Terkena Rubella Saat Hamil

Oleh irene anggraeni pada Rabu, 18 Juli 2012
Seputar Our Stories

Baru 10 minggu berlalu sejak saya dinyatakan hamil. Anak pertama saya, Ieva, pulang sekolah dengan wajah berbintik merah. Saya mendapat firasat kurang baik dan segera ke dokter. Hati ini rasanya tidak tenang dan di kepala saya sudah terpikir sebuah penyakit yang sangat ditakuti wanita hamil, virus Rubella. Dokter bilang Ieva hanya alergi. Namun saya tetap cemas, dan besok siangnya saya berinisiatif memeriksakan darahnya ke lab. Hasil lab menyatakan Ieva positif terkena rubella. Kami serumah diliputi kepanikan, bagi Ieva sendiri virus ini hanya semacam campak biasa yang akan sembuh sendiri. Namun kalau virus ini sampai masuk ke tubuh saya yang sedang hamil, akibatnya bagi janin bisa fatal.

Malam hari itu juga, setelah hasil lab Ieva keluar, saya segera mengungsi ke rumah saudara di kota yang sama. Saya berusaha membuat suami tidak panik, karena saya tahu pekerjaannya di Kalimantan sedang padat juga. Untuk pertama kalinya sejak melahirkan Ieva, saya meninggalkan Ieva. Berat dan sedih, tapi demi calon adiknya, saya harus bertahan. Kalau di rumah yang sama, risiko tertular akan makin besar.

Hari-hari tanpa Ieva benar-benar berat dan menguras emosi. Untungnya dia anak yang tabah, sakitnya belum sembuh, tapi dia hanya diam saja dan berpikir sendiri, tidak menangis teriak-teriak, walaupun ditinggal mamanya sampai 3 minggu. Sudah amankah? Tidak. Menjelang weekend minggu kedua, di tubuh saya muncul bintik-bintik merah, mulai dari tangan, wajah, leher, menyebar ke perut. Saat itu saya betul-betul panik dan putus asa. Ternyata virus itu tetap menular (karena masa inkubasinya bisa 2-3 minggu sebelum gejala ruam merah muncul).

Siangnya langsung saya cek lab, tapi hasil lab baru keluar 2 hari kemudian. Malam hari saya kabari suami tentang bercak merah ini. Kami betul-betul kehilangan arah, sampai akhirnya besok subuhnya suami saya langsung memutuskan untuk pulang ke Jawa, sementara saya berangkat ke Jakarta, dan kami bertemu di Jakarta. Kami mencari dokter-dokter terbaik dalam kasus rubella ini lewat internet. Saat mencari itu, otomatis juga menemukan berbagai artikel mengerikan dari virus ini. Air mata yang terkuras sudah tidak terhitung banyaknya, membayangkan berbagai kemungkinan mengerikan yang bisa terjadi pada anak kami.

Proses selanjutnya tentu sama seperti orangtua lain pada umumnya, berusaha menyelamatkan calon bayinya. Beberapa nama dokter yang kami browsing dari internet, kami datangi. RS Bunda Jakarta, tempat Ieva lahir dulu, jadi RS pertama yang kami datangi, kebetulan di sana dokter ahli juga yang istilahnya mengurus "fetomaternal"/kelainan janin. Di ruang dokter, kami mendapat banyak pandangan dari dokter. Ada kata-katanya yang membekas di hatiku, "Bu, tanpa rubella pun, kalau selama 9 bulan Ibu melakukan USG, hasilnya semua baik dan normal, tiba-tiba waktu lahir kenapa-kenapa, apa mau dibuang juga?"

Rasanya ingin menangis waktu ditanya begitu. Dokter menyerahkan kembali kepada saya dan keluarga, apa yang harus dilakukan pada calon anak kedua kami. Apakah kandungan ini akan diaborsi atau dilanjutkan. Kemungkinan virus rubella mengenai janin pada kehamilan seperti ini sekitar 80%! Jadi saya hanya punya kesempatan 20% (berdasarkan hitungan manusia/ilmu medis).

Dari beberapa keluarga, saudara, teman yang mengetahui kejadian ini, tidak sedikit yang menganjurkan untuk melakukan terminasi langsung. Suami saya menguatkan agar saya melanjutkan kehamilan ini. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk tidak melakukan aborsi, karena aborsi tidak diperbolehkan secara agama dan kami lebih baik berserah kepada Tuhan untuk menjaga dan menyembuhkan janin yang dikandung. Kemudian dokter memberikan obat dan suplemen untuk menghambat penyebaran virus itu.

Menjalani kehamilan dengan penuh penghargaan, itu yang saya jalani saat hamil anak kedua ini. Saat hamil anak pertama, saya jarang peka merasakan campur tangan Tuhan, sangat jauh berbeda dengan kehamilan kedua ini. Waktu lebih banyak dihabiskan untuk berdoa pagi sampai malam, dibantu keluarga, teman, saudara, doa-doa itu makin terasa "keampuhan"nya dari hari ke hari. Saya percaya tidak ada yang melebihi kekuatan Tuhan, prediksi manusia masih bisa punya banyak kesalahan.

Beberapa kejadian "menakjubkan" terjadi selama beberapa bulan itu:


  • Puluhan ayat "muncul" dengan sendirinya saat kami membuka kitab suci, dan bunyinya selalu pas, selalu menunjukkan arah apa yang harus kami lakukan.

  • Saya mengontak beberapa orangtua yang mengalami kasus sama (hamil terkena rubella), ajaibnya Tuhan mempertemukan saya dengan para orangtua yang semua anaknya "selamat", semua anaknya normal, dan mereka semua sangat pro-life, mendukung untuk meneruskan kehamilan.

  • Intensif berdoa, secara ajaib, angka titer virus pada bulan ke 5 menurun drastis, bahkan saat bulan ke 7 angkanya sudah negatif! Secara medis tidak banyak yang bisa mengalami itu, kebanyakan saat melahirkan, angka titer virus di badan ibu masih positif mengandung virus. Saya percaya ini berkat campur tangan Tuhan.

  • Setiap detik selama 7 bulan itu kami menekan perasaan manusiawi, yaitu kecemasan. Setiap kali takut, saya berusaha cepat mengalihkan pikiran dengan berdoa. Doa apa saja, menyampaikan ketakutan saya, berkeluh-kesah pada Tuhan, dan bersyukur untuk hari itu. Doa adalah jalan yang ampuh untuk mencari kedamaian. Saat kandungan 8 bulan pun sempat beberapa kali flek, diberi obat penguat kandungan, dan setelah berdoa tidak lama kemudian fleknya hilang.



Tidak terasa 9 bulan berlalu cepat, Dokter terus memantau perkembangan janin melalui USG. Bulan demi bulan, dan tiba saat melahirkan. Seminggu sebelum rencana operasi, saya sudah ke Jakarta. Akhirnya Minggu, 6 Mei 2012 pukul 12.27 anak kedua kami lahir, kami beri nama Imelda Elianna. Imelda artinya "pejuang yang tangguh", Elianna artinya "Tuhan telah menjawab". Dan memang benar Tuhan menjawab doa kami. Selama 5 hari kami di rumah sakit, macam-macam tes dilakukan pada Imelda, mulai dari mata, telinga, jantung, darah. Semua tes lolos dengan baik, kecuali telinga sebelah kiri akan diulang 6 bulan lagi. Namun dari tes darah, dokter menyatakan virus itu tidak sampai ke Imelda. Terima kasih, Tuhan!

Anak adalah titipan dari Yang Mahakuasa. Kita tidak berhak untuk menentukan awal maupun akhir kehidupannya, seperti kita sendiri pun pasti tidak mau nyawa kita ditentukan oleh seseorang. Jangan berhenti berharap, sesulit apa pun keadaan kita, percaya saja bahwa Tuhan tidak pernah tidur.



Ieva dan Imelda





Foto terbaru Imelda, cantik dan lucu


Kategori Terkait


Tag Terkait

53 Komentar
Ria Silvia April 13, 2020 2:16 pm

salam kenal bund, saya demam selama 1 minggu, setelah demam muncul bintik2 merah, dan saya sedang hamil 14 minggu, dokter penyakit dalam mendiagnosis campak, tapi dr obgyn tidak yakin kalau itu campak karena hanya badan yang bintik2 merah.. apakah sekarang anak bunda sehat-sehat saja, karena saya agak takut bund..

muhammadaliridho idho October 15, 2019 4:19 pm

Mba irene. Msh aktifkah? Saya ingin bertanya tanya mba. Terima kasih sangat

irene anggraeni October 15, 2019 6:55 pm

Masih mas, whatsapp saya di 081291719790

Yenni Aprilia October 2, 2017 10:21 pm

Mom Irene..
Salam kenal, saya yenni. Mau tanya2 dong ttg rubella karna saya jg positif mom, usia kandungan 17w :(
Asli ini kepikiran terus sih walopun dokter saya blg "aman" karna saya emang ga ngalamin bercak merah2, pusing atau gejala2 lainnya.. Tapi tetep aja kepikiran dan khawatir banget, Mom..

Dita Fitriani
Dita Fitriani May 12, 2017 9:53 am

Selamat siang mom, selama kehamilan apa aja usaha yang dilakukan, usia kandungan saya 17w dan saya terkena virus rubella, rasa khawatir dan cemas selalu terbayang bayang. Mohon pencerahannya

anggi nur April 18, 2017 5:09 pm

selamat sore mom irene, mau tanya selama kehamilan mengkonsumsi apa saja? saya jg sdg hamil dan terkena rubela :( sedih banget rasanya.. tapi suami yg menguatkan. kami memutuskan untuk melanjutkan kehamilan ini. boleh berbagi pengalaman waktu sdg hamil imelda?