Pentingnya Adaptasi Batita Saat Pindah Rumah

Oleh Dewi Febrianti pada Selasa, 18 April 2017
Seputar Our Stories
Pentingnya Adaptasi Batita Saat Pindah Rumah

Moving house for me is exciting yet challenging. Setelah dua tahun tinggal di rumah orangtua saya di kawasan Jakarta Selatan, kami bertiga (saya, suami, dan Gio) pindah ke sebuah apartemen di Jakarta Timur.

Exciting karena saya selalu suka hal-hal baru, and akhirnya kami menemukan "jodoh" untuk tempat tinggal kami yang baru setelah sekian lama berikhtiar. Challenging karena meninggalkan comfort zone saya, di mana segala kebutuhan selalu ada dan tersedia, serta tidak perlu banyak berpikir. Dan kini kami hanya benar-benar bertiga, just the three of us

And here we go... 

Terlalu fokus dengan mengisi dan melengkapi satu per satu kebutuhan dasar rumah tangga. Ada satu hal penting yang terabaikan, yakni, adaptasi si kecil. Dua minggu pertama, anak saya Gio (dua tahun) terkadang masih uring-uringan dan gampang bosan. Bahkan, sering sekali tidurnya melebihi jam tidur malamnya karena belum terbiasa di kamar barunya. Pernah di hari pertama saya dan Gio mulai menginap di tempat baru kami, Gio mulai tidak betah. Bangun tidur sore justru menangis-nangis tidak karuan. Begitu juga malamnya yang sulit tidur dan menangis sambil mengatakan pengin pulang. Maksudnya adalah pulang ke rumah neneknya. Jujur, saya panik waktu itu, apalagi waktu itu suami masih di kantor. Akhirnya Gio pun tertidur dengan sendirinya karena lelah. 

Setelah "drama" itu saya menyadari bahwa usia batita (bawah tiga tahun) ternyata juga butuh beradaptasi. Saya pikir, Gio akan senang-senang saja di tempat baru kami. Toh, selama masih bersama ayah bundanya dia akan tenang. Selama ini jika menginap di hotel atau tempat lainnya dia baik-baik saja. Saya pikir dengan tetap adanya mainan-mainan favoritnya, Gio akan sibuk dengan mainannya di dalam kamar barunya.

Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. 

Sampai sekarang kelihatan sekali kalau Gio masih dalam beradaptasi di lingkungan baru. Yang biasanya rumah selalu ramai ada Nenek, Kakek, Tante, dan Om, kini lebih sepi karena hanya ada kami bertiga, bahkan sering hanya berdua dengan saya ketika ayahnya bekerja. Saat keluarga saya berkunjung, Gio terlihat sangat antusias dan bahagia sekali. Gio sering sekali bermain pura-pura menelepon Nenek, Kakek, dan tantenya untuk menanyakan lagi apa. Itu menunjukkan sekali bahwa Gio masih terbiasa dengan lingkungan ramai di tengah-tengah keluarga. 

Lalu, yang menjadi adaptasi Gio adalah ruang gerak yang terbatas. Terbiasa tinggal di rumah sejak lahir, kini tinggal di sebuah unit apartemen yang lebih terbatas ruang geraknya dibandingkan dengan rumah orangtua saya. Walaupun memiliki kamar sendiri, ia cepat merasa bosan dan sering minta keluar. 

Beberapa hal yang saya dan suami lakukan dalam membantu anak kami beradaptasi adalah:

1. Komunikasi
Sesering mungkin kami ajak Gio mengobrol bahwa kini kami tinggal di tempat baru dan menjelaskan tentang lingkungan barunya. Walaupun Gio selalu ikut ketika kami survei tempat, tapi kesalahan kami adalah tidak persisten sejak awal kalau kami akan segera pindah. Komunikasi selalu menjadi nomoer satu. Jangan anggap remeh anak itu belum mengerti apa-apa. Kalau bayi dalam kandungan saja bisa diajak berkomunikasi, apalagi anak batita yang sedang dalam masa keemasan kecerdasan mereka. 

2. Libatkan anak ketika membereskan dan membersihkan unit. 
Gio suka banget ikut-ikutan menyapu lantai atau menebah kasur dengan sapu lidi. Jadi saya biarkan Gio membantu. Anak senang jika merasa dilibatkan, ia akan merasa dihargai. Walaupun pekerjaan jadi selesai lebih lama, tapi positifnya akan terbentuk di pikirannya bahwa jika bangun dan mau tidur kasur harus selalu ditebah terlebih dahulu tanpa harus disuruh.


3. Sesering mungkin ajak main di luar. 
Gio adalah tipe anak yang sangat aktif. Bermain di dalam ruangan yang kecil menggunakan energi dan fisiknya pasti akan cepat bosan. Biasanya setiap pagi Gio kami ajak berjemur sambil sarapan. Lalu bermain di playground ataupun berenang. Gio suka sekali berenang. Bermain di luar benar-benar membuatnya senang. Energi tersalurkan dengan sempurna. Ketika terasa lelah, akan lebih mudah untuk tidur. Atau terkadang hanya sekedar jalan-jalan di area apartemen dan ke minimarket beli es krim sudah membuatnya senang.



4. Fun toys
Demi membuat si kecil sibuk tapi bermanfaat. Saya dan suami secara serius mencari-cari informasi mainan yang cocok buat anak aktif. Kami membelikan balok-balok mainan dan kereta baterai. Kedua mainannya cukup membuatnya fokus dan asik sendiri. Apalagi di kereta mainannya ada asap-asap kecil dari cerbong dan juga ada suara musiknya. 

5. Buku
Saya tidak lupa menyediakan buku-buku yang pastinya penting buat perkembangan anak. Untungnya Gio memang senang sekali dan sering meminta untuk saya atau ayahnya membacakan buku untuknya.  

6. Gadget
Gio tidak suka menonton televisi. Jadi di saat-saat tertentu untuk hiburannya saya memberi sedikit kelonggaran bagi Gio untuk menonton nursery rhymes, video huruf hijaiyyah, asmaul husna, surat-surat pendek, dan doa sehari-hari untuk anak yang sudah saya unduh sebelumnya. Tentu semua dalam pengawasan ketat dan saya tidak terlalu khawatir ia akan terus-menerus memegang gadget karena Gio tipe anak yang cepat bosan. Sering kali ketika sudah bosan ya sudah dia akan tinggalkan hp atau tab dan beralih ke mainan lain.

Kira-kira itulah pengalaman saya dalam satu bulan ini. Alhamdulillah semakin hari perkembangan proses adaptasi Gio semakin baik dan sudah lebih betah di tempat baru kami sekarang. Adakah Urban Mama yang memiliki pengalaman seperti saya? 

Kategori Terkait


Tag Terkait

14 Komentar
devita sari February 11, 2019 11:20 am

mom, kira-kira berapa lama ya gio rewel?
karena aku lg ngalamin, bener-bener sedih liat anak nangis pas malem karena pengen pulang (kerumah sebelumnya) huhu

Honey Josep
Honey Josep April 25, 2017 2:41 pm

Setuju! Walau balita, anak sudah bisa diajak berkomunikasi dan saya pun menerapkan "bicara orang dewasa" sejak anak anak masih balita.
Tfs mama Dewi

dieta hadi
dieta hadi April 21, 2017 10:50 am

tengkyu tips nya dewi!. Bener banget ya kadang pas pindahan kita suka lupa bahwa anak akan ikut serta pindah yg terkadang nyaman atau tidaknya anak suka kita skip ya, jadi dapet pencerahan nih buat mama-mama yang berniat pindah rumah.

Dewi Febrianti
Dewi Febrianti April 21, 2017 8:54 pm

iyess mbak Dieta, lesson learned bgt nih pengalaman kemarin hihi

Woro Indriyani
Woro Indriyani April 20, 2017 1:26 pm

TFS Mama Dewi, pas banget nih saya juga lagi siap siap pindahan menyusul Mama Ipeh dan Mama Dieta hehe. Awalnya ga kepikiran sama sekali tentang anak juga harus adaptasi, tapi akhirnya jadi mikir setelah baca artikel ini :)

Dewi Febrianti
Dewi Febrianti April 21, 2017 8:53 pm

yeaayy semangat mama Woro ! semoga lancar semua-semuanyaa yaaaa

Retno Aini
Retno Aini April 19, 2017 2:05 pm

Terima kasih buat tipsnya ya, mama Dewi. Iya sih, kalau pas mamanya repot pindahan, kadang kita lupa mempersiapkan si kecil buat masuk ke lingkungan baru. Dulu juga kami akhirnya mengajak anak main di lingkungan sekitar rumah dan ajak ikut beres2. Semoga proses adaptasinya lancar & makin betah di rumah yang baru ya :)

Dewi Febrianti
Dewi Febrianti April 21, 2017 8:52 pm

aamiin... makasih mama Aini :)

 

Artikel Terbaru
Senin, 09 November 2020 (By Expert)

Mengenal Lebih Dekat Rahasia Manfaat BPJS Sebagai Asuransi Proteksi Kita

Jumat, 25 Desember 2020

6 Keuntungan Tidak Punya Pohon Natal di Rumah

Kamis, 24 Desember 2020

Rahasia kecantikan Alami dari THE FACE SHOP YEHWADAM REVITALIZING

Rabu, 23 Desember 2020

Lentera Lyshus

Selasa, 22 Desember 2020

Different Story in Every Parenting Style

Senin, 21 Desember 2020

Menurut Kamu, Bagaimana?

Jumat, 18 Desember 2020

Santa's Belt Macarons

Selasa, 15 Desember 2020

Christmas Tree Brownies