Membekali Anak Menghadapi Tekanan Sosial di Sekolah

Oleh ninit yunita pada Kamis, 02 Mei 2019
Seputar Our Stories
Membekali Anak Menghadapi Tekanan Sosial di Sekolah

Beberapa hari ini, ada sebuah thread yang menjadi perbincangan di sosial media yaitu mengenai sikap anak di sebuah sekolah mengenai barang-barang bermerek hingga gaya liburan. Saya tidak tahu apakah kejadian tersebut fiktif atau tidak tapi selalu ada hal yang bisa kita pelajari bersama. Pada intinya teman-teman di sekolah meledek karena sepatu yang dipakai harganya di bawah sepatu yang dipakai teman-teman lain dan pergi berlibur menggunakan pesawat kelas ekonomi bukan kelas bisnis. Sehingga sampai pada keputusan, orangtua memindahkan anak ke sekolah yang lain.

Saat membacanya, terus terang saya tidak merasa “relate”. Anak-anak yang bersekolah di sekolah tertentu yang dicap borju. Padahal pada kenyataannya tidak bisa digeneralisir demikian. Tekanan sosial di mana pun pasti akan ada tapi saya termasuk yang percaya bahwa nilai-nilai yang kita tanamkan pada anak-anak kita di rumah adalah akar yang kuat tertanam sehingga tidak akan goyah karena komentar orang lain.

Suami saya pernah menulis mengenai Syarat Hidup dan itu lah nilai-nilai yang kami bagikan dan terapkan pada anak-anak di rumah. Kami pun termasuk yang beruntung karena pada fase remajanya, anak sulung kami tidak memiliki pengalaman yang mirip dengan kejadian di atas, diledek teman-teman karena gaya hidup. Sepatu sekolah anak sulung kami adalah sepatu lungsuran dari saya. Sepatu lari yang sudah tidak saya pakai lagi. Saya pernah bertanya apakah anak saya memerlukan sepatu pengganti. Jawabannya? "Ini masih enak dipakai kok, Ma." Saya pun pernah bertanya padanya apakah teman-temannya pergi berlibur? Jawabannya? "Iya. Ada yang ke Bali ada juga yang ke luar negeri." Kalau tidak saya tanya, dia tidak akan cerita. Begitu tidak pentingnya untuk dia. 

Membekali Anak Menghadapi Tekanan Sosial di Sekolah

Kami selalu menerangkan bahwa setiap keluarga memiliki kemampuan ekonomi dan rencana keluarga yang berbeda-beda. Kalau kami tidak sering mengajak mereka berlibur karena kami memiliki prioritas lain seperti investasi. Jadi tidak perlu minder apalagi memandang beda kalau ada teman yang kemampuannya tidak sama. Bila ada teman yang memakai barang-barang branded, tidak apa-apa dan tidak salah. Kalau ada teman-teman yang berlibur, mari kita ikut senang. Tidak perlu merasa rendah diri. Yang salah adalah kalau kita menilai orang dari apa yang dipakainya. Merendahkan atau bersikap ekstra baik karena materi. Fasilitas yang kita miliki bukan sesuatu yang perlu dibanggakan. Suami saya bilang, kemapanan atau kekurangan orang bukan urusan kita. Mengutip dari Louis CK, seorang komedian yang mengatakan, "Never look at anyone else's bowl. The only time we look at someone else's bowl is when we know they don't have anything to eat and that we should help them.

Banyak kasus orang sukses yang berasal dari keluarga yang kurang beruntung, ditempa dengan keadaan dan menjadi lebih kuat. Sebaliknya, tidak bijak juga bila anak yang datang dari keluarga yang mampu dan meraih kesuksesan, mendapat komentar, "Ya wajar lah. Privilege, anak orang kaya." Masih ingat kan berita Maudy Ayunda yang mengagumkan karena diterima bersekolah di Harvard dan Stanford? Ternyata tidak semua orang berkomentar positif. Saya jadi "mengenalkan" anak saya pada pencapaian Maudy yang luar biasa berharap dia pun terinspirasi untuk belajar dengan semangat dan bahagia untuk memperoleh pendidikan yang setinggi-tingginya. Intinya, selalu motivasi anak untuk berusaha bukan fokus pada materi.  

Saya merasa lega karena banyak komentar melalui DM Instagram yang positif menyikapi berita yang viral di media sosial tersebut. Malah banyak yang berbagi pengalaman serupa mengenai sikap anak-anak terhadap materi.

Setiap orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya dengan versi yang berbeda-beda. Ada orangtua yang bisa saja memberikan uang tapi meminta anaknya berusaha. Ada anak yang menjual susu di sekolah. Ada juga anak yang "meminjam" uang orangtuanya untuk membeli sesuatu. Anak belajar untuk lebih menghargai uang dan bahwa segala sesuatu bisa kita dapatkan dengan berusaha.

Tidak hanya pelajaran di sekolah, banyak pelajaran kehidupan yang perlu kita terus ajarkan dan tanamkan pada anak-anak. Saya percaya, nilai-nilai yang baik yang kita ajarkan di rumah sangat penting menjadikan anak-anak kita lebih tangguh menghadapi dunia.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. 

Kategori Terkait


Tag Terkait

6 Komentar
Honey Josep
Honey Josep May 3, 2019 5:29 pm

Tfs Teh Ninit.

peer pressure does exist maka artikel ini sebagai pengingat untuk bisa mengajarkan anak menjadi bijak :)

ninit yunita
ninit yunita May 7, 2019 10:34 am

terima kasih udah baca ya hon <3

Febi
Febi May 3, 2019 3:33 pm

Selalu suka baca tulisan Teh Ninit dan Kang Adhit yang selalu bikin hati adem. #FamilyGoals banget <3

ninit yunita
ninit yunita May 7, 2019 10:34 am

awww febiii, alhamdulillah. makasih feb udah baca <3

Tyara Maryam
Tyara Maryam May 2, 2019 10:16 am

Teh, saya juga memiliki pemikiran yang sama dengan teteh. Kl tanggapan saya mengenai viralnya kejadian itu (beneran gag ya kejadian) orangtuanya bisa lebih bijak krn mnurut saya kl dipindahkan sekolah gara2 itu ya gag menyelesaikan masalah.

Terima ksh artikelnya ya Teh. A good reminder.

ninit yunita
ninit yunita May 7, 2019 10:34 am

hi tyara, terima kasih sudah baca ya :)

 

Anda harus Log In untuk memberikan komentar terhadap artikel ini.

Silakan Login di Sini