Menyusui Hingga Dua Tahun Lebih

Oleh musdalifa anas pada Senin, 24 Agustus 2015
Seputar Our Stories

Saya sering mendapatkan komentar negatif ketika beberapa ibu melihat saya yang sedang menyusui Yoona (27 bulan) di nursing room,

"Kok masih ASI bu, anaknya kan udah gede?"

"Emang bagus ya ASInya?"

"Bukannya kalau udah 2 tahun ASI udah mulai basi dan gizinya gak bagus?"

... dan sederetan pertanyaan lainnya.

Saya kadang membalas dengan senyuman saja. Ya, saat ini saya belum berhasil untuk weaning with love ke Yoona, putri kedua saya. Bukannya saya tidak ingin mencoba, tetapi belum berhasil saja. Beberapa kali saya meninggalkan Yoona keluar kota, saya pikir mungkin dengan saya bepergian dan tidak ada di sampingnya dia bisa 'lupa' untuk menyusu langsung. Ternyata tidak. Ketika saya di rumah, Yoona kembali menangis dan meminta untuk disusui. Ada beberapa saran lainnya seperti payudara diberi dedaunan pahit atau pewarna lainnya supaya Yoona enggan untuk menyusu, namun ini belum saya praktikkan. Saya tidak ingin moment indah ini berakhir dengan kisah yang kurang menyenangkan untuk Yoona.

Saya pun rajin membaca forum dan artikel tentang menyusui anak yang usianya lebih dari dua tahun (extended breastfeeding). Ada beberapa poin yang ingin saya bagi di sini mengenai manfaat extended breastfeeding:

Anak tidak mudah sakit dibanding anak seusianya yang tidak mendapatkan ASI. Saya merasakan ini, Yoona yang masih ASI hingga saat ini alhamdulillah jarang sakit. Meski Yoona sudah mendapatkan sebagian besar nutrisi dari makanan padat yang dia makan sehari-hari, namun ASI masih menyediakan kalori, kekebelan untuk anak, vitamin dan enzim yang dibutuhkan. Beberapa penelitian juga mengatakan hal serupa:


  • Anak balita yang disusui antara usia 16 dan 30 bulan telah terbukti lebih jarang mengalami sakit dan kalaupun sakit, durasinya lebih singkat dibandingkan dengan anak-anak yang tidak disusui. (Gulick, 1986).

  • Zat Antibodi banyak terdapat di dalam ASI pada saat menyusu”. Faktanya faktor imunitas meningkat pada tahun kedua dan pada saat menyapih (Goldman 1983, Goldman & Goldblum 1983, Institute of Medicine 1991).

  • Menurut WHO, "Peningkatan kecil saja pada tingkat menyusui/pemberian ASI, dapat mencegah sampai dengan 10% dari seluruh angka kematian anak di bawah usia 5 tahun: Menyusui/pemberian ASI memiliki peran yang esensial dan peran yang kadang diabaikan dalam perawatan dan pencegahan penyakit pada anak. 



Anak menjadi lebih pintar. Pemberian ASI telah menunjukkan bahwa anak-anak yang diberi ASI atau disusui dalam jangka waktu lama memiliki hasil pencapaian kognitif yang terbaik.


Anak memiliki hubungan sosial yang baik. Anak yang memutuskan untuk berhenti sendiri menyapih akan merasa lebih aman dan nyaman dibanding anak yang dipaksakan kemandiriannya (dipaksa untuk berhenti menyusu).



  • Menurut Elizabeth N. Baldwin, Esq. dalam 'Extended Breastfeeding and the Law': "Menyusui adalah suatu cara yang hangat dan penuh cinta untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan balita dan anak-anak. Tidak hanya menyusui menyenangkan bagi mereka, tapi juga meningkatkan energi mereka; juga menenangkan keputusasaan mereka, luka dan memar, dan stres yang timbul setiap hari dari masa anak-anak usia dini. Tambahan lagi, menyusui melebihi usia bayi, membantu anak melakukan peralihan secara bertahap menuju masa anak-anak mereka.”

  • Baldwin melanjutkan: "Memenuhi kebutuhan anak akan ketergantungan adalah kunci untuk menolong mereka mencapai kemandirian. Tiap anak akan bertumbuh dan akan meninggalkan kebutuhan akan ketergantungan ini pada jadwal unik mereka masing-masing.” Anak-anak yang mencapai kemandirian dalam waktunya sendiri akan merasa lebih aman dalam kemandiriannya itu dibandingkan mereka yang kemandiriannya dipaksakan sebelum waktunya.




Menyusui juga baik untuk kesehatan ibu. Pemberian ASI eksklusif untuk waktu yang lebih lama terkait dengan rendahnya resiko kanker payudara dan kanker ovarium untuk para mama.


Anak menjadi lebih mandiri. Anak yang menyapih dirinya sendiri akan jauh lebih mandiri karena ia mendapatkan rasa keamanan dan kenyamanan dari ibunya (ketika menyusu) sampai akhirnya ia berhenti sendiri. Pada saat ia memutuskan untuk berhenti menyusu, ia lebih mandiri. Menurut Kathleen Huggins, penulis The Nursing Mother's Companion: "When in fact, the opposite is true. Forcing a child to stop nursing before he's developmentally ready won't necessarily create a more confident child – rather, it could make him more clingy."






Banyak keuntungan lainnya yang saya rasakan dari extended breastfeeding ini, misalnya ketika bepergian keluar kota dan tidak menemukan susu UHT kesukaan Yoona, saya bisa langsung menyusui tanpa khawatir. Dan yang terpenting, bonding yang kuat antara saya dan Yoona terbentuk ketika saya bisa menyusui Yoona, bisa melihat mukanya sambil berbicara atau bercanda dan kadang ia pun membalasnya dengan senyuman. Momen ini yang masih belum rela 'kami' lepaskan. Saya pun tetap berusaha untuk menyapih Yoona dengan cinta. Biarlah Yoona sendiri yang memutuskan untuk meyapih dirinya sendiri dan dapat menentukan waktunya sendiri tanpa ada paksaan.


Untuk urban mama yang hingga kini masih menyusui meski si kecil sudah melewati usia dua tahun, tetap semangat ya :)


Referensi:



  • http://www.babycenter.com/0_extended-nursing-is-it-for-you_8496.bc

  • http://kellymom.com/ages/older-infant/ebf-benefits/#Immunological


Kategori Terkait


Tag Terkait

22 Komentar
Putu Sutrisna16
Putu Sutrisna16 October 22, 2016 9:36 pm

Saya juga masih nyusui nih si kk usia 25 bulan dan adik 4bulan..masih bisa nyimpan asip juga.

Retno Aini
Retno Aini September 7, 2015 5:06 pm

Enjoy it while it lasts ya Peh... bener kata Ella, nanti bakal kangen haha! gw juga dikomenin hal yg sama waktu Alma masih disusuin pas umur 2 tahun. Yah, kita yg paling tahu kebutuhan anak2 kita, pede aja deh ya hehe.

Honey Josep
Honey Josep September 7, 2015 2:40 pm

Semangat Ipeh dan Yoona :*

Siska Knoch
Siska Knoch August 30, 2015 11:20 am

owh.. Yoona udah mau disapih yaa cantik, semangat ya peh!

----

sidtaaaa… apa kabar? kangen!

musdalifa anas
musdalifa anas August 28, 2015 9:01 am

terima kasih urban mama, semoga kita bisa berhasil menyapih anak tersayang dengan cinta ya. Tetap semangat *peluk satu-satu*