Sepertiga Perjalanan Menyusui Bayi Kembar

Oleh Reskha pada Jumat, 11 September 2015
Seputar Our Stories

Sebulan setelah menikah, saya dikaruniai anugerah untuk mengandung anak. Rasa senang bercampur khawatir saat di minggu ke-12, dokter spesialis kandungan menyatakan bahwa bayi kami kembar. Lima bulan kehamilan diisi dengan mual-muntah hebat sehingga praktis sepulang kerja hanya bisa digunakan untuk beristirahat. Mulai bulan keenam, kehamilan berjalan lancar sampai dengan bulan kesembilan.


Demi menyimpan cuti, saya masih praktek penuh di rumah sakit sehari sebelum waktu melahirkan. Waktu senggang kami gunakan untuk mempersiapkan fisik dan mental sebagai calon orang tua bayi kembar. Kami membaca banyak buku parenting namun ternyata lupa mempersiapkan satu hal penting: pengetahuan tentang menyusui.


Selama hamil, banyak orang berkata, "Siap-siap pilih sufor karena ASImu tidak akan cukup." Saya hanya menjawab dengan senyum. Berbekal pengalaman mendampingi kakak saya di minggu-minggu awal setelah melahirkan, yang saya tahu adalah: 1. ASI biasa baru keluar pada hari ketiga dan bayi bisa bertahan tanpa minum, 2. Prinsip produksi ASI adalah supply by demand, sehingga akan selalu cukup.


Ternyata kenyataan berkata lain. Putri kembar kami lahir di minggu 37 dengan berat 2,2kg dan 2,3kg. Karena berat mereka di bawah 2,5kg dan golongan darahnya berbeda dengan saya, dokter spesialis anak menyarankan pemberian susu formula selama ASI belum keluar. Sempat ingin menolak, tetapi kemudian saya menurut karena memang indikasi medis. Keesokan harinya ASI keluar namun proses menyusui tidak bisa berjalan maksimal karena kedua bayi masih di inkubator sehingga diselingi dengan pemberian ASIP dan sufor dengan cup feeder.


Kami pulang di hari keempat dengan membawa pesan dari salah satu perawat bahwa bayi kembar kami tidak terlalu jago mengisap, sehingga lebih baik dilatih dengan dot. Sebagai seorang dokter gigi, saya tidak tahu tentang latch on, apalagi tentang bingung puting. Karena kami sudah memutuskan untuk berhenti memberikan sufor dan memilih untuk full ASI, malamnya saya akan perah ASI dan diberikan lewat media dot. Namun keesokan harinya, puting yang tadinya hanya sedikit lecet jadi berdarah dan lecet parah. Menyusui menjadi sangat menyakitkan. Curiga ada yang tidak beres, saya langsung telepon kakak saya yang juga adalah dokter sekaligus ibu ASI. Teori latch on, LDR, bingung puting, tandem nursing... banyak sekali dijelaskan dengan ringkas oleh kakak saya disertai link video breastfeeding dari youtube.


Karena waktu 24 jam hanya untuk menyusui dan mengurus kedua bayi kembar kami, saya tidak kuat bangun namun suami sigap memberikan ASIP menggunakan cup feeder. Namun mungkin karena sudah merasakan enaknya dot, minum dengan cup feeder jelas menyulitkan dan si kembar pun menolak. Sambil terkantuk-kantuk, yang saya lakukan adalah memangku mereka. Dan gagal total. Akhirnya kembali lagi menyusui langsung. Paginya saya tanya lagi ke kakak dan lagi-lagi baru tahu kalau menggunakan media selain dot harus dilatih dan dengan kondisi jauh dari ibunya. Duh!


Salah berkali-kali membuat saya terlecut. Waktu saya habis untuk menyusui, makan, dan baca artikel tentang menyusui di internet. Kesalahan karena kurangnya persiapan memberi ASI harus dibayar di hari-hari awal menjadi ibu. Waktu sisa saat mereka tidur yang seharusnya bisa digunakan untuk beristirahat malah digunakan untuk membaca artikel dan melihat video supaya dapat langsung saya coba. Tentu sangat melelahkan. Belum lagi menguasai benar tentang posisi latch on, saya mulai belajar tandem nursing agar merangsang LDR dan memudahkan pengaturan waktu menyusui.


Puting sudah tidak terlalu lecet tetapi energi terkuras habis, ditambah punggung luar biasa sakit karena posisi tandem nursing bayi newborn (dengan berat badan yang rendah) membuat posisi ketika menyusui harus dengan sangat membungkuk. Suami sampai kasihan melihat perjuangan istrinya ini. Paginya suami saya langsung mencari sisa busa dan membuatkan saya bantal menyusui emergency karena pesan online terlalu lama. Kami bahkan menyempatkan datang ke klinik laktasi hanya untuk meyakinkan diri bahwa segala teori dan praktik yang kami lakukan sudah benar.



Setelah satu minggu paska persalinan yang penuh drama, akhirnya proses menyusui dapat kami jalani walaupun tentu tidak mudah. Mengapa 'kami' dan mengapa 'tidak mudah'? Karena ada DUA bayi newborn yang sama-sama harus diurus, padahal di rumah hanya ada saya dan suami. Orangtua hanya menemani sebentar setelah melahirkan. Sisanya kami jalani berdua saja. Namun di situlah saya bersyukur karena suami saya yang luar biasa. Sebisa mungkin suami saya mengusahakan tinggal selama mungkin di rumah membantu saya menggendong bayi.


Sebagai working mom, selama di rumah saya selalu mengusahakan mengurus si kembar mereka sendirian. Namun sampai dengan usia 4 bulan, ini hampir mustahil dilakukan karena kondisi mereka yang tidak selalu sama. Ada kalanya saat sedang tandem nursing, salah satunya selesai minum dan menangis minta digendong. Suami dengan sigap membantu. Mungkin bagi mereka, papinya adalah mami yang tidak menyusui karena 45% waktu mereka dihabiskan dalam gendongan suami saya. Mulai bulan kelima, mereka sudah mulai bisa bermain dan tidak terlalu membutuhkan gendongan sehingga bisa saya tangani sendiri, namun ritme menyusui mereka semakin intens. Sepulang praktik pukul 3 sore, kami akan mulai tandem nursing dilanjutkan dengan menyusui lagi tanpa henti bergantian, nonstop hingga 3-4 jam. Melelahkan memang. Namun melihat bagaimana mereka bertumbuh dengan baik, semua rasa lelah pun sirna. Sukacita demikian tak terhingga.


Sekarang si kembar sudah berusia delapan bulan, sepertiga perjalanan dari dua tahun menyusui. Menilik ke belakang menyisakan banyak haru karena saya melihat banyak keajaiban yang kami alami. Mendapat karunia bayi kembar yang lahir sehat dan saya mampu memberikan ASI hingga sepertiga perjalanan ini lebih dari cukup. Segala jerih lelah, sakit, waktu, dana, dan tenaga yang diberikan tidaklah terbuang sia-sia. Sungguh sepadan.



Masih duapertiga perjalanan, memang. Tetapi jika sepertiga bagian ini berjalan baik tanpa terasa, apa yang harus saya khawatirkan? Selamat memberi ASI untuk urban mama semua, let's make it work!


 


(featured image: www.freedigitalphotos.net)


11 Komentar
Reskha
Reskha October 5, 2015 9:33 am

Mom wiwit ketjup juga dong buat Kira Kara hihihi
Mom gabriella makasih ya.. AMINNN pake hurup gede hehe. Peluk cium nih dr si kembar :*
Mom aini, mom ephiee, mom jessijess amin amin maksih, semoga kita semua ibu anak sehat2 ya moms :)
Mom vina boleh banget.. silakan wa di 0818182206, seneng kl bs bantu hehe

jessijess October 4, 2015 11:56 pm

ceritanya inspiratif banget^^ harus yakin pasti bisa menyusui dengan lancar SEMANGAT^^

vina napitupulu September 21, 2015 12:57 pm

Hi reskha. Aku blh mnt wa gk? Mau tanya2 karna bayiku jg kembar dan aku dibilang asinya gak cukup. Mau minta ilmunya:)

ephiee September 17, 2015 8:36 am

semoga reshka n sikembar selalu diberi kesehatan.

Retno Aini
Retno Aini September 15, 2015 12:12 pm

aku ngalamin juga, setelah anak lahir baru belajar ttg asi, semacam kyk belajar sks hihi. Tetap semangaaatt ya Reskha, semoga lancar terus perjalanan menyusui si kembar :)