Menghadapi Asap

Oleh Syinthia pada Selasa, 20 Oktober 2015
Seputar Our Stories

Pertengahan bulan September 2015 lalu, asap tipis mulai tampak di lingkungan rumah kami. Saya otomatis membatin, “Sudah mulai bakar-bakaran lagi nih". Kami sekeluarga memang tinggal di Dumai, salah satu kota di Provinsi Riau. Sekarang saya memasuki tahun kelima tinggal di sini, pada tahun awal saya datang ke Dumai belum terasa sekali asapnya. Namun berdasarkan pernyataan dari masyarakat setempat yang lebih lama tinggal di sini, asap pembakaran lahan sudah menjadi hal biasa di Dumai, atau lebih tepatnya di wilayah sekitar Provinsi Riau.

Kali ini saya tidak akan membahas sebab terjadinya asap, karena sudah banyak media yang membahas hal tersebut. Saya ingin berbagi pengalaman bagaimana kondisi sehari-hari menjalani kehidupan sehari-hari dengan udara yang tercemar.

Setiap pagi saya berangkat ke kantor menggunakan sepeda motor. Saya memiliki seorang putri bernama Marsha (2,5 tahun). Setiap pagi Marsha ikut saya atau Papanya berangkat karena saya menitipkannya kepada seorang pengasuh yang rumahnya dekat dengan kantor saya. Hal ini kami lakukan karena lokasi kantor yang jauh dari rumah, dan sulit untuk mendapatkan pengasuh (terpercaya) serta belum ada daycare dengan fasilitas seperti di kota besar. Syukurlah saya menemukan pengasuh meski beliau tidak dapat menginap di rumah kami atau pulang-pergi setiap hari karena keterbatasan kondisinya. Hanya saja lokasi rumahnya dekat sekali dari kantor saya, jadi mudah bagi saya untuk mengunjungi Marsha sewaktu-waktu.

Biasanya saya berangkat sendiri dengan sepeda motor, dan Marsha di motor yang satunya lagi dibonceng oleh Papanya. Namun sejak asap turun setiap pagi, kami berusaha agar bisa berkendara di satu sepeda motor bertiga agar Marsha bisa duduk di tengah sehingga tidak langsung berhadapan dengan angin debu dan asap.

Perlengkapan wajib Marsha saat ikut berangkat setiap pagi dengan sepeda motor adalah jaket, kacamata, dan topi rajut model kupluk untuk melindungi kepala dan telinganya dari angin, kemudian belt khusus jika Marsha dibonceng papanya di bagian depan bangku sepeda motor. Sejak bencana asap terjadi, perlengkapan wajib Marsha harus ditambah dengan masker, sementara belt disimpan dulu karena saya yang bertugas memegangi Marsha di belakang. Saya membujuk Marsha agar betah menggunakan masker dengan memberinya contoh, dan menjelaskan kepadanya saat ini banyak debu dan asap yang dapat membuatnya sakit batuk.



Masker yang telah saya coba pakaikan ke Marsha selama periode asap antara lain masker buatan tangan dari kain perca bergambar (masker favorit Marsha karena ada gambarnya). Semenjak bencana asap, penjual masker ini menjamur di sepanjang jalanan kota. Masker perca ini tentu saja tidak maksimal dalam menangkis debu asap, karena materialnya hanya selembar kain perca tipis. Pernah juga saya pakaikan surgical mask berwarna hijau putih, lalu masker N95 seri 8511.

Masker N95 seri 8511 menurut saya cukup dapat diandalkan dalam menghadang debu asap dibanding masker lainnya. Saya menggunakannya dan memang terasa sedikit pengap, tetapi cukup membuat tidak rentan terkena radang tenggorokan atau batuk pilek. Kekurangan masker ini adalah kelangkaannya. Sekarang saja masker ini dihargai cukup tinggi, satu buah masker N95 8511 dijual seharga Rp50.000,-. Selain itu saya belum menemukan masker ini dalam ukuran kecil. Jadi setiap hari Marsha menggunakan masker yang kebesaran sehingga tampaknya ia menggunakan topeng bukannya masker. Namun jauh lebih baik menggunakan masker ini daripada tidak sama sekali.


Jika tidak bepergian, saya membiasakan Marsha untuk bermain di dalam rumah. Namun saat asap mencapai titik terparah dan masuk ke dalam rumah, saya mengajak Marsha bermain di dalam kamar yang ada AC, bermain role play dengan boneka-bonekanya, peralatan masak-masakan, dan figur binatang peternakan atau binatang alam liar. Jika Marsha bosan bermain peran, saya beralih dengan membaca buku atau bernyanyi. Jurus terakhir yang saya gunakan adalah menonton video surprise eggs atau playdoh, namun dengan waktu seminimal mungkin.

Tahun ini merupakan musibah asap yang terparah dan terlama. Biasanya jika pun terjadi, asap akan berlalu dalam jangka waktu sebulan. Tahun ini kondisi asap di kota Dumai telah memasuki dua bulan, udara tercemar tetapi belum ada tanda-tanda asap akan menghilang. Bahkan selain durasi, intensitas asap pun sangat parah. Terkadang asap menipis, tetapi kota tetap berkabut dan udara yang dihirup terasa menyesakkan. Tenggorokan perih, dada sesak serta mata pedih, mau tak mau harus dihadapi dan menjadi terbiasa. Dalam kondisi sehari-hari, ada saat di mana ketika bau asap tidak kentara, tetapi kalau terlalu lama berada di luar ruangan langsung mata terasa pedih, tenggorokan kesat dan lama-kelamaan kepala terasa berat dan pusing. Sudah pasti ini sangat menyulitkan warga untuk beraktivitas di luar ruangan. Dengan kondisi udara tercemar ini, anak-anak pun seharusnya tidak boleh bermain di luar, tetapi kenyataannya masih ada anak-anak yang bermain di luar dan akhirnya banyak yang sakit. Selama periode bencana asap, beberapa kali saya dan keluarga mengalami sakit radang tenggorokan atau batuk pilek.

Mengungsi bukan menjadi pilihan saya, karena terkendala masa cuti serta lokasi yang jauh dan transportasi. Tidak ada penerbangan dalam waktu yang cukup lama karena asap terlalu tebal. Bagi yang pilihan hidupnya terbatas seperti kami dan warga kota, yang terpenting dalam menghadapi asap adalah sekuat-kuatnya menjaga pertahanan kesehatan diri dan keluarga. Beberapa langkah yang saya lakukan untuk menjaga imunitas tubuh adalah:


  • Kurangi aktivitas di luar ruangan, jika berada di luar ruangan selalu gunakan masker pernapasan.

  • Di dalam ruangan, usahakan selalu menggunakan AC (air conditioner) atau kipas angin untuk membantu mempercepat sirkulasi udara.

  • Perbanyak asupan air mineral, buah, sayuran yang banyak mengandung Vitamin C dan E, serta konsumsi makanan berprotein tinggi seperti telur dan ikan.

  • Konsumsi madu dan/atau sari kurma 1 sendok makan per hari. Madu juga dapat mempercepat penyembuhan jika sakit batuk pilek.

  • Pada anak, selalu pantau kondisi dan berat badan anak. Jika berat badan anak menurun tanpa sebab yang jelas, segera periksakan ke dokter.


Musibah asap merupakan ujian kesabaran dan kekuatan yang cukup berat bagi sebagian besar rakyat Indonesia, khususnya di Sumatera dan Kalimantan yang harus menanggung kerinduan akan langit biru dan udara bersih yang diberikan secara cuma-cuma oleh Sang Pencipta. Semoga kondisi ini segera berakhir dan tidak terulang lagi di tahun mendatang.

20 Komentar
Honey Josep
Honey Josep October 27, 2015 11:51 am

huhuhuhu... semoga pemda cepat turun tangan menghadapi asap ini yaaa...

takecare mama Syinthia sekeluarga *peluk*

Syinthia
Syinthia October 23, 2015 10:33 am

@Mama Gabriella.. Aamiin Mama Gabriella, peluk cium dari Marsha. Terimakasih atas doanya Mama Gabriella.



@Mama Cindy.. Iya Mama Cindy, semoga upaya-upaya yang telah dilakukan membuahkan hasil, kangen main di luar ruangan dengan udara bersih.. hiks



@Mama Neneng.. Aamiin Mama Neneng, peluk cium kembali dari Marsha dan terimakasih untuk doanya.. :)



@Yanaaaaa sudah terbantu banget dengan gerakan Peduli Asap nya MBC.. Aamiin makasih doanya yang selalu diucapkan untuk kamiii Ibuu..
PS: Tulisan MBC Peduli Asap sudah disubmit, semoga segera diapprove Mamod. ^^



@Mama Prajnasarasvati, iya Mom sedih banget tapi hanya bisa pasrah saat ini. Aamiin aamiin atas doanya Mom..



@Ipryyyyttt.. Insya Allah selalu kuat dan sabaaar.. aamiin aamiin pryyytt makasih doa dan supportnya yaaa Bubun.. :*



@Mba Aini.. Terimakasih Mba Aini untuk perhatian dan supportnyaaa.. Iya Mba, warga seperti sudah terbiasa beraktivitas dalam asap hiks.. Semoga suara kita tersampaikan dengan tepat ya Mba..




@Mama Mitha.. Sama-sama Mba Mitha, Kabar dari temen di Pontianak masih turun hujan kadang-kadang sehingga intensitas asapnya gak separah di daerah lain..
Ini karena keadaan Mba, kita harus menyesuaikan. Jadi selain berdoa, cuma inilah yang bisa kita lakukan. Gear up!




@MJS Mommy.. di Jambi lebih jelek dari Dumai udaranya yah Mom.. Temen saya terpaksa mengungsikan anaknya ke daerah lain sementara dia tetep di Jambi karena pekerjaan. Sedih bangeeett harus pisah tapi belum tau kapan bisa kumpul lagi.. :( Mommy dan keluarga sehat selalu yaa.. Aamiin




@Mama Lia.. Sedih banget Mom hamil muda di lingkungan tidak sehat, semoga selalu dilindungi dan diberi kesehatan oleh yang Maha Kuasa ya Mom..
Warga disana persis dengan warga Dumai (rata-rata). Sepertinya karena sudah terbiasa jadi dianggap biasa.. padahal dampak paparan asap ini tidak langsung terlihat, namun fatal dalam jangka panjang..
Saya pun sebisanya ingetin Mom, namun liat juga pihak yang akan diingetin bakalan nerima atau enggak hehe..

lialialia October 22, 2015 5:22 pm

Mba Tia... saya tinggal di pekanbaru juga.. so.. merasakan hal yang sama :'( dan lagi sy lg hamil 3 bulan, jadi menjalani kehamilan ini selama asap itu bikin waswas. ga keluar rumah sama sekali, ac on, air purifier on. tapi herannya banyak orang di Pekanbaru nih seakan ga terjadi apa2, mama2 tetep ngobrol sore dengan menggendong baby nya, anak2 dan balita tetep aja main diluar kayak sekarang nih tetangga2 komplek pd asik aja maenan diluar... dilema mo negur... ga negur merasa bersalah, jadilah aq negur slowly tapi yahh...alhamdulillah ada 1 yg mo nurut, yg laen jawabnya "ah gapapa mba, kita udah biasa"
kasian.., tp gimana lagi...
semoga Bencana ini cepat berlalu.....

Olivia Geri October 22, 2015 2:12 pm

kabut asap ini emang uda langganan deh tiap tahun.. saya di Jambi pun merasakannya.. tapi emang bener kata mama Syinthia, tahun ini yang terparah.. uda memasuki bulan ke3 tapi kabut asap masih saja menghantui.. hanya bisa berharap semoga hal ini cepat teratasi..

Mitha
Mitha October 21, 2015 7:25 pm

Turut prihatin dan terima kasih sudah berbagi infonya ya Mbak Thia. Ini pas banget deh infonya datang di saat dibutuhkan, karena kami ada rencana untuk pindah ke Pontianak dalam waktu dekat. Semoga kami bisa setangguh dirimu menghadapi musibah asap ini. Take care ya Mbak Thia..