Theurbanmama

Bermain Sesuai Usia Anak

“Mama sudah belikan mainan, kok tidak dimainkan”, “Sudah dibelikan mainan tapi malah lebih senang memainkan kotak mainannya”. Ungkapan tersebut tidak jarang terdengar dari para orangtua. Dalam membelikan mainan untuk anak, orangtua tentu ingin memberikan mainan yang bermanfaat untuk perkembangan anak kita. Namun kita juga perlu tahu tahapan perkembangan bermain dari anak kita. Dengan tahu anak kita berada pada tahapan perkembangan bermain yang mana, kita akan bisa memilih aktivitas bermain apa yang tepat dan bisa menstimulus dengan optimal perkembangannya pada fase usia tersebut melalui jenis permainan yang kita pilihkan.

Mengapa mengetahui tahap-tahap perkembangan bermain itu penting?


Jean Piaget, seorang psikolog pencipta konsep perkembangan kognitif pada anak, mengungkapkan bahwa ada 4 tahap dalam perkembangan bermain anak:

1. Tahap Sensory Motor Play (usia 0-2 tahun)

Bermain pada usia ini telihat dalam bentuk kegiatan bayi yang melakukan pengulangan dari gerakan tubuhnya atau kegiatan yang pernah ia lakukan sebelumnya. Anak akan mengulangi kegiatan-kegiatan yang ia rasa menimbulkan reaksi menyenangkan baginya, seperti memukulkan tangannya ke boneka di atas maka boneka tersebut akan berbunyi.

Contoh lain waktu anak anda pertama kali diberikan MPASI. Ia akan melemparkan sendoknya karena mendapatkan reaksi yang berbeda, selain dari suara jatuhnya sendok yang menarik perhatiannya juga dari suara kaget dari urban mama dan papa. Menginjak awal 12 bulan anak masih tetap melakukan pengulangan dengan modifikasi gerakan yang lebih aktif dan lebih banyak hal-hal baru yang ia coba. Di usia ini, anak lebih banyak bermain dengan mengandalkan inderanya oleh karena itu baik sekali memberi mainan yang menarik bagi indera peraba, pendengaran, penglihatan, perasa dan pergerakannya, karena menimbulkan respon menyenangkan bagi anak untuk dimainkan.

Jika pada usia ini anak akan diberikan mainan balok apa yang terjadi? Ia akan memasukkan ke dalam mulutnya untuk tahu sensasi rasanya, atau melemparkannya berulang-ulang untuk tahu suaranya hingga urban mama papa lelah mengambilkannya.

2. Tahap Symbolic Play atau Make-Believe Play (usai 2-7 tahun)

Pada tahap ini, anak mulai melakukan bermain peran atau pura-pura. Anak mulai bisa menggunakan benda lain sebagai simbol barang yang ia maksud, seperti menggunakan kotak mirip ponsel untuk kemudian dipakai pura-pura menelepon orang lain. Saat mencapai akhir tahap ini, akan terlihat anak lebih baik dalam melakukan bermain peran. Peran yang dimainkan menjadi semakin sulit dan beragam. Terkadang anak terlihat seperti sedang berbicara sendiri padahal ia sedang berperan menjadi orang lain atau pura-pura sedang berada dalam situasi khayalannya. Sebagai contoh anak berpura-pura sedang jadi super hero dan dalam misi penyelamatan. Jika pada usia ini urban mama memberikan mainan balok apa yang terjadi? Ia akan berpura-pura bahwa balok tersebut adalah kue (meskipun balok yang ia bentuk sama sekali tidak terlihat seperti bentuk kue), ia akan membangunnya menjadi sebuah benteng pertahanan dan berpura-pura bahwa itu adalah rumah raja. Pada usia ini, baik sekali memberi anak mainan yang bisa dikreasikan atau dibentuk macam-macam melalui mainan tersebut.

3. Tahap Social Games with Rules (8-11 tahun)

Bermain pada usia ini mulai terlihat lebih terstruktur bagi anak. Anak mulai menyukai permainan dengan aturan dan memiliki unsur persaingan dan kerja sama, Adanya unsur persaingan dan kerjasama ini melatih kemampuan anak dalam bersosialisasi. Anak mulai memiliki suatu tujuan pasti dalam bermain atau keinginan untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan bermain yang ia lakukan. Jika anak diberikan balok untuk bermain pada usia ini, maka ia akan mencoba membangun sesuatu dari balok semirip mungkin dengan petunjuk yang diberikan. Pada tahapan ini, sangat baik jika anak mulai diberikan mainan-mainan dengan aturan yang lebih “menantang” kemampuan berpikirnya.

Beberapa tips yang bisa urban mama dan papa lakukan sebelum membelikan mainan untuk anak adalah:


Pemahaman urban mama dan papa tentang tahapan perkembangan bermain ini baik pula untuk menyesuaikan ekspektasi kita terhadap anak. Ada masanya kita ingin anak sudah dapat memainkan suatu jenis permainan sesuai harapan kita. Namun jika jenis permainan yang diberikan tidak sesuai dengan tahapan perkembangan bermain anak, mainan tersebut menjadi sia-sia dan tidak terpakai.

Selain memilih jenis permainan, kita juga perlu lebih memahami akan manfaat besar bermain. Dalam dunia psikologi, bermain tidak hanya digunakan sebagai pengisi waktu luang dan memiliki fungsi untuk bersenang-senang semata. Namun memiliki kekuatan yang cukup besar sebagai media penyembuh trauma yang dialami anak dan media untuk meningkatkan self-esteem (keberhargaan diri) pada anak. Nantikan artikel selanjutnya ya yang akan membahas kekuatan besar dari bermain. Sampai jumpa lagi urban mama dan papa.

Devi Sani , Psikolog . Psikolog Anak di Klinik Psikologi Rainbow Castle, Jakarta Selatan. Praktisi Parent-Child Interaction Therapy dan Praktisi Therapeutic Play. Lulusan S1 Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung dan S2 Magister dan Profesi Psikolog Klinis Anak Universitas Indonesia.
Website: http://www.rainbowcastle-id.com/
Related Tags : ,,,,,
Apa Reaksi Anda ?
12 Comments
Post a Comment
You must be in to post a comment.