agus “Boni” Ariyanto August 12, 2018 7:47 pm

Operasi yg baik dimana ya...

nurlyah November 14, 2018 3:05 pm

bisa di RSCM, RSHS, RS Dr Sutomo surabaya.. insyaa Allah di cover sama BPJS

 

Anda harus Log In untuk memberikan komentar terhadap artikel ini.

Silakan Login di Sini