Merantau ke Swedia

Oleh Melisa Zealanda pada Senin, 08 Oktober 2018
Seputar Our Stories
Merantau ke Swedia
Hejsan! Urban Mama dan Papa, kali ini saya hendak berbagi pengalaman tentang hidup di Swedia. Saat ini saya tinggal di Swedia bersama suami yang tengah menempuh studi kuliah.
 
Swedia adalah salah satu negara Skandinavia (selain Denmark dan Norwegia), yang mana terkenal dengan biaya hidup yang mahal. Saya kira ini cuma mitos karena 1 Swedish Krona = Rp 1.630 - Rp 1.690. Tidak semahal Singapore Dollar, pikir saya waktu sebelum berangkat. Sesampainya di Swedia, barulah terasa semuanya serba mahal dari harga bahan makanan, transportasi, sampai biaya ke dokter. Walaupun mahal, bukan berarti saya tidak senang hidup disini. Tidak ada macet, transportasi umumnya bagus dan terpadu, udara dan lingkungannya bersih, kotanya tenang dan nyaman. Terdengar seperti kota impian bukan?

Malmo Swedia
 
Malmo Swedia
 
Biaya hidup di Swedia sebenarnya terjangkau, kalau urban Mama dan Papa tahu triknya untuk berhemat, seperti bisa memasak. Harga sekali makan di restaurant cepat saji paling murah sekitar Rp 200.000, itu pun hanya 2 burger 1 kentang dan minum. Walaupun ada promosi paket hemat di hari-hari tertentu, tetap saja buat kami pribadi yang mesti makan tiga kali sehari kalau makan di luar terus-menerus biayanya sangatlah mahal. Selain itu, di Swedia sendiri ada kegiatan yang namanya Fika alias ngopi cantik. Sekali fika biasanya menghabiskan Rp 200.000 untuk kue dan minuman hangat. Kalau mau fika setiap hari, untuk pasangan yang hanya mengandalkan uang beasiswa sih lumayan mahal. Jadi untuk berhemat, kami hanya menikmati fika untuk saat-saat spesial saja.
 
Fika Malmo Swedia
 
Fika Malmo Swedia
 
Masak makanan sendiri di rumah adalah hal yang menyelamatkan keuangan keluarga saat merantau. Walaupun harga bahan makanan tidak semurah di Indonesia, makan di rumah lebih banyak menghemat dibandingkan makan di luar.
 
Malmo Swedia
 
Malmo Swedia
 
Bahan makanan murah bisa dibeli di pasar lokal. Mendengar kata 'pasar', sering yang terbayang adalah pasar becek dan bau, namun di Swedia pasarnya bersih sekali. Kalau mau belanja di supermarket, biasanya ada kupon-kupon promosi atau diskon setiap beberapa bulan. Kalau ada diskon barang-barang kebutuhan pokok, langsung borong saja semua yang bisa kami borong.

Transportasi umum di Swedia juga bagus, bersih, dan ramah keluarga. Para mama yang bawa stroller atau orang berkebutuhan khusus yang harus menggunakan kursi roda bisa naik trasnsportasi umum. Biaya kartu bus di Swedia per bulannya sekitar Rp 1.000.000. Dengan budget uang beasiswa sih sebenernya cukup, tetapi kami memilih untuk jalan kaki saja kalau pergike tempat yang dekat-dekat. Selain lebih hemat, lebih sehat pula. Saya dulu pakai kartu bus ini hanya dua bulan, karena setelah hapal jalan, hampir semua tempat yang kami rutin kunjungi bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau bersepeda. Malas jalan kaki? Urban mama dan papa bisa beli sepeda. Di Swedia kalo bersepeda sudah ada jalurnya sendiri, udaranya pun bersih, enak sekali. Coba bandingkan beli sepeda yang harganya sekitar 1000 SEK = Rp. 1.700.000, sedangkan kartu bus per bulan 550 SEK x 1700 x 11 bulan = Rp. 10.285.000. Jauh lebih hemat bersepeda, bukan? Namun kami tetap punya kartu bus yang isi saldo. Jadi kalau sesekali butuh bepergian yang agak jauh, tinggal pakai saja. Sekali jalan naik bus ongkosnya sekitar 22.5 SEK atau Rp.40.000. 
 
Malmo Swedia
 

 Setelah sampai di Swedia, jujur saja, barulah terasa kalau di Indonesia enak sekali saat sedang sakit. Bukan sakitnya yang enak, tetapi alih-alih bisa angsung datang ke klinik praktik dokter, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah menelpon Vårdcentralen. Vårdcentralen ini tempatnya semacam Puskesmas. Setelah ditanya nomor kartu identitas, barulah ditanya keluhan sakitnya apa saja. Kemudian petugas Vårdcentralen akan memutuskan apakah kita bisa bertemu dokter atau tidak. Kalau kecelakaan atau hal darurat, kita bisa menelepon langsung ke nomor gawat darurat. Perlu diketahui kalau Sabtu-Minggu tidak ada dokter, jadi kalau sakit di hari Sabtu atau Minggu bisa bertemu perawat jaga. Dan lagi-lagi, mereka yang memutuskan kita perlu bertemu dokternya atau cukup istirahat saja di rumah.

Bagi perantau yang tinggalnya lebih dari setahun di Swedia, mereka bisa mengurus personnummer atau semacam NPWP. Setelah memiliki personnummer sudah bisa membuat ID kord atau kartu identitas penduduk. Kalau kartu identitas dan kartu pajak ini sudah dipegang, maka urban mama atau papa dapat mengikuti kelas SFI (Swedish for Foreign) atau sekolah bahasa Swedia gratis dan mencari pekerjaan paruh-waktu. Di sini kerja jadi cleaning service hotel dibayar 125 SEK per jam (sekitar Rp 200.000). Kalau urban mama dan papa sakit, punya personummer ini biaya pengobatannya jauh lebih murah. Untuk membuka rekening bank dan menyewa apartemen pun urban mama dan papa mesti memiliki personummer dan ID kord. Kalau tidak ada, biasanya kita tidak bisa membuka rekening maupun menyewa apartemen. Di kota MalmÖ tempat saya tinggal, apartemen 2 kamar 1 kamar mandi dan dapur sewanya sekitar 5500 SEK per bulan. Sewa apartemen di tengah kota biasanya lebih mahal lagi.

Soal belajar bahasa Swedia, kalau tidak bisa membuat personnummer -seperti saya- jangan bersedih hati. Bisa datang ke perpustakaan kota, tiap bulannya mereka mengadakan kelompok belajar bahasa Swedia gratis. Bisa juga coba kerja jadi relawan, atau kalau di kota besar seperti Stockholm bisa mengajar bahasa Indonesia untuk anak-anak keturunan Indonesia di Swedia. Namun jangan takut kalau tidak bisa berbahasa Swedia, kebanyakan penduduk Swedia bisa berbahasa Inggris. Kalaupun mau belajar bahasa Swedia sedikit, bisa mulai dicoba dengan menghapalkan kosa kata sehari-hari seperti angka-angka dalam bahasa Swedia dari 1-100, mudah kok. Untuk mengisi waktu bisa berjalan-jalan keliling kota, ke perpustakaan, atau piknik sambil membaca buku di taman saat cuacanya cerah.
 

 Malmo Swedia

Yang menyenangkan disini adalah diskon, tiap musim ada diskonnya. Setelah saya lihat, diskon besar besaran ada di bulan Januari dan sekitar bulan Juli. Pada ublan-bulan tersebut, puas bisa berbelanja baju keluaran retail shop terkenal seperti H&M dan ZARA. Kalau beruntung, ada hari-hari di mana barang-barang yang sudah diskon 50% tambah lagi didiskon. Kadang saya yang awalnya biasa saja dengan merk-merk tersebut jadi gelap mata! Tetapi saat musim diskon inilah saat yang tepat untuk membeli kebutuhan sandang.

Malmo Swedia

Kami beruntung karena cukup banyak orang Indonesia yang tinggal di MalmÖ. Beberapa di antaranya aktif mengadakan kegiatan latihan tari untuk mempromosikan budaya Indonesia. Kalau ada festival yang diadakan di kota-kota di Swedia, biasanya mereka ikut berpartisipasi. Kalau kangen Indonesia, saya tinggal ikutan kumpul bersama ibu-ibu Indonesia di sini.

Sekian cerita mengenai kehidupan perantauan kami di Swedia. Semoga bermanfaat untuk urban mama dan urban papa.

 

5 Komentar
Rahayu Kojongian January 21, 2020 6:14 am

Assalamulaikum wr.wb hallo mba mellisa, mohon maaf sdh mengganggu wktnya. Ada yg ingin sy tnykan ttg ngra swedia, apa boleh sy mnt alamt emailnya mba? Trima ksh skl lagi mba

Ryry Khoiryah April 29, 2019 2:12 pm

Hallo Kak Melissa. Maaf sebelumnya ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan hehe
Bolehkah saya minta alamat email Kak Melissa? Terima kasih sebelumnya :)

Cindy Vania
Cindy Vania October 9, 2018 9:24 am

Wah swedia cantik bangeet!
Aku kok malah salfok sama cake yang menul dan tampak lezat itu yaa.. hahaha, sayang mahal yaah..

Suka deh kalau ada negara yang ramah buat berjalan kaki dan sepedaan gitu. Walaupun jarak tempuh jadi lama, tapi seru aja gitu yaa..

ninit yunita
ninit yunita October 8, 2018 3:20 pm

bener banget! yang terlintas kalau dengar kata swedia itu adalah serba mahal... tapiii udah terlanjur jatuh cinta sama negara skandinavia ini. apalagi baca-baca artikel dari mel... huhuhu pengiiin. negaranya cantik dan kualitas hidupnya juga tinggi yaa. semoga ada kesempatan ke sana suatu hari nanti. Aamiin :)