Wafa Berubah

Oleh Britania Sari pada Kamis, 18 Juni 2020
Seputar Our Stories
Wafa Berubah

Saya kaget mendengar jawaban Wafa ketika saya meminta tolong kepadanya untuk menutup pintu kamar. Sambil asyik bermain, ia berkata, ‘Bunda aja (yang tutup), kan Bunda yang buka.‘ Ia ucapkan tanpa menoleh kepada saya.

Hei, ini bukan Wafa yang saya kenal. Ia berubah…

Biasanya ia selalu bersedia membantu, bahkan kadang tanpa saya minta.

‘Bunda mau ngepel dulu ya, Fa.’ Ia akan menjawab, ‘Aku bantu ya, Bun.’

‘Bunda mau menyikat kamar mandi dulu ya, Fa.’ Ia akan menjawab, ‘Aku juga mau sikat kamar mandi ya, Bun.’

‘Tolong ambilkan bunda piring, Nak.’ Ia akan menjawab, ‘Baik, Bunda’ atau ‘Oke, Bunda.’

Perubahan ini pasti ada penyebabnya. Pasti!

Saya coba mengingat-ingat kembali, saya mencoba mencari penyebab Wafa berubah.

Aha, saya tahu…

Sayalah yang menyebabkan ia berubah. Awalnya saya yang berubah menghadapi Wafa ketika ia membutuhkan bantuan.

Bunda: "Fa, setelah bermain jangan lupa rapikan mainannya ya."

Wafa: "‘Iya, Bun, tapi bantuin ya."

Bunda: "Nggak ah, Wafa kan sudah besar, rapikan mainan sendiri dong."

Ketika ia lupa menutup pintu kamar, saya akan menegurnya, "Fa, tutup lagi pintunya, kamu kan yang terakhir buka (pintu)."

Apa yang pernah saya katakan kepadanya, ia ucapkan kembali kepada saya. Anak-anak ibarat cermin, akan memantulkan apapun yang dilakukan dan dikatakan orangtua kepada mereka. Anak-anak memang peniru ulung. Anak-anak belajar dari contoh yang ia lihat sehari-hari (modelling).

Semakin bertambah besar anak, sepertinya tuntutan saya kepada Wafa juga meningkat, saya ingin ia sudah bisa melakukan sesuatu sendiri. Padahal usianya belum genap 4 tahun.

Seharusnya saya lebih toleran dengannya, bersabar menemani tumbuh kembangnya, mudah memaafkan keterbatasannya dan menolongnya ketika ia membutuhkan bantuan.

Ternyata ketika saya enggan membantunya, ia pun akan segan menolong saya.

Ternyata semakin saya sering memerintahnya, ia semakin enggan melakukannya.

Ternyata saya yang menyebabkan ia berubah.

Saya merasa ditegur oleh Pam Leo, "You can’t teach children to behave better by making them feel worse. When children feel better, they behave better."

13 Komentar
Britania Sari
Britania Sari June 17, 2015 9:32 pm

Halo mama Paradise, semoga tdk salah paham dengan maksud tulisan ini ya. Salah satu metode pembentukan perilaku anak adalah adalah model atau contoh. Orangtua memberikan contoh perilaku seperti yang diharapkan. Ketika anak meminta tolong, orangtua tidak segan untuk menolong anaknya tapi bukan berarti semua tugas, kewajiban atau pekerjaan anak dibantu.

Ketika kita ingin membentuk suatu perilaku yang positif maka lakukan dengan cara yg baik dan positif juga, tidak dengan omelan, kritikan dsb. Pam Leo mengatakan bahwa "“You can’t teach children to behave better by making them feel worse. When children feel better, they behave better.”

Itu pengalaman pribadi saya, mungkin orangtua yang lain punya cerita dan kisah yang berbeda. :)

ginana June 13, 2015 3:09 pm

Berarti lain kali bunda britania bantuin anaknya dong, bikin PR juga tuh bantuin supaya wafa bisa bantuin bunda britania lagi

Britania Sari
Britania Sari May 23, 2015 6:06 am

Sama-sama... :) :*

Retno Aini
Retno Aini May 21, 2015 11:45 pm

aduh kena banget.. tfs ya mama Britania, sudah diingatkan oleh cerita Wafa ini :)

Pryta Aditama
Pryta Aditama May 20, 2015 1:28 pm

waaaaa.. thanks for sharing ya bun..
reminder banget ini sih judulnya.. harus lebih sabar lagi nih nemenin bocah ngapa-ngapain.. anak-anak itu copycat banget yaa.. jadi kita yg harus aware sama sikap kita agar gak nempel yg jelek2 ke mereka.. :)

 

Anda harus Log In untuk memberikan komentar terhadap artikel ini.

Silakan Login di Sini