MoneySmart Parent Permudah Perjalanan Menjadi Orangtua

Oleh Febi Purnamasari pada Rabu, 13 November 2019
Seputar Book Reviews
MoneySmart Parent Permudah Perjalanan Menjadi Orangtua

Apa momen yang berkesan bagi urban Mama saat hamil? Kalau saya, rangkaian pemeriksaan TORCH dan lainnya dalam satu sesi sebesar Rp5 juta menjadi salah satu momen tak terlupakan. Pemeriksaan TORCH adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi adanya toksoplasmosis, infeksi lain/other infection, rubella, cytomegalovirus, dan herpes simplex virus sehingga disingkat TORCH. Cek lab tersebut dilakukan pada ibu hamil atau perempuan yang berencana hamil untuk mencegah komplikasi pada janin.

Selain biaya yang besar, pelaksanaannya yang spontan juga membuat pemeriksaan TORCH dan lainnya (saya lupa rincian tes lab yang dikategorikan ‘lainnya’ ini) di kehamilan pertama sangat ‘berkesan’. Dokter kandungan yang memeriksa minggu-minggu awal kehamilan saya merekomendasikan pelaksanaan tes TORCH segera usai konsultasi. Sebagai calon ibu baru yang masih minim pengalaman sekaligus antusias menyambut kabar gembira kehamilan, saya langsung melaksanakan saran dari sang dokter tanpa membandingkan harga di lab rujukannya dengan lab lainnya terlebih dahulu. Suatu ketika, saya pun tersadar bahwa saya sebenarnya masih bisa riset biaya cek lab di berbagai laboratorium lainnya untuk mendapatkan harga yang jauh lebih murah.


Pentingnya merencanakan keuangan sejak sebelum hamil
Untungnya, orangtua millennial kini bisa menghindari hal yang saya alami tadi. Sebab, informasi seputar perencanaan keuangan saat mempersiapkan dan menjalani kehamilan, persalinan, hingga pascakelahiran sudah terangkum secara komprehensif dalam satu buku berjudul MoneySmart Parent. Di buku ini, ada lho, perkiraan biaya konsultasi dan pemeriksaan lab program hamil yang membandingkan beberapa klinik ternama di Jakarta dengan rumah sakit di Penang, Malaysia. Bahkan, di penghujung halaman bukunya, kita akan sampai pada perencanaan pendidikan anak!


Mbak Prita Ghozie (kiri) & Mbak Nadia Mulya (kanan).

#MoneySmartParent adalah karya dua mama inspiratif yang gemar menulis dan produktif menghasilkan buku, yaitu Nadia Mulya dan Prita Hapsari Ghozie. Mbak Nadia adalah seorang aktris dan presenter multitalenta, sementara Mbak Prita merupakan CEO di kantor konsultan keuangan ZAP Finance.

Menurut saya, calon orangtua yang bisa membaca buku ini sekarang adalah orang-orang yang beruntung! Zaman saya hamil dulu, isu literasi finansial belumlah sepopuler sekarang sehingga tidak kepikiran sama sekali untuk menyusun perencanaan keuangan menyambut kehadiran buah hati.

Tidak hanya memaparkan pos-pos pengeluaran yang mesti dipersiapkan saat merencanakan kehamilan, buku ini juga memberikan ide mengenai sumber-sumber dana yang bisa kita manfaatkan sebagai check list. Sebut saja, angpau pernikahan, tunjangan kesehatan dari tempat bekerja, penghasilan, bonus tahunan atau insentif lain.



“Buku ini bisa menjadi latihan bagi para lajang karena mereka dihadapkan dengan fakta-fakta yang akan dihadapi. (Hal) yang berbahaya, bila pengantin baru malah membawa hutang,” terang Mbak Prita saat peluncuran #MoneySmartParent Rabu (16/10) di Kinokuniya Bookstore, SOGO Plaza Senayan, Jakarta.

Jadi, buku ini juga merangkul para lajang yang mau menikah supaya lebih mawas diri sejak mempersiapkan pernikahan, ya!

 

Dekat dengan tren parenting zaman now
Kesan pertama saya usai melihat isi buku ini: “Lengkap banget!” Saya tidak menyangka, Mbak Nadia dan Mbak Prita bisa serinci itu menyuguhkan opsi-opsi yang bisa dipilih para calon orangtua maupun new parents beserta konsekuensi biayanya. Mulai dari pertimbangan USG 4D, skrining kelainan kromosom pada janin, birth plan, perbandingan biaya persalinan di sejumlah rumah sakit, perbandingan harga antarmerek premium dan ekonomis perlengkapan bayi, imunisasi, pemberian ASI/susu formula, sampai perbandingan biaya babysitter dan daycare.

Isi buku ini dijamin riil dan dekat dengan tren dunia kehamilan, peribuan, dan pengasuhan masa kini. Soalnya, buku #MoneySmartParent disusun saat Mbak Nadia tengah hamil anak keempatnya. Jadi, Mbak Nadia tahu betul hal-hal maupun perlengkapan yang sedang in di kalangan Millennial moms.

Kebetulan, Mbak Nadia bertemu Mbak Prita di sebuah acara. Ibu yang satu sedang hamil, tipikal ibu santai, dan berprinsip ‘jalanin aja dulu’ (Mbak Nadia). Ibu satunya lagi seorang perencana keuangan yang disiplin (Mbak Prita). Mereka pun sepakat untuk berkolaborasi membuat buku yang membahas perencanaan keuangan untuk calon orangtua baru, new parents, bahkan orangtua yang sudah memiliki lebih dari satu anak.

“Tambah anak, tambah 20 persen pengeluarannya. Misal, pengeluaran awal Rp10 juta, jadi Rp12 juta. Porsi anak enggak bisa diapa-apain lagi. Hal lain di luar anak yang bisa diubah,” jelas Mbak Prita.

 

Perencanaan keuangan sejak hamil sampai life after baby
Mbak Nadia dan Mbak Prita berpendapat, perencanaan keuangan sangatlah penting bagi calon orangtua baru.

“Test pack aja butuh uang. Sudah hamil, argo mulai jalan. Tes darah sampai anak lahir,” ungkap Mbak Prita mengingatkan.

Menurut Mbak Nadia, kehamilannya 13 tahun lalu dengan kehamilan 9 bulan yang lalu jelas menuntut kebutuhan yang berbeda. Saat hamil anak ketiga, fotografer persalinan belum populer seperti saat ini. Bagaimana dengan sekarang? Paparan media sosial membuat orangtua zaman now memiliki kebutuhan lebih seperti baby shower, doula, baby moon, pemotretan maternity, yoga ibu hamil, push present, you name it!

Mbak Glory Oyong yang menjadi MC peluncuran buku dan diskusi hangat Rabu sore (16/10).



Ada banyak tips dan trik yang diberikan buku ini agar para pembacanya bisa berhemat dalam merawat dan membesarkan buah hati. Contohnya, tidak semua perlengkapan bayi harus dibeli, tapi bisa disewa, membuat daftar permintaan kado, berbelanja di musim diskon, dan sebagainya.

#MoneySmartParent juga menyuguhkan opsi-opsi yang bisa menjadi referensi orangtua baru dalam memutuskan gaya parenting dan gaya hidupnya. Termasuk life after baby perihal pilihan untuk menjadi ibu rumah tangga, work from home mom, atau ibu bekerja penuh waktu yang semua sama baiknya dengan konsekuensi masing-masing. Buku ini juga memaparkan plus minus dan pengingat keuangan untuk para ibu yang galau resign atau lanjut kerja ketika cuti melahirkan mereka hampir habis.

“Penghasilan kita harus dua kali lipat dari biaya penjagaan anak. Biaya daycare jangan sampai 80 persen dari penghasilan kita,” pesan Mbak Prita.

Hitung-hitungan seperti ini tentu menantang bagi ibu yang memutuskan untuk lanjut bekerja. Tapi, jangan khawatir karena #MoneySmartParent akan memberikan panduan yang membantu Mama dalam memutuskan.

Sementara untuk Mama yang memilih menjadi freelancer atau ibu rumah tangga, pastikan sudah menyiapkan dana darurat, ya. Tempatkan dana darurat di suatu rekening yang bisa diambil kapan saja, namun pisahkan dengan rekening operasional.

“Dana darurat itu minimal enam kali pengeluaran rutin bulanan dan kita harus menghemat setengah dari biaya hidup saat ini,” pesan Mbak Prita untuk ibu-ibu yang berniat berhenti dari pekerjaan tetap.

Namun bila anak sudah bersekolah, rumus dana daruratnya: 12 x total pengeluaran rutin bulanan. Tujuannya untuk mempertahankan masa belajar anak sementara waktu sebelum ia pindah ke sekolah baru. Ini karena adaptasi ke lingkungan baru bukanlah hal yang mudah bagi seorang anak.

Untuk freelancer mom, ini pesan Mbak Nadia, “Profesi boleh baru, tapi akan membutuhkan waktu. Pertimbangkan juga untung rugi biaya-biaya yang ditimbulkan dari keputusan sekian dan pendapatan sekian. Segala sesuatu dapat diperhitungkan.”

Tidak hanya mengulas biaya-biaya sebelum dan sesudah menjadi orangtua, Mbak Nadia dan Mbak Prita juga membahas isu-isu psikologis seorang ibu seperti baby blues, persepsi terhadap tubuh, dan kebutuhan piknik yang turut memerlukan perencanaan keuangan.

 

Orangtua Millennial sadar pentingnya pendidikan anak usia dini
Nah, sekarang soal pendidikan anak usia dini yang tak luput dibahas dalam buku ini. Saat peluncuran  #MoneySmartParent, Mbak Nadia menjabarkan sebuah fakta menarik.

Penelitian Dr. Robert Tizter di Amerika mengungkapkan, anak-anak yang diinvestasikan dengan pendidikan dini akan mengurangi beban ekonomis akademis pada usia selanjutnya. Grafik “Payoff to society for investing in children” yang diadaptasi dari Tom Dunne dari Heckman dan Masterov menunjukkan, return on investment lebih tinggi manakala investasi pendidikan dilakukan sejak usia dini. Pendidikan usia dini yang berkualitas akan membuat anak memiliki manajemen waktu dan stres yang baik juga menyenangi proses belajar dibandingkan anak yang hanya mengenyam pendidikan dasar ke atas saja.

“Ketika saya bertanya pada mahasiswa baru, kenapa kalian memilih Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, setengah dari mereka bilang, ‘disuruh orangtua’. Seperempatnya tahu apa yang mereka inginkan. Seperempatnya lagi galau, enggak disuruh siapa-siapa, tapi keterima di sini,” ungkap Mbak Prita mencontohkan dampak yang mungkin ditimbulkan dari kurangnya kesadaran pendidikan anak usia dini zaman dulu.

Menurut Mbak Prita dan Mbak Nadia, kesempatan untuk menjalani pendidikan usia dini membuat anak-anak mengenali minat dan bakat mereka lebih awal. And yes, orangtua masa kini sangat berinvestasi pada pendidikan anak usia dini. Bahkan, sudah banyak orangtua yang menstimulasi buah hati lewat program khusus sejak bayi. Mbak Nadia Mulya, misalnya, sudah mengikutkan si bungsu pada ‘sekolah’ bayi sejak berusia dua bulan.

Biaya pendidikan anak usia sangat dini memang mahal karena merupakan hasil penelitian yang terbilang baru dan kebanyakan mengambil lisensi dari luar negeri. Lalu, bagaimana cara mengakalinya? Cari tahu jawabannya di buku ini ya, Ma.

Kupas tuntas biaya pendidikan anak sampai kuliah
Pada akhirnya, para orangtua baru harus mengatur perencanaan keuangan pendidikan anak. Survey membuktikan, rata-rata kenaikan biaya pendidikan di Indonesia 15 persen per tahun. Buku ini akan mengupas tuntas biaya dana pendidikan anak mulai dari biaya yang bersifat umum seperti uang pangkal dan biaya bulanan sampai printilan seperti biaya lomba-lomba, jajan, dan social pressure!



Meski begitu, Mbak Prita pun menegaskan, bagaimanapun biaya pendidikan tinggi harus menjadi prioritas orangtua. Kita bisa mengubah situasi ketika dana pendidikan anak tak mencukupi dengan menyekolahkannya di SD hingga SMA negeri. Untuk pendidikan tinggi, kita tidak punya pilihan karena universitas swasta maupun negeri menuntut biaya yang tinggi pula.

Lengkap banget isi bukunya, kan? Yuk, permudah perjalanan kita sebagai orangtua dengan membaca #MoneySmartParent!

Ngomong-ngomong, me-time saya juga menulis seperti Mbak Nadia Mulya dan Mbak Prita Ghozie yang sudah menerbitkan banyak buku. Mohon doanya ya, semoga saya juga bisa menciptakan karya kece seperti kedua mama hebat ini!

Febi Purnamasari

A new mother of two who loves sharing whatever she has learned from seminars and books especially related to parenting issues. She’s now developing her career path as journalist for a national television. Belly-dancing is her hidden obsession.

0 Komentar