Theurbanmama

Gembira dan Ceria Mengenalkan Kegiatan Renang kepada Anak

Kalau dipikir-pikir, Wafa sudah ikut berenang semenjak dalam kandungan. Kok bisa?

Bayi dalam kandungan sejatinya memang 'mengapung' dalam cairan ketuban. Selain itu selama hamil, setiap minggu saya pasti berenang. Bukan berenang main air, tetapi berenang untuk olahraga dan kadang saya pakai bantuan flotador (sejenis pelampung untuk membantu ibu hamil). Bahkan waktu sepuluh jam sebelum Wafa lahir, saat itu saya berencana akan berangkat berenang bersama kakak di sore hari. Rencana tersebut batal karena ternyata kontraksi melahirkannya sudah datang.

Sempat saya bercita-cita ingin menjadi atlet renang, tetapi terlambat karena keterbatasan usia dan dana. Sempat mengajar dan melatih renang selama kurang lebih 5 bulan, lalu berhenti karena menikah. Keadaan di atas memotivasi saya agar Waf juga turut mencintai olahraga sunnah ini.

Waktu Waf berusia enam bulan, saya belikan kolam renang plastik dengan kedalaman 90 cm.  Setiap Sabtu, saya renangkan dia kolam tersebut maksimal 15 menit. Sesekali saya ajak dia ke babyspa dekat rumah agar berganti suasana. Saat itu Waf berenang masih menggunakan pelampung leher untuk bayi. Saya berpikir bahwa anak harus akrab dengan air agar kelak lebih mudah mengajarkannya berenang.

Berenang

Berenang

Beranjak usia setahun, Waf saya ajak ke kolam besar Tirtomoyo Manahan, masih dengan pelampung lehernya. Ia nampak sangat menikmati bermain air, menggerakkan kakinya sebisa mungkin agar dapat mencapai tangan saya. Dengan riang gembira ia lambaikan tangan ke neneknya yang sedang duduk di tribun penonton. Sesekali saya lepas pelampung lehernya lalu saya masukkan seluruh tubuhnya ke dalam air. Ini bukan penyiksaan, ini adalah latihan. Setahu saya seorang anak tetap akan refleks meniup saat di dalam air. Dan apa yang terjadi? Ia tersedak karena meminum air kolam. Itu hal yang sangat biasa. Dengan sabar, saya katakan terus-menerus bahwa kamu bisa, bisa, dan pasti bisa.

Menjelang usia dua tahun, saya belikan Waf baju renang. Sudah saatnya ia menggunakan baju renang. Badannya yang tinggi sudah harus ditutupi. Saya rasa karena genetik dari simbah putri dan didukung renang, setiap bulan tinggi Waf meningkat dari 0,5 cm hingga 1 cm. Sesekali ia berenang masih dengan pelampung leher. Saya dan bapaknya lebih fokus pada latihan pernapasan: bagaimana agar Waf bisa meniup di dalam air dan refleks meniup saat air datang menghampiri mulutnya karena riak-riak kecil.

Nyatanya memang harus telaten, kontinyu dan sangat istiqomah untuk mengajak anak latihan berenang seminggu sekali. Saat Waf berusia 2,5 tahun, bapaknya berinisiatif membelikan kacamata renang. Bukan kacamata renang murahan tetapi keluaran merk alat olahraga, merk standar untuk latihan yang karet kepala dan hidung adjustable, agar Waf dapat menggunakannya sendiri dengan nyaman.

Apakah jadwal renangnya tak pernah bolong? Pernah dong. Saat bulan Ramadan dan saat dia masuk angin atau kelihatan kurang fit, pasti kami tunda latihan renangnya.

Di luar dugaan, latihan 2,5 tahun tersebut tidak sia-sia. Kini Waf sudah bisa menggerakkan kaki dengan gaya katak. Ia bisa kesana kemari dengan bantuan flotador yang diikat tanpa berpegangan pada kami, tidak ada rasa khawatir pun terlintas di wajahnya. Bahkan wajah takut atau jera minum air kolam pun tidak ada. Ia sudah bisa refleks meniup jika riak air datang menghampirinya. Alhamdulillah. Sebagai catatan, Waf (3 tahun) sangat jarang bermain di kolam anak. Ia selalu kami ajak di kolam pemula (1.25m) atau kolam besar (1.7 m).

Berenang

Berikut beberapa tips yang harus Urban Mama dan Papa perhatikan sebelum, saat, dan sesudah mengajak anak berenang (untuk anak usia 0-3 tahun):

  1. Sebelum berenang, pastikan si kecil dalam keadaan sehat dan tidak mengantuk.
  2. Pastikan perut si kecil tidak kosong. Minimal sudah minum susu atau makan snack, tetapi usahakan jangan terlalu kenyang karena hal ini membuat perutnya kurang nyaman berada di dalam air.
  3. Dampingi selalu si buah hati selama berenang. Jangan pernah menakut-nakuti, apalagi setelah ia tersedak karena meminum air kolam.
  4. Sampaikan kepada si kecil bahwa dia pasti bisa, pasti bisa dan kamu adalah anak hebat.
  5. Untuk anak di bawah usia 1,5 tahun disarankan cukup 15 menit saja di dalam air. Sedangkan usia 1,5-3 tahun maksimal 30 menit. Hal ini untuk menghidari anak menjadi biru dan kedinginan.
  6. Setelah selesai, bilaslah badannya dan pastikan perut anak diolesi minyak angin agar hangat, anak minum air putih yang banyak (menghindari dehidrasi) dan makan.
  7. Setelah selesai semua, ajaklah anak istirahat atau tidur untuk memulihkan tenaga.
  8. Terakhir setelah bangun tidur, ajaklah ia mengingat ulang kebahagiaan saat berenang.

 Sebagai orangtua, kami tidak pernah memaksa Waf untuk mencintai olahraga ini, tetapi kami berusaha mengenalkan dan mengarahkan agar ia mampu menguasai renang dengan penuh keceriaan dan kegembiraan. Semoga tips ini bermanfaat untuk Urban Mama dan Papa yang hendak mengenalkan kegiatan berenang kepada anak. Selamat berenang!

Related Tags : ,,,
Apa Reaksi Anda ?
10 Comments
Post a Comment
You must be in to post a comment.