My Happiness vs Time Bomb

Oleh uci pada Senin, 17 Januari 2011
Seputar Our Stories

Akhirnya saya hamil setelah sebulan menikah. Siapa yang tidak senang? Setiap wanita yang sudah menikah pasti mengharapkan hal ini bukan? tapi... kenapa jadi time bomb? 

Saya dan suami saya menyambut kebahagiaan kami karena kami memang tidak mau menunda kehamilan setelah menikah. Kehamilan berjalan lancar, saya tidak mengalami mual, migrain (biasanya saya mengalami di hari hari sibuk), anemia pun hilang, saya tetap bekerja dan tetap naik tangga ke lantai 2 sampai bulan terakhir. Saya juga tidak punya keinginan macam-macam pun yang katanya namanya ngidam. Perkembangan janin pun normal.

Sampai di bulan ke 5.
Tekanan darah saya masuk ke angka 110/79. Dokter Kandungan saya bilang, "Jangan banyak garam". Saya kurangi garam, berat badan saya tidak naik, berat bayi tidak naik, tensi tetap naik. Bulan berikutnya tensi naik lagi 130/83. Dokter kembali bilang kurangi garam sampai akhirnya saya khawatir sendiri. Ini tidak biasa, saya sudah lama punya darah rendah, cenderung sangat rendah (80/60). Saya biasa pusing karena anemia kenapa sekarang naik? Lalu saya ganti dokter, saya cari info tentang dsog yang bisa menangani pasien dengan masalah-masalah kehamilan yang khusus. Saya pun belajar mengenai gejala ini.

Dokter kandungan baru saya bilang, "Ibu terkena Pre-Eklampsia." Saya langsung lemas. Sebelumnya saya sudah tau apa itu pre-eklampsia dan saya sangat tau bahwa gejala tersebut bisa disebut sebagai salah satu penyebab tingginya tingkat Ibu meninggal di Indonesia bahkan dunia. Dan saya sangat sangat tau bahwa salah seorang sahabat saya kehilangan bayi-nya karena gejala tersebut (ibu terlanjur shock/kejang hingga janin kekurangan oksigen). Untungnya pada saat itu saya merasa cocok dengan dokter kandungan saya yang baru. Beliau bicara jelas, apa ada nya dan sangat supportive dalam artian dia tidak membiarkan kita pulang dengan tanda tanya melainkan informasi yang sangat jelas, walaupun kadang terdengar mengerikan (ceplas ceplos banget dokternya).


Symptoms/ Gejala-gejala :

  • Hypertension / Tekanan darah tinggi (naik).

  • Proteinuria/ kandungan protein dalam urine.

  • Edema(Swelling) /pembengkakan.

  • Sudden Weight Gain / Berat badan naik berlebihan.

  • dll


source: http://en.wikipedia.org/wiki/Pre-eclampsia.

http://www.preeclampsia.org/signs-and-symptom

Banyak faktor memicu gejala ini namun faktor utama nya tidak ada yang pasti. Selain tekanan darah yang naik, saya pun mengalami edema/ bengkak di seluruh tungkai kaki dan menyebar hingga ke jari-jari kaki. Bahkan di minggu-minggu terakhir bola mata saya seperti dilapisi selaput dan mata mulai sembab. Placenta pun saat itu sudah mengalami pengapuran. Berat badan saya naik hampir 20kg. Gejala lain bisa dilihat dan dibaca juga di weblink diatas tadi.

Kami menghitung waktu. Pasrah dan mengikuti terapi dokter. Dokter cek keseluruhan darah saya, lengkap dengan gula darah, kandungan protein dalam urine dsb. Saya menghabiskan waktu dengan lab dan obat penekan darah tinggi. Dokter juga melarang saya diet garam. Sampai di minggu 36, dokter mengakhiri kehamilan saya dengan SC. Tekanan darah saya saat itu hampir menembus angka 180/120. Saya sendiri sadar dan terus memantau alat tensi selama proses operasi berlangsung. Tensi saya saat operasi turun menjadi 150/90 dan terus sampai selesai operasi.

Aisha Sasikirana (Sasi) lahir di minggu ke 36 minus 1 hari dengan berat 2.650gr panjang 45cm. Sehat dan tidak kekurangan suatu apapun. Saya, ibunya, harus di ICU selama 24 jam (believe me it's a nightmare  :( ) dan di tindak lanjuti oleh dokter jantung karena tensi yang masih tinggi juga detak jantung yang tidak beraturan . Saya pulang masih dengan membawa tekanan darah yang tinggi 140/90 dan terus dalam terapi dokter sampai 6 bulan setelahnya.

Pre-eclampsia may also occur in the immediate post-partum period. This is referred to as "postpartum pre-eclampsia." The most dangerous time for the mother is the 24–48 hours postpartum and careful attention should be paid to pre-eclampsia signs and symptoms.[8]

source : http://en.wikipedia.org/wiki/Pre-eclampsia

Tekanan darah saya sudah normal 2 bulan pasca melahirkan Sasi namun dokter tetap pantau saya per 6bulan dan saya disarankan untuk menjaga jarak kehamilan berikutnya karena saya harus menormalkan kolesterol, gula darah dan tekanan darah saya. Saya harus berolahraga, menjaga berat badan dan mengasup gizi yang baik.

Sasi sudah 2 tahun 3 bulan. Sehat dan perkembangannya cukup normal untuk anak seusianya. Dia kehilangan masa ASIXnya karena Ibu yang sakit dan dalam masa terapi obat-obatan dosis tinggi pasca melahirkan. Namun saya berjanji bahwa saya akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk dia walaupun dia harus kehilangan hak nya untuk mendapatkan ASIX. Dan mudah-mudahan saya diberi kesehatan sehingga dapat memberikan ASIX untuk anak saya berikutnya (Insya Allah). Amin.

Saya menceritakan pengalaman saya ini karena saya berharap kita semua dapat waspada dan mendapatkan informasi yang cukup soal gejala ini sehingga tidak perlu lagi kita kehilangan orang-orang yang kita sayangi karena hal-hal yang kita tidak mengerti.

uci
uci

48 Komentar
angela March 22, 2015 10:20 am

Halloo mams..

Pengalaman mams sama kyk pengalamnku :( Tp bedany baby'ku meninggal setelah 1bln kurang 1 hr diinkubator T.T
Preeclamsia emg nakutin y,apalagi klo ketemu dokter yg nga bgs kyk dokterku. Ak dah ada ciri2 preeclamsia (bengk2 sm wajah,berat naik 5kg dlm sebulan tp baby cm naik 0,5 gr) ttp aja ngmg baik2 sj #huft
Bagi2 info y mams klo ada dokter daerah yogya or cara buat menanggulangi lbh dini preeclamsia. Rencana mau hamil lg yg ke 2,tp takut bgt kyk kmrn. Kehilangan baby yg sdh dinanti2, n hrs diinduksi 3mlm #lahiranku normal.

Thanq b4 mams :) Sehat sll utk mams n sasi

trianasefti June 24, 2011 1:18 pm

salam kenal mamas..

nice article...
baca artikel ini aku jadi waspada,,ternyata walo tekanan darahnya rendah...pas hamil..bisa meningkat...

deardevi January 28, 2011 7:12 pm

halo mamas, aku juga kelahiran anak pertama ngalamin Pre-eklamsi yang anehnya baru muncul di minggu ke-38 dgn tensi 160/100. Kontrol terakhir minggu ke-37, semua sehat adanya.
Dengan kondisi suami lg tugas ke luar negeri (dy pikir masih lama, palingan 2 minggu lagi :D), ga ada ortu/mertua yang sekota.. dengan hanya ditemani kontrol sama adikku yg masih mahasiswa, aku dinyatakan PE dan harus segera melahirkan, krn sudah cukup bulan juga.
Dokter lalu mutusin harus SC, krn emang blom ada kontraksi dan tensi ga kunjung turun. Aku masih ngulur2, sapa tau suamiku diijinin pulang -- soalnya dia trainer, kalo dia pulang batal d trainingnya.
Thk God, malah akhirnya mamaku, ibu mertuaku, suamiku, semuanya bisa datang dan menyambut si baby waktu lahir tengah malam pukul 23.23 :p lewat sebuah operasi yang menakutkan (menurutku). Makanya anak ke-2 aku maksa harus lahir normal, ga sanggup mengingat dinginnya ruang operasi, betapa sendirinya di situ.
O ya, pas anaknya mau dikeluarin, aku ditidurkan sama dokter anastesinya, katanya tensinya naik banget *ga tau brp*, jd aku ga denger tangisannya, ga denger apa-apa. Tau2 aku dibangunin bayiku udah bersih dan wangi.

yuyi January 22, 2011 3:06 pm

nice post...

hiks... *usap airmata*...

nuri sadida
nuri sadida January 22, 2011 8:12 am

@ mba lucia, mba dhia, mb iffa, dan semuanya.. aku udah share ttg terapi asam amino di thread pre eklampsia di http://theurbanmama.com/forum/post67127.html#p67127 yaa... cekidot gan :D