Bayiku Terlahir dengan Berat Badan Rendah

Oleh rifky fitria pada Senin, 29 April 2019
Seputar Our Stories
Bayiku Terlahir dengan Berat Badan Rendah

Hi Urban mama, saya hendak berbagi kisah pengalaman saat melahirkan anak pertama saya bernama Shadrina Qaisara. Sebentar lagi Shadrina akan berusia berusia 2 tahun. Tak banyak yang tahu, Shadrina terlahir begitu kecil dengan berat badan rendah.

Sejak awal saat anak saya masih dalam kandungan, saya tidak merasakan ngidam atau makan yang berlebihan. Malahan, saya merasa malas makan dan tidak nafsu makan tetapi semangat melakukan aktivitas yang cukup melelahkan. Pada saat itu, saya bekerja di perusahaan media di Jakarta. Di kantor tersebut, pekerjaan saya tidak pernah ada di kantor melainkan harus beraktivitas di luar kantor sampai larut malam. Saat usia kandungan berajak 2 bulan, saya menangani pekerjaan yang cukup menyita tenaga dan membutuhkan komitmen dan pemikiran ekstra. Tiba-tiba saja di suatu hari, keluar bercak flek coklat. Firasat saya, jangan-jangan keguguran. Segera saya periksakan ke dokter. Setelah pemeriksaan, kata dokter kandungan saya sehat, namun dokter menambahkan bahwa berat badan bayinya masih sangat kurang. Dokter pun memberikan suplemen susu tambahan dengan kandungan gizi khusus yang dapat membantu memenuhi asupan gizi saya, selain asupan nutrisi dari makanan sehari-hari. 

Bulan-bulan kehamilan pun saya lewati hingga menjelang usia kandungan 9 bulan. Saya mulai rutin ke dokter kandungan setiap minggu untuk pemeriksaan kandungan. Tetapi dokter berkata, berat badan bayi dalam kandungan saya hanya 2,5 kilogram, termasuk rendah untuk di usia kehamilan menjelang sembilan bulan. Dokter pun menambahkan, dari prediksi berat janin yang sekarang ini, nanti saat bayinya lahir kemungkinan beratnya akan menyusut menjadi 2,3 kilogram. Oleh dokter, saya disuruh mengonsumsi makanan manis seperti ice cream yang banyak mengandung susu untuk membantu menambah berat bayi dalam kandungan. 

Seminggu setelahnya, saat waktu istirahat di kantor, saya keluar jalan-jalan membeli es krim di restoran makanan siap saji. Saya sempat memaksakan untuk berjalan kaki saja ke lokasi restoran siap-saji tersebut. Sepulangnya dari membeli es krim, saya ke toilet dan menemukan ternyata keluar pendarahan seperti menstruasi. Panik rasanya, tetapi saya berusaha untuk tetap tenang dan langsung ke dokter. Untungnya Rumah Sakit tempat saya periksa kandungan itu lokasinya dekat dengan kantor saya. 

Setelah kandungan diperiksa, dokter mengatakan bahwa saya harus dioperasi sesar. Padahal minggu lalu saat cek kandungan, posisi bayinya bagus. Namun akhirnya operasi sesar tersebut diurungkan karena setelah melakukan pengecekan ternyata sudah ada pembukaan 1. Kaget juga saya, karena tidak merasakan hal tersebut. Setelah pemeriksaan, saya diperbolehkan pulang oleh dokter pada sore hari tanggal 28 Januari 2015 tersebut. Malamnya, perut saya sakit sekali dan pendarahan lagi cukup banyak. Langsung saya dibawa ke rumah sakit untuk bersalin. 

(Kredit foto: www.freedigitalphotos.net)

 

Tepat 29 Januari 2015 pukul 06.10 pagi, telah lahir Shadrina Qaisara. Shadrina lahir dengan berat badan hanya 2008 gram, atau sekitar 2 kilogram. Dia begitu ringkih dengan berat badan kecilnya. Namun alhamdulilah, Allah memberikan kemudahan karena produksi ASI saya luar biasa banyak untuk Shadrina. Saat pulang dari rumah sakit dan kembali lagi untuk pemeriksaan berat badan bayi, berat badan Shadrina sudah bergerak ke angka normal untuk bayi seusianya. Mulai saat itulah, saya bekerja keras mengoptimalkan asupan ASI untuk anak saya, menjaga agar beratnya berada dalam angka normal. Setelah anak saya bisa makan, saya bantu dengan asupan vitamin dan terus diperhatikan kondisinya. 

Bulan demi bulan, saya lewati hingga saat ini anak saya sudah berusia 2 tahun dan beratnya 12,5 kilogram, masuk dalam rentang berat badan normal untuk anak-anak seusianya. Terbayar sudah rasa sedih dan khawatir tak karuan yang saya rasakan saat mengandung dan saat Shadrina lahir dengan berat badan rendah. Dengan memperhatikan asupan gizi dan memastikan anak mendapatkan ASI dan kebutuhan nutrisi yang cukup, anak yang lahir dengan berat badan rendah dapat tumbuh sehat dengan berat badan normal. 

Kategori Terkait


Tag Terkait

17 Komentar
Sifa Fauziah
Sifa Fauziah May 18, 2017 4:05 pm

Halo mama shadrina alhamdulillah dede sudah normal berat badannya sekarang ya...

Anak saya pun lahir hanya 1900 gram namun beratnya sudah normal sesuai usianya sekarang.

Semoga semua sehat selalu :)

Elly Kurniawan
Elly Kurniawan March 30, 2017 11:08 am

Hai mama Sadrina,aq juga punya pengalaman bblr
babyku harus lahir di usia kandungan 36w2d dan pada saat itu berat nya hanya 2,2kg awalnya hanya di beri ASI namun karna khawatir tidak bisa mengejar bb normal seumurannya aq harus di dampingi sufor karna ASI ku saat itu tidak selancar dan sebanyak bunda
namun sekarang usia nya sudah menginjak 3th5bln dan dya sudah terlihat anak seusia 4th keatas
semoga anak2 kita selalu di beri kesehatan yah bunda

Siti Aisah Rukmini
Siti Aisah Rukmini March 2, 2017 3:56 pm

Hii Mama Shadrina...Mama yg hebat dgn perjuangan Asi nya, Putriku indira terlahir dgn berat 1050gram bulan depan usianya sudah 4thn namun berat badan nya kurang krn mempunyai feeding problem..perjuangan kita sama Moms untuk membesarkan bayi BBLR..semangat terus moms dan sehat selalu buat dede Shadrina..

Eka Gobel
Eka Gobel February 24, 2017 10:59 am

Terharu baca ceritanya. Selalu sehat yaa baby shadrina & mama rifky!

Cindy Vania
Cindy Vania February 21, 2017 1:27 pm

Halo Mama Rifky, anak pertama saya juga BBLR, waktu lahir beratnya 2,3kg saja. Tapi bersyukur karena tidak ada masalah lain dan kenaikan berat badannya bisa dibilang normal sampai sekarang :)

Semoga Shadrina sehat selalu ya mama.